
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Mau beli apa?” tanya Mahesa. Sejak tadi genggaman tangan Mahesa sudah Myrna tepis.
“Beli susuu coklat panas dan telur setengah matang untuk adikku,” sahut Myrna.
“Myrna, kamu dari mana?” tanya Ahisma yang baru datang.
“Tante, kapan datang? Aku baru beli telur setengah matang dan susu untuk Aurel,” Myrna langsung memeluk mertua adiknya. Mahesa baru jelas kalau Rajev memang asli India ketika melihat perempuan yang baru datang. Tadi Mahesa hanya berkenalan selintas saja.
“Mana Paman Chander?” tanya Myrna.
“Dia masih didepan. Masih menunggu Bagas untuk menyimpan koper kami di mobil karena kami benar-benar baru turun dari bandara,” sahut Ahisma. Saat itulah mereka berpapasan dengan Bagas.
“Umma yang suapin ya?” Ahisma mengambil telur setengah matang dan susuu coklat yang Myrna bawa.
“Iya Umma. Senang rasanya Umma ada disini,” sahut Aurel.
“Niatnya Umma bikin kejutan untukmu dan Rajev. Malah Umma yang terkejut begitu menyalakan ponsel banyak panggilan dari Raja dan Mishaa. Lalu juga banyak pesan masuk,” Ahisma membuka kulit telur hati-hati.
Myrna langsung keluar ruangan begitu memberikan telur, karena diruangan ada Rajev dan Ahisma. Kalau kebanyakan orang bisa ditegur pihak rumah sakit.
“Kamu mau salat Ashar?” tanya Myrna pada Mahesa.
“Dimana?” Mahesa memang belum melakukan kewajibannya lapor diri sore ini.
“Itu, jalan yang kekiri itu,” Myrna memberitahu. Dia sedang libur.
“Titip ya?” Mahesa memberikan sling bag dan ponselnya pada Myrna. Lalu dia pergi ke mushola.
‘Sudah sedekat itu?’ Vino melihat semuanya. Dia duduk dekat Wicaksono ayah Aurel.
Kakek Sebayang dan bu Tarida datang berdua menggunakan mobil kakek, diantar sopir tentunya. Sementara Aira dan Darrel mereka pulangkan dengan mobil bu Tarida.
“Assalamu’alaykum. Bagaimana perkembangannya?” tanya kakek pada pak Wicak.
“Barusan sudah pembukaan enam. Sekarang sedang ditemani ibu mertuanya,” sahut pak Wicak yang langsung berdiri menghormati orang tua itu.
“Saya masuk dulu sebentar ya,” bu Tarida masuk ruangan diikuti kakek. Aurel baru saja menghabiskan tiga telur ayam kampung setengah matang dan satu gelas sussu coklat hangat.
“Wa’ alaykum salam. Apa acara dirumah mas Reza sudah selesai?” yanya Aurel sambil memberi salim pada kakek yang menghampiri dirinya di brankar.
“Kan acara aqeqah dibikin makan siang. Ya sudah selesai lah,” jawab Bu Tarida. Dia menciumi pipi san kening Aurel.
“Kapan sampai sini?” tany bu Tarida pada besannya.
“Baru saja. Dari bandara langsung kesini,” sahut Ahisma sambil memberi salam pada besannya.
Bagas dan pak Chander baru sampai karena sehabis menaruh koper-koper mereka langsung ke masjid diluar rumah sakit.
“Pak Wicak, saya tengok Aurel dulu, nanti baru kita ngobrol ya,” Pak Chander hanya bersalaman saja dengan pak Wicak. Dia lalu langsung masuk ke ruangan.
“Kamu beli dimana? Bukankan dompetmu ada disini?” tanya Myrna melihat Mahesa datang membawa beberapa cangkir kopi panas dan beberapa botol kopi dingin.
“Kebetulan ada uang sisa makan tadi disaku. Depan mushola ada yang jual kopi, ya saya beli saja,” Mahesa meletakkan kopi yang dia beli di meja.
“Om Wicak, Vin, Gas, silakan minum,” Myrna menawari ketiga lelaki yang ada disana. Dia lalu mundur lagi duduk dekat Mahesa yang memegang dua botol kopi kemasan dingin tentunya.
“Nih,” Mahesa memberikan satu botol untuk Myrna.
“Kamu enggak apa-apa lama disini? Aku bisa pulang sendiri. Ada kakek kandungku juga tanteku sudah datang,” Myrna menerima botol kopi dingin dari tangan Mahesa.
“Kamu ngusir saya?” tanya Mahesa dingin.
“Enggak gitu. Saya cuma nanya aja,” jawab Myrna.
“Maaf, pak Rajev bisa bicara?” dokter Fitri datang ke ruangan Aurel. Memeriksa kondisi Aurel dengan menutup semua tirai agar yang ada di ruangan tak bisa melihat. Lalu mengajak Rajev bicara.
“Sebaiknya pak Rajev salat Maghrib tepat waktu. Sehabis salat Maghrib Aurel akan dibawa ke ruang bersalin. Saya yakin anda akan lebih tenang menemani Aurel bila sudah melakukan kewajiban. Dan saya yakin Aurel juga tak mau melahirkan tanpa anda temani,” dokter Fitri memberitahu Rajev waktu melahirkan semakin dekat.
“Baik Dokter,” jawab Rajev. Sejak tadi dia salat di ruangan. Tidak pergi ke mushola.
\===========================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta