
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Selanjutnya Rajev melajukan mobil menuju kantor agen perjalanan wisata gurun yang sudah dia hubungi untuk ikut tour hari ini. Mereka tidak terlambat. Masih dua puluh menit dari jadwal keberangkatan. Aurel tak lupa membawa masker dan ikat rambut.
“Harusnya kita pakai topi seperti penjaga villa di puncak, yang menutup kepala rapat,” Aurel teringat topi rajut khas yang digunakan oleh orang-orang di puncak.
“Kalau mau tertutup semua kamu bisa pakai jilbab dan masker,” sahut Rajev.
“Aku tidak membawa. Hanya ada mukena dan aku tak mau mukenaku kotor karena nanti aku salat gimana?” tanya Aurel.
“Ya sudah begitu saja. Biar kotor karena pasir, kamu tetap yang tercantik untukku,” rayu Rajev.
“Bharthave, kamu sekarang rajanya gombal,” Aurel tersenyum dan memeluk pinggang Rajev yang sedang berdiri didepan kursi yang dia duduki.
Rajev membalas dengan mengecup puncak kepala istrinya dengan mesra. Dia sudah mengerti arti kata KING OF GOMBAL yang Aurel sering sematkan untuknya.
Agen pemandu perjalanan yang Rajev pesan ini mengatur semuanya untuk semua peserta tour termasuk kendaraan dan makanan.
Ada dua pilihan menikmati keindahan gurun yaitu dengan menunggang unta atau berkeliling dengan kendaraan roda empat. Tentu Rajev memilih yang menggunakan kendaraan. Rajev hanya berfoto dengan menunggang unta, tidak untuk berkelilingnya. Rajev harus sangat berhati-hati, karena bukit-bukit pasir bisa menjadi sangat tidak ramah. Dia tak ingin Aurel terlalu kelelahan atau celaka.
***
Dua hari sejak wisata gurun Aurel dan Rajev pamit pulang pada Tristan dan semua sahabat Rajev sekalian dia mengembalikan mobil milik istri Tristan. Rajev juga meninggalkan semua barang yang ingin dia kirim ke Jakarta dengan alamat rumah Aurel yang selalu ada orang untuk menerima paket. Kalau dia kirim ke apartemen malah repot tak ada penerima barang.
“Terima kasih bantuannya selama kami disini,” Aurel mengucapkan terima kasih dengan tulus pada semua ‘saudara angkat’ Rajev. Suaminya dalam satu tahun pasti akan beberapa kali mengunjungi mereka, tapi dirinya belum tentu. Aurel tak ingin dia ikut Rajev ketika suaminya bekerja.
“Kami berharap kamu akan datang lagi kesini,” jawab seorang sahabat Rajev yang berasal dari Australia. Memang mereka ber delapan semua perantau dan menjadi seperti saudara karena merasa senasib di rantau orang. Persahabatan lintas negara dan agama.
“Semoga saja,” jawab Aurel cepat. Dia tentu ingin membawa putra putrinya melihat keindahan Doha.
***
Aurel dan Rajev berniat melakukan umroh ( Miqat ) sejak di Bandara Internasional King Abdul Aziz. Mereka sudah memakai ihram dan tempat berniat umroh. Bisa diartikan Miqat sebagai tempat start kegiatan ibadah umroh.
Saat itu Aurel seperti melihat bayangan Radit yang tersenyum manis padanya. Ini baru pertama kali dia melihat halusinasi nyata Radit. Sebelumnya bahkan lewat mimpi pun Radit tak pernah datang.
“Assalamu’alaykum Bang,” sapa Aurel pelan. Dia yakin Radit memang hadir menyapanya.
“Bharthave, tadi saat selesai memakai ihram, aku melihat abang Radit, dia tersenyum untukku,” saat menuju Masjidil Haram, Aurel bercerita tentang ‘kehadiran’ Radit tadi.
“Doakan dia. Dia bahagia melihatmu berada disini,” balas Rajev.
Ternyata hal yang sama dialami oleh Rajev di Masjidil Haram. Dia melihat sosok sahabatnya dengan pakaian ihram tersenyum manis padanya. Tanpa sadar Rajev segera menghampirinya, ternyata bayangan Radit segera hilang. Dia langsung mendoakan Radit.
***
Aurel dan Rajev tiba di bandara SOETA hari Kamis jam satu siang. Mereka akan langsung menuju apartemen untuk beristirahat terlebih dahulu. Bisa-bisa tiba di apartemen jam tiga atau lebih. Tak mungkin mereka langsuk ke rumah ibu Tarida karena terlalu lelah.
“Kita besok siang aja jemput sekolah Aira ya? Lalu langsung ajak anak-anak menginap di apartemen, gimana?” tanya Aurel. Di bukan tidak kangen pada kedua anaknya. Tapi dia sangat lelah. Aurel tak ingin menemui kedua buah hatinya dengan kondisi tidak fit sehingga tidak bisa menanggapi mereka dengan maksimal.
“Aku terserah enaknya kamu aja. Yang penting aku enggak ingin kamu cape masak dan ngurus rumah serta pakaian,” Rajev tahu istrinya sama dengan um’manya. Tak bisa diam bila menyangkut urusan istana milik mereka.
Rajev memutuskan makan siang di bandara. Dia tak ingin Aurel terlambat makan. Saat ini sudah hampir pukul dua siang. Mereka makan di pesawat tadi pukul 11.00.
“Love, makan yang banyak. Mengapa sedikit sekali porsi makanmu?” tanya Rajev.
“Ini cukup. Nanti aku tambah lagi,” sahut Aurel. Dia hanya makan steak dan kebetulan porsinya tidak terlalu besar.
“Ingat rumah makan yang dibawah apartemen? Atau rumah makan Padang seberang apartemen?” tanya Aurel.
“Kenapa?” balas Rajev.
“Habis mandi kita makan disana ya. Yang penting sekarang kita tidak kelaparan,” Aurel rupanya rindu makanan rumahan ala Indonesia. Hampir tiga minggu dia meninggalkan rumah. Dan dia rindu makanan yang pas dengan lidahnya.
“Aku setuju. Habis mandi kita makan di rumah makan itu,” jawab Rajev. Buatnya yang penting istrinya bahagia.
Rajev dan Aurel tak mau merepotkan orang lain. Sekali pun itu pegawai mereka. Pasangan ini memilih menggunakan taksi bandara untuk pulang ke apartemen mereka. Kedua mobil mereka ada di rumah bu Tarida. Karena Rajev ragu meninggalkan mobilnya lama di basement apartemen. Lebih nyaman meninggalkan mobil di rumah bu Tarida karena drivernya bu Tarida atau mang Ujang tiap hari bisa memanaskan mesin mobil.
Rajev dan Aurel tertidur di dalam taksi. Walau di pesawat sudah tidur, tapi rasanya tetap tak bisa nyenyak. Mereka terbangun ketika taksi keluar tol akan menuju apartemen. “Love, sudah mau sampai,” Rajev berbisik pada istrinya.
“Iya kah? Uang cash ada di dompetku Honey,” jawab Aurel masih terkantuk-kantuk.
“Uang cash ku cukup koq. Hanya kasih tahu aja biar kamu melek,” Rajev tersenyum sendiri melihat mata Aurel sulit terbuka.
“Ini Pak, kembali untuk Bapak saja,” Rajev memberikan beberapa lembaran merah pada driver taksi.
“Ini terlalu banyak lebihnya setelah ditambah uang tol Pak,” sahut driver bandara yang memang fasih bahasa inggris itu.
“Never mind. Itu rejeki Bapak,” sahut Rajev.
“Love, kita sudah sampai,” bisik Rajev.
“Serius?” tanya Aurel tak percaya. Rasanya dia baru saja tertidur.
“Buka dulu matamu untuk memastikan,” balas Rajev. Bagaimana dia bisa turun bila Aurel tertidur didadanya?
Masih dengan mengantuk Aurel turun dari taksi. Dia menunggu Rajev menurunkan semua barang mereka. Driver taksi dengan bainya membantu membawa semua barang hingga ke lobby apartemen. Disana satpam langsung membantu Rajev dengan senang hati.
Rajev penghuni yang murah hati. Tentu semua suka menolongnya. Dua orang satpam membantu Rajev membawakan barang hingga kepintu apartemen Rajev di lantai 12.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : THATYA0316, DENGAN JUDUL NOVEL PERNIKAHAN TANPA HATI YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta