
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Uppa, atu au inep,” sekarang yang menyambut kepulangan Rajev adalah jagoan kecilnya dan si kecil melaporkan kalau dia mau menginap karena telah melihat mbak Yuni memasukkan baju miliknya di koper kecil.
“Iya kah? Koq enggak kasih salim ke Uppa? Uppa diajak enggak nginapnya?” Rajev langsung menggendong putranya. Rasa lelah sehabis bekerja langsung hilang saat melihat senyum dan mata bening Darrel.
“Uppa au itut?” tanya Darrel dengan polosnya.
“Kalau Abang ajak, Uppa pasti ikut,” jawab Rajev. Mereka langsung masuk kamar Rajev dan Aurel. Dia dudukkan Darrel di tempat tidur dan Rajev langsung membuka sepatu serta semua bajunya.
“Abang duduk situ sebentar ya? Uppa mandi,” Rajev menyalakan televisi dengan film kartun dan dia membawa baju ganti yang memang telah Aurel siapkan. Istrinya sudah menyiapkan sejak Aurel lebih dulu pulang.
“Assalamu’laykum Bu,” Rajev yang telah selesai mandi menghampiri bu Tarida dan Aurel yang sedang santai di teras belakang rumah, dia cium kening istrinya engan lembut.
“Lho, kamu koq sudah mandi?” Aurel tidak tahu kalau Rajev sudah pulang. Dia bergegas membuat teh untuk Rajev.
“Wa’alaykum salam. Itu jagoan mengapa digendong Uppa?” tanya bu Tarida. Bu Tarida bersyukur cucu kandungnya memiliki ayah seperti Rajev yang sama sekali tak pernah mengecewakan dirinya. Itu memang yang dulu Radit dan suaminya perlakukan pada Aira yang jelas bukan darah daging mereka. Sehingga sekarang cucu kandungnya pun mendapat perlakuan sangat baik dari ayah sambungnya.
“Dia mau nonton terus dikamar, saya keluar dia ngambeg maunya ditemani,” sahut Rajev.
“Minumnya,” Rajev melihat istrinya membawa ubi rebus dan teh hangat untuk dirinya.
“Abang sudah waktu makan malam Uppa,” Aurel menyuapi Rajev ubi rebus.
“Tuh, kamu sudah waktunya makan. Sana makan dulu habis itu kita nonton sebelum kamu tidur,” Rajev menyuruh Darrel makan.
“Rel, koq ibu jadi kebayang ubi madu Cilembu yang dipanggang ya,” bu Tarida membayangkan ubi yang menetes cairan gula kental karena dipanggang. Itu sebabnya disebut ub madu. Biasa dari Cilembu.
“Besok pas kita mau masuk ke desa kakek kan ada yang jual tuh Bu,” Aurel mengingatkan dimana bisa mendapat ubu jenis yang diinginkan oleh ibu mertuanya.
***
“Kamu enggak ngajak aku ke rumah kakek?” tanya Rajev saat mereka sudah dikamar.
“Kalau aku bilang iya gimana?” Aurel malah bertanya balik.
“Koq kamu tega. Bukannya minta izin atau ngajak. Ini malah hanya membuat pengumuman” protes Rajev dengan wajah kesal. Aurel mengambil ponselnya, dan membuka aplikasi kamera.
“Lihat wajah ngambeg mu. Gimana Darrel enggak persis karena yang dia lihat kelakuan Uppanya seperti ini?” goda Aurel.
“Tentu saja dia mirip denganku karena dia anakku,” balas Rajev.
“Nah bener banget. Itu sebabnya aku hanya buat pengumuman mau ke rumah kakek. Karena seperti Darrel, tanpa diajak pun kamu pasti ikut,” Aurel langsung terkekeh.
“Kamu tu ya,” Rajev menjepit tubuh istrinya dengan gemas.
“Sejak kamu hanya baca pesanku tanpa membalas, aku sudah tahu kamu ngambeg,” Aurel membalas pelukan Rajev. Dia kecupi da-da suaminya sehingga membuat Rajev langsung melakukan serangan balik yang lebih gencar.
“Bharthave masa periode suntikan penunda kehamilanku sudah berakhir lho. Semoga benih yang kamu tanam barusan segera tumbuh ya?” Aurel sangat berharap segera mendapat momongan lagi.
“Aamiiiin, semoga saja harapan kita segera terwujud Bharrya, tapi memang bila kita tidak diberi tambahan momonga. Kamu jangan sedih. Karena kita kan sudah punya dua anak,” balas Rajev.
***
Akhirnya rombongan keluarga Aurel berangkat ke Cisarua. Aurel bersama dengan Rajev dan kedua anaknya dalam mobil Rajev. Sementara bu Tarida dengan driver bersama mbak uni dan mbak Nah.
“Uyuuuuuuuuuuuuuuuut,” teriak Aira begitu mobil berhenti dan dia membuka pintu. Kakek sangat bahagia melihat menantu serta cucu dan cicitnya datang mengunjunginya. Dan dari koper yang diturunkan kakek tahu anak cucu dan cicitnya akan menginap.
“Mbak, bilang bibik suruh masak nasi. Ingat nanti ada Mirna dan suaminya juga Bagas dan ayah. Jangan sampai nasinya kurang,” Aurel memberitahu mbak Nah yang sekarang sudah lebih leluasa karena momongannya sudah besar.
“Tadi ibu bawa ikan teri asin banyak Rel. Suruh bibik memetik bunga pepaya ya, biar ditumis pedas pakai teri asin,” rupanya bu Tarida ingat di rumah kakek ada pohon bunga pepaya ( pepaya gantung ).
Bagas dan ayah ternyata masuk hampir bersamaan dengan Mirna dan suaminya serta Vino. Vino merengek minta ikut pada Mirna ketika diberitahu sahabatnya ingin menginap di rumah kakek. Sejak SD Vino sering menginap disini dengan Radit dan Mirna.
“Kamu merencanakan acara ini berapa lama?” bisik Rajev. Karena semua langsung bisa berkumpul dan semua ‘siap’ dengan amunisinya.
Mirna membawa semur ayam cukup untuk semua makan. Memang hanya nasi yang tuan rumah perlu siapkan.
“Baru pas aku kirim pesan itu. Saat itu Reza laporan. Lalu aku ingin kasih tahu kakek. Itu hari Rabu kan? Pas makan siang,” balas Aurel.
Bagas membawa krupuk ‘melarat’ yaitu krupuk khusus yang rasanya enak dan konon digoreng dengan pasir, bukan dengan minyak.
Kalau tidak tahu, pertemuan ini seperti sudah direncanakan jauh-jauh hari. Rajev hampir tak percaya mereka semua bisa semangat berangkat ketika Aurel istri tercintanya memberitahu dia ingin menginap dengan keluarganya.
Makan malam special membuat semua bahagia. Nasi diatur di daun pisang yang digelar diatas tikar. Nasi sengaja diletakkkan sedikit sedikit agar tak banyak terbuang. Lauknya ikan bawal bakar kecap dengan sambal. Tumis bunga pepaya, semur ayam dan pepes ikan mas. Makanan sederhana tapi karena dimakan bersama-sama keluarga tercinta maka terasa sangat mewah.
“Suasananya sangat menakjubkan,” Rajev yang baru satu kali ini makan beralas daun pisang merasa takjub.
“Apa lauknya harus seperti ini?” bisik Rajev.
“Tidak ada keharusan. Ini dibeberapa daerah juga beda nama,” Aurel menyuapi Rajev kembang pepaya dengan teri.
“Ini enggak pahit ya? Tadi aku kira pahit,” gumam Rajev. Dia mengambil lagi pepes ikan mas.
“Kamu ada perlu dengan kakek?” tanya pak Ikhlas Sebayang, kakeknya Radit. Dia tahu kalau Aurel datang pasti ada sesuatu yang urgent.
“Iya Kek. Nanti ya sehabis makan,” jawab Aurel.
“Ayah mau nambah pepes ikan masnya? Ini kesukaan ayah kan?” Aurel menyodorkan pepes yang belum dibuka.
“Enggak. Ayah makan yang sudah dibuka dan ikan bawal bakar saja dulu,” jawab Wicak ayah Aurel.
“Ibu untuk ingat bawa teri. Enak banget tumis bunga pepayanya,” Aurel senang tumis bunga pepaya dengan teri asin yang ditumis pedas ini.
***
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : SITI FATIMAH, DENGAN JUDUL NOVEL ISTRI YANG TAK DIANGGAP YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta