
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Tentu saja hal itu membuat Rajev dan Aurel sangat bahagia, tanpa malu Rajev mengecup bibir istrinya sekilas, dan memeluknya erat. Tak henti-hentinya hamdalah keluar dari mulut Rajev dan Aurel.
“Kali ini saya resepkan obat untuk dua minggu kedepan saja ya Pak. Dan untuk Ibu tetap konsumsi susu pre kehamilan, serta ini obat penyubur dan penguat kandungan agar rahim Ibu siap menerima calon bayi kalian,” tukas dokter memutus kegiatan mesra dua orang di depannya.
Begitu mereka berada di luar ruang periksa Rajev langsung berbisik, “Terima kasih atas kecerewetan dan ketelatenanmu mengingatkan aku untuk tidak bosan dan terlambat meminum obat. Kamu yang terbaik untukku.”
Rajev akui, selain alarm di ponselnya, Aurel juga selalu mengingatkannya saat dia harus meminum obatnya. Ternyata Aurel juga memasang alarm di ponsel miliknya agar tak lupa mengingatkan Rajev minum obat.
Dari ruang dokter obgyn, mereka menuju ruang dokter anak. Sejak ibu mulai bisa bekerja, bu Tarida langsung aktive di poli anak, hanya jadwalnya tak sepadat sebelum sakit. Dan sekarang ibu menggunakan sopir full, tidak menyetir sendiri. Ibu sangat senang mendengar hasil pemeriksaan dokter. Dia berharap bisa segera mendapatkan cucu lagi.
“Ibu, habis ini kami kembali ke kantor ya,” pamit Aurel saat mereka sedang makan siang di ruangan ibu yang sudah selesai jadwal pemeriksaan hari itu.
“Ibu juga mau langsung pulang. Kamu jangan terlalu lelah agar kondisimu sehat!” nasihat ibu.
“Aku sedang mens Bu, jadi belum sekarang lah hamilnya,” jawab Aurel santai.
Sehabis makan siang bersama ibu, Aurel langsung diantar Rajev ke kantornya karena ada beberapa berkas yang wajib dia tanda tangani hari ini.
Sejak tadi Murti menghubunginya, karena mbak Wina sedang izin tidak masuk kerja. Kemarin suami mbak Wina baru periksa kesuburan setelah lima tahun menikah dan mereka belum diberi momongan.
Keluarga suaminya sudah mendesak agar mbak Wina diceraikan atau suaminya di suruh punya istri kedua agar mereka punya cucu dari suami mbak Wina. Tentu Aurel tak suka dan meminta mbak Wina serta suami periksa bareng seperti dirinya dan Rajev, agar tahu siapa yang lemah.
Aurel paling kesal bila pihak perempuan disalahkan bila dalam rumah tangga belum ada momongan.
Akhirnya mbak Wina berhasil memaksa suaminya untuk memulai pemeriksaan seperti yang Aurel dan Rajev lakukan. Kemarin hasil untuk mbak Wina bisa langsung terlihat bahwa mbak Wina sehat dan tak ada hambatan apa pun dirahimnya.
Hasil untuk suaminya menunggu minggu depan menanti hasil laboratorium. Mengetahui hasil kesuburan rahim mbak Wina sangat bagus, Ahmad suami Wina langsung shock dan dia saat ini sakit mendapati kenyataan itu.
Enggan disalahkan oleh keluarga suaminya, mbak Wina share hasil pemeriksaan kesehatannya di group keluarga agar dia tidak di diskredit oleh ibu mertuanya yang selama ini selalu mengatakan dia mandul.
***
“Masih ada lagi?” tanya Aurel pada Murti.
“Kalau yang mesti ditanda tangani sudah Bu, kalau laporan banyak. Ini berkas dari mbak Wina dan ini berkas dari pak Reza,” sahut Murti, salbil memberika berkas laporan yang datang melalui mejanya.
Aurel kembali focus pada berkas di mejanya. Dia tak peduli Rajev yang sedang duduk di sofa menanti dirinya kerja. Rajev bilang dia tanggung bila harus ke kantornya, maka dia lebih baik menunggu istrinya kerja.
“Ya Umma, hasil sudah keluar dan progressnya bagus!” lapor Rajev pada ibunya dengan bahasa Malayalam. Tentu umma-nya senang setelah mengetahui hasil pengobatan Rajev. Dia berharap Aurel dan Rajev selalu bahagia.
“Mbak Murti bisa panggilkan mas Reza?” pinta Aurel pada Murti sopan. Aurel tidak memerintah dengan kata : panggilkan Reza! Aurel berkata : bisa panggilkan?
“Mas Reza bisa jelaskan ini?” tanya Aurel penasaran dengan berkas yang Reza berikan.
“Itu memang selisihnya jauh Bu. Di upah tenaga kerja lebih rendah tapi di harga bahan baku lebih tinggi. Maka saya rubah sesuai kondisi lapangan dan laporan para penanggung jawab di sana,” jawab Reza mengenai revisi yang dia ajukan.
Reza melakukan revisi setelah pengecekan lapangan ke Lampung minggu lalu dengan team proyek yang akan memegang di lapangan. Dia juga telah diskusi dengan Yono, manager keuangan.
“Jadi revisi ini bukan hanya berdasarkan laporan team saja ya mas Reza?” Aurel tentu tak mau ada masalah lagi di lapangan.
“Bukan Bu, saya sudah survey sendiri, bukan hanya pada supplyer yang akan memasok bahan baku untuk kita saja tapi ke beberapa supplyer di sana untuk compare.”
“Saya juga sudah memastikan team bekerja bersih dan memperingatkan mereka dengan kasus sebelumnya serta memperlihatkan kondisi anak dan istri pekerja yang pernah bermasalah di proyek. Mereka harus berpikir ulang bila ingin menyelewengkan anggaran,” jelas Reza. Dia tahu pimpinannya sekarang tidak mau lagi ada kasus sehingga begitu sangat cermat.
“Ok, kalau begitu revisi saya ACC. Kira-kira kapan proyek jalan?” tanya Aurel.
“Kalau Ibu sudah ACC, minggu ini bisa mulai jalan Bu,” jawab Reza.
“Murti tolong panggilkan mas Yon deh kalau proyek ini akan jalan minggu depan. Sekalian minta juice dan snack ya Mbak,” tanggung kalau tidak dituntaskan maka Aurel meminta mereka cepat membahas hal ini.
“Selamat siang Bu. Ibu memanggil saya?” tanya Yon yang sekarang menjabat sebagai manager keuangan.
“Sini mas Yon kita ngobrol. Honey bisa ikut duduk disini?” tanya Aurel pada Rajev untuk langsung melibatkan suaminya dalam proyek di Lampung itu.
“Honey ini ada pengerjaan proyek di Lampung. Mas Reza bilang rencananya akan dimulai minggu depan. Apa saya masih boleh terjun ke lapangan?” tanya Aurel. Dia menggunakan bahasa Inggris dan kebetulan Reza dan Yon fasih bahasa itu dan Murti juga mulai kursus karena dia harus bisa meningkatkan kemampuan dirinya.
“Kalau minggu depan rasanya bisa. Toch kamu belum mulai hamil. Tapi begitu hamil kamu harus banyak diam di kantor atau malah terus di rumah saja,” jawab Rajev.
“Mas Yon, apa ini tetap bisa ada profit karena kenaikan bahan bakunya hampir tiga kali lipat.” tanya Aurel. Dia dan team tak menyangka kenaikan drastis bahan baku. Hal ini memang diluar kendali mereka.
“Kita tidak rugi Bu. Walau keuntungan tak sebesar saat kita tanda tangan MOU. Tapi dari sini nanti akan dilihat oleh user kalau perusahaan kita punya komitmen yang sangat serius terhadap tanggung jawab proyek. Sehingga nama perusahaan akan terangkat,” jawab Yon cermat. Walau dia baru lulus, bukan berarti perhitungannya tidak akurat.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : LILI ANTI \, DENGAN JUDUL NOVEL **FIONA ** YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta