BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
IZINKAN AKU MERINDUMU DALAM LEGAL!



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 “Fine, aku terima jawabanmu itu. Sekarang aku akan jujur padamu. Izinkan aku merindumu dalam legal!” Rajev mengatakan permintaannya tanpa ragu.


“Maksudmu?” Aurel malah bingung.


“Aku ingin kau tau, aku ingin kamu kembali menjadi wanitaku untuk kedepannya, selamanya,” jelas Rajev.


“Itu tidak mungkin, aku belum ingin memulai hubungan dengan siapa pun,” tolak Aurel sambil menggeleng. Radit belum satu tahun meninggal. Bagaimana dia diminta untuk menerima sosok lain?


“Aku tau akan mendapat jawaban seperti ini darimu. Namun kuminta jangan kau tutup pintu hatimu agar aku bisa memasukinya perlahan,” pinta Rajev dengan tulus. Rajev sudah memperkirakan akan mendapat jawaban ini.


“Kamu tau, rasa yang aku miliki padamu bukan perasaan sesaat. Ini sudah aku miliki saat kamu belum kembali bertemu dengan Radit. Dan saat kau bersama Radit aku langsung menyiram bara di hatiku agar padam. Karena aku tak ingin ada yang terluka.”


“Kamu ingat aku pernah terluka oleh pengkhianatan, maka aku tak akan membuat seseorang berkhianat atau seseorang terluka karena pengkhianatan. Cukup aku saja yang merasakan luka itu” desah Rajev sedih mengingat kegagalannya berumah tangga.


“Bara itu mulai menyala kembali beberapa waktu setelah Radit tiada. Aku sangat merasakan kehilangan sosok sahabat. Walau pertemanan kami baru sebentar tapi Radit dapat menjadi teman yang baik, Saat itulah aku baru tersadar ada sosok lain yang juga kehilangannya, yaitu kamu. Aku ingin kita merindukannya bersama,” Aurel terpaku ketika Rajev memegang jemarinya.


“Aku enggak tau kemana arahmu. Namun karena barusan kamu bilang pernah terluka oleh pengkhianatan, aku kembali teringat sumber utama pengkhianatan yang kamu alami adalah karena terbentang jarak antara dirimu dan mantan istrimu. Apa kamu enggak belajar dari kesalahan itu?” Aurel mengingatkan pencetus kegagalan rumah tangga Rajev.


“Tentu aku belajar dari pengalaman itu. Itulah sebabnya aku minta kita bicara, karena akan berimbas pada langkahku selanjutnya,” jawab Rajev cepat.


“Maksudmu?” tanya Aurel tak mengerti.


“Kalau kamu memberi bayangan mau menerimaku walau entah kapan, aku akan mengajukan permohonan pindah cabang. Dan kalau tidak disetujui, aku akan mengajukan pengunduran diri. Lalu aku mencari kerja di sini,” jelas Rajev dengan pasti.


“Namun sebaliknya, bila kau memberi jawaban tidak akan pernah menerimaku. Aku akan mengambil promosi yang memang sudah aku terima, yaitu di tempatkan di Libya” lanjut Rajev lirih.


‘Libya? Afrika? Bagaimana mungkin dia akan membuang dirinya ke benua itu?’ Aurel berpikir tentang langkah yang akan Rajev ambil.


Rajev memperlihatkan photo surat rekomendasi penempatannya di Libya yang ada dalam ponselnya. Aurel mengangkat wajahnya dari ponsel Rajev, dia melihat wajah Rajev yang terlihat sulit diterka. Ada duka diwajah itu. Dan Aurel tak suka melihatnya.


“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku akan pikirkan secara benar, kamu pulang saja dulu ke Qatar, tiga hari lagi akan kujawab,” balas Aurel. Tentu harus banyak pertimbangan untuk dia memutuskan menerima sosok Rajev disisinya.


Dia tidak ingin salah langkah dalam menentukan masa depan. Terlebih saat ini dia bukan gadis lagi. Dia harus memikirkan dua buah hatinya juga perasaan ibu dan kakek. Dan semua keluarga besar Sebayang.


Rajev akhirnya pamit karena esok pagi dia harus berangkat cepat ke bandara. “Besok pesawat jam berapa?” tanya Aurel.


“Jam 8.15 pagi,” balas Rajev sambil masuk ke mobilnya. Selama dia di Jakarta atau di Cilacap memang dia menggunakan mobil kantornya.


“Ok, hati-hati ya,” Aurel mewanti-wanti Rajev.


“Thanks babe!” balas Rajev.


“Jangan terlalu berharap, nanti akan sangat sakit bila kenyataan yang kau terima tidak sesuai harapanmu,” nasehat Aurel lirih.


Aurel belum berani menentukan langkah. Dia harus bertanya pada ayah Wicak dan ibu Tarida. Karena sekarang dia bukan gadis yang bebas terbang. Dia punya dua anak.


Rumah sepi, karena ibu, Aira dan mbak Nah serta mang Asep pergi ke rumah kakek di Cisarua. Aurel akhirnya berinisiatif membawa Darrel ke rumah ayahnya, sekalian ingin berkonsultasi masalah Rajev. Dia membawa mbak Yuni untuk mengawasi Darrel selama dia bicara dengan ayah nanti.


“Hallo jagoan Om, sudah besar aja ya kamu,” sapa Bagas pada Darrel. Dia menciumi anak yatim tersebut “Sehat terus ya gantengnya Om.”


“Ayah ada De?” sapa Aurel pada Bagas.


“Ayah lagi keluar beli paku tembok Mbak,” jawab Bagas. Pemuda itu sedang sibuk dengan peralatan motornya.


“Emang Ayah mau bikin apa? Kenapa bukan kamu aja yang beli?” cecar Aurel. Aurel tentu tak mengerti mengapa Bagas tak membantu ayahnya.


“Enggak tau ayah mau cari apa lagi. Mungkin sambil dia lihat apa yang belum terpikirkan. Ayah mau buat tempat gantung koleksi tanaman gantungnya,” jawab Bagas santai. Karena buka dia tak mau membantu, memang sang ayah yang ingin beli sendiri agar bisa melihat barang lain yang mungkin bisa memberi inspirasi untuk membuat sesuatu.


“Mengapa kamu hanya membawa Darrel, mana Aira?” tanya ayah saat dia tiba di rumah. Bagas malah tak memperhatikan kalau kakaknya tidak bawa keponakan perempuannya.


“Kemarin saat kak Aira ulang tahun, kakek enggak bisa datang ke Jakarta maka kakek minta dia datang ke Cisarua. Aku hari ini enggak bisa ke Cisarua karena sore mau ada tamu untuk pesanan pesta dan konsumen minta aku yang tangani langsung,” jawab Aurel. Dia tak ingin sang ayah salah mengira tentang dirinya.


Memang ayah Wicak dan Bagas tak diberitahu mengenai ulang tahun Aira. Karena Aurel tak membuat pesta sama sekali.


“Kirain kamu yang enggak mau ke rumah kakek,” duga ayahnya.


“Enggak Yah, dari sini aku akan ke toko untuk bertemu konsumenku,” jelas Aurel menegaskan perkataannya tadi.


Mbak Yuni membantu Aurel mengatur meja makan, tadi di rumah Aurel memasak tumis sawi putih dan ayam bakar kecap untuk ayahnya.  Makanan sederhana, tapi memang itu kesukaan sang ayah dan adik semata wayangnya.


“Mbak Yuni, Darrel kasih maem trus boboin di kamarku aja ya,” perintah Aurel. Dia ingin makan bersama Bagas dan Ayahnya sekalian bercerita.


“Baik Bu,” sahut mbak Yuni. Pengasuh itu langsung membawa Darrel kekamar untuk diganti bajunya lalu dia temani agar tidur siang.


“Kalau Darrel sudah bobo, Mbak langsung makan ya,” lanjut Aurel. Entah mbak Yuni masih dengar tidak karena sudah berada dikamar.


“Yah, semalam Rajev memintaku untuk menjalin hubungan kembali,” Aurel membuka pembicaraan mereka sambil makan siang. Bagas dan pak Wicak memandang Aurel dengan tatapan yang berbeda. Yang pasti mereka tak menyangka Aurel akan mendiskusikan hal ini pada mereka.


“Kembali? Apa sebelumnya kamu pernah berhubungan dengan dia?” tanya ayahnya pelan. Tentu pak Wicak takut salah menjawab.


\===========================================================


SAMBIL NUNGGU BAB BERIKUTNYA, MAMPIR KE CERITA BARU MILIK YANKTIE YANG BERJUDUL UNREQUITED LOVE YA



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta