BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
MENINGGAL DIKANTOR



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Ada apa dengan suami saya?” tanya Wina kalut.


“Sekarang ibu beritahu teman ibu biar saya bicara dengan orang yang saat ini ada dekat ibu. Saya ingin memberitahu arah rumah sakit,” sang penerima telepon malah tak mau memberitahu bagaimana kondisi suami Wina.


“Murti, orang ini ingin bicara denganmu,” Wina yang bingung memberikan ponselnya pada Murti.


“Ya hallo,” sapa Murti.


“Dengan teman bu Wina?” tanya orang itu.


“Benar,” sahut Murti.


“Mohon telepon jangan di-speaker dan ibu sedikit jauh dari bu Wina,” pesan orang itu.


“Baik sudah,”  Murti mengerti dan dia menuruti pesan itu.


“Tolong ibu temani bu Wina ke rumah sakit Sejahtera, nanti saya share lock. Pak Ahmad meninggal selesai melakukan salat Ashar. Bu Wina harus ada yang menemani,” orang itu memberitahu kondisi yang sebenarnya pada Murti.


“Baik, kami segera kesana,” jawab Murti berupaya terlihat tak ada hal yang mengejutkan.


“Mbak, ayok aku temani ke rumah sakit Sejahtera. Pak Ahmad dibawa rekan kerjanya kesana. Aku pamit ke bu Aurel dulu dan minta mas Yon antar kita kesana pakai mobil,” Murti berkata pada Wina dengan pelan.


***


Murti mengetuk pintu ruang kerja Aurel. “Masuk.”


“Maaf Bu, barusan ada telepon, pak Ahmad suami mbak Wina meninggal di kantornya. Kami mau berangkat ke rumah sakit Sejahtera. Tapi mbak Wina belum diberitahu kondisi suaminya. Saya mau izin agar mas Yon bisa mengantar kami kesana,” Murti bicara sangat pelan didepan meja Aurel.


“Innalilahi …,” kalian berangkat duluan. Saya hubungi pak Rajev dan Reza. Nanti kami nyusul. Biar saya yang telepon Yon. Kamu temani Wina beberes dulu,” Aurel pun ikut berbisik.


***


Aurel dan Rajev langsung menuju rumah Wina. Reza menyusul ke rumah sakit. Kakek Ikhlas Sebayang segera meluncur ke Jakarta karena Wina sudah lama menjadi pegawai perusahaannya.


Dennis dan Rangga yang mengenal Wina segera mengirim rangkaian bunga tanda ikut berbela sungkawa. Rangga tak bisa meluncur ke Jakarta karena istrinya baru saja melahirkan anak pertama.


Dennis segera mencari tiket untuk penerbangan terpagi dari Semarang.


***


Bu Tarida baru akan datang ke rumah duka esok menjelang pemakaman. Saat ini Aurel dan beberapa kerabat Wina serta staff kantor sedang mengatur rumah duka untuk siap menerima jenazah, tenda sudah dipasang. Ruang tengah sudah dikosongkan.


“Love, maaf ya. Kamu jangan cape ya. Ingat ada twins diperutmu,” Rajev tak berani melarang Aurel. Saat kondisi seperti ini mana bisa Aurel disuruh duduk manis? Tapi disisi lain Rajev ingat Aurel cepat lelah karena hamil. Dan itu tak baik.


“Iya Honey. Dari tadi Umma banyak duduk koq, sahut Aurel. Dan sejak tadi dia juga sudah mengenakan sandal jepit agar tak lelah.


Pukul 20.12 jenazah Ahmad yang sudah selesai dimandikan dan dikafani dari rumah sakit tiba di rumah duka. Murti terus berada disebelah Wina. Tas Murti dan Wina ada dalam mobil Yon. Begitu pun ponsel Wina, ada ditangan Yon. Semua pesan dan telepon ke nomor itu akan diurus oleh Yon.


“Ti, Yon. Saya pulang dulu ya. Semua urusan kalian handle. Biaya berapa pun kamu ACC saja Yon. Minta persetujuan dengan mas Reza. Besok pagi saya kembali. Saya takut besok tidak boleh datang bila saya lemah,” Aurel pamit pada Murti dan Yon setelah tadi sempat bertangisan dengan Wina.


“Iya Bu. Jaga kesehatan. Kami disini mewakili Ibu,” jawab Murti. Dia tahu kalau ngikutin keinginan, tentu Aurel maunya disini sepanjang malam. Tapi kondisinya sekarang beda karena boss-nya sekarang sedang hamil.


***


Aurel merendam kakinya dengan air garam hangat sebelum tidur. Tapi dia kembali mengunyah lumpia semarang yang barusan dia minta goreng sedikit untuk dia ngemil malam ini.


Aurel tahu apa yang Wina rasakan. Karena dia pernah merasakannya. Kata-kata hiburan kamu yang tabah, hanya ada dibibir saja bagi yang belum pernah merasakannya. Taka da yang bisa menerima kepergian mendadak belahan jiwa. Dari Murti Aurel tahu saat makan siang, Ahmad masih menghubungi Wina dan mengatakan I love you untuk istrinya itu.


“Jangan lupa minum vitaminnya Love,” Rajev mengingatkan Aurel. Dia tak bosan-bosannya mengingatkan hal itu, seperti Aurel yang ketika dia sedang pengobatan tak pernah bosan mengingatkannya untuk minum obat.


“Iya Honey, vitamin sudah aku minum tadi begitu tiba di rumah. Jadi sekarang boleh minum susuu untuk ibu hamil. Apa kamu enggak bikinkan mereka suusu?” tanya Aurel yang belum minum susuu malam ini.


“Aku pikir kamu belum minum vitamin, jadi aku tunggu jeda. Ok aku bikinkan,” sahut Rajev sambil berjalan ke dapur. Rajev memanaskan air rebusan kacang hijau untuk membuat susuu ibu hamil.


Entah bagaimana campuran rasanya. Tapi memang itu yang Aurel mau di kehamilannya kali ini. Hanya mau minum air rebusan kacang hijau saja. Kecuali memang dia minta.


Ngemilnya hanya mau kue lapis legit, tapi hari ini sejak siang dia ngemil lumpia semarang.


“Besok kamu enggak perlu terlalu pagi ya, dan enggak usah satu mobil dengan Kakek atau Ibu, takutnya kamu ingin lama di rumah Wina sehabis pemakaman. Sedang ibu atau kakek pasti langsung pulang,” Rajev mewanti-wanti Aurel sambil menyerahkan susuu hangat pada istrinya.


“Kita perlu bawakan makanan untuk anak-anak disana enggak? Atau minta Reza pesan nasi kotak buat semua orang disana? Atau kita kirim nasi dan lauk untuk prasmanan aja?” tanya Aurel. Wina hanya sendirian dia anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah tak ada.


Ibunya meninggal satu tahun lalu, sedang ayahnya meninggal saat Wina selesai wisuda.


“Sebaiknya kamu tanya dulu ke Reza. Takutnya sudah ada yang menghandle disana,” sahut Rajev.


“Oh iya bener,” Aurel pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Reza yang bertugas dirumah Wina.


“Semua makanan untuk orang yang ada di rumah ini di-handle oleh ibunya Murti Bu. Tadi sudah belanja gula, kopi, rokok. Sudah bawa kompor dan tabung gas serta peralatan masak dari rumah Murti. Juga sudah beli beras dan makanan buat besok sejak pagi hingga besok malam,” sahut Reza.


Rupanya Murti berinisiatif meminta ibunya untuk membantu Wina. Murti juga meminta ibunya menyiapkan dia baju ganti beberapa pasang hingga esok malam karena dia yakin tak akan bisa meninggalkan Wina sendirian.


“Alhamdulillah kalau sudah ditangani. Karena saya kepikiran untuk hal itu. Tolong ingatkan Murti agar memaksa Wina makan walau tak ingin. Saya tahu rasa ditinggalkan seperti itu,” Aurel meminta Reza menyampaikan pesannya pada Murti.


“Baik Bu. Akan saya sampaikan pada Murti,” sahut Reza.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta