BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
PERNIKAHAN DUA BUDAYA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Iya Kak, terima kasih sudah datang menengokku,” balas Aurel.


Hampir dua jam Aurel baru selesai didandani. Dan semua yang melihatnya akan pangling akan penampilan gadis Jawa dalam balutan baju pengantin India itu. Bu Tarida belum bisa berjalan jauh, maka dia menunggu putrinya di dekat meja ijab. Yang akan menemani Aurel sejak dari kamar adalah kak Amishaa dan budenya Aurel.


Perkawinan ini adalah pernikahan dua budaya. Walau menggunakan pakaian adat India, tetap untuk ritual adatnya menggunakan ritual Jogja.


Pukul 08.30 ritual adat akan segera dimulai. Masing-masing keluarga sudah bersiap diposisi mereka masing-masing


“Hadirin yang terhormat. Dengan mengucap Bismillah kitaa mulai upacara pernikahan antara Aurelia Putri Wicaksono dengan Rajev Aakaanksha Kumar!” MC mulai membuka. Dua MC bertugas memandu dengan empaat bahasa. Jawa, Indonesia, Malayalam dan Inggris.


“Acara awal adalah PANGGIH atau pertemuan. Panggih merupakan prosesi yang mempertemukan pasangan pengantin untuk disatukan. Kadang acara ini dilakukan hanya saat resepsi saja. Tapi keluarga Wicaksono melakukan sebelum acara ijab kabul atau kalau dalam bahasa India disebut NIKAAH.” Demikian MC menjelaskan apa ritual yang sekarang akan dilakukan.


Rangkaian prosesi panggih didahului dengan tarian edan-edanan oleh penari pria dan wanita dengan dandanan jenaka.


“Para hadirin, maksud tradisi ini memiliki makna bahwa pasangan pengantin berparas rupawan dianggap membutuhkan keseimbangan yang diwujudkan oleh penampilan abdi dalem dengan dandanan compang-camping. Tarian ini juga dimaksudkan sebagai penolak ruh jahat yang akan mengganggu jalannya upacara panggih, MC terus memberi narasi untuk para hadirin agar mengerti apa makna tarian ini. Bukan sekedar asal tarian.


“Selanjutnya, kita akan mulai dengan ritual berikutnya. Untuk keluarga calon pengantin laki-laki yaitu keluarga besar bapak Chander Kumar untuk bersiap mengantarkan mas Rajev Aakaanksha Kumar untuk melakukan PENYERAHAN SANGGAN,” MC memanggil keluarga Kumar untuk masuk ke lokasi acara.


Bude Retno mewakili adik kandungnya yaitu almarhum bundanya Aurel. Bude Retno mendampingi adik iparnya Wicaksono menerima sanggan, karena bu Tarida memang menyatakan tak sanggup mengikuti upacara ini. Awalnya Aurel meminta bu Tarida sebagai penghormatan pada mertuanya itu.


“Sudah kita lalui acara penyerahan sanggan dari keluarga Kumar pada keluarga Wicaksono. Sanggan merupakan simbol atau sarana menebus pengantin wanita. Wujudnya berupa dua sisir pisang raja matang pohon, sirih ayu, kembang telon ( mawar, melati, kenangan ), serta benang lawe yang ditata dalam satu wadah.”


“Tadi kita lihat pembawa sanggan berdiri di depan rombongan pengantin pria untuk kemudian menyerahkan sanggan kepada ibu pengantin wanitayang kali ini diwakili oleh bude Retno, kakak kandung almarhumah bunda pengantin perempuan.” demikian MC memberi penjelasan.


“Mari kita lanjutkan dengan acara berikut yaitu kedua mempelai akan melakukan BALANGAN GANTAL. Balangan itu artinya saling lempar, awas bukan asal lempar ya,” sang MC berupaya meredakan ketegangan dengan sedikit bercanda.


“GANTAL dalam bahasa Jawa bermakna sirih yang digulung bersama sebelah buah pinang, dan diikat dengan benang lawe. Lintingan gantal dibuat sebanyak enam buah dalam adat Jawa Yogyakarta, masing-masing mempelai berhak melempar gantal sebanyak tiga kali.”


[ Berbeda dengan adat Jawa Solo yang memberikan empat lintingan gantal untuk mempelai pria, sedangkan mempelai wanita memegang tiga lintingan gantal. Perbedaan prosesi balangan gantal pada adat Yogyakarta dan Solo hanya terdapat pada jumlah lintingan gantal-nya saja, tetapi esensi yang terkandung memiliki banyak persamaan.]


“Melempar gulungan sirih ini tidak asal lempar. Balangan gantal dilempar menuju area tubuh yang sama yaitu dahi, dada, dan lutut.”


“Area tubuh tersebut mempunyai arti khusus, lemparan gantal dari pengantin wanita yang diarahkan ke lutut mempelai pria disebut dengan gantal “gondhang kasih” berupa pengharapan agar sang suami kelak dapat mengayomi, sekaligus perwujudan baktinya kepada suami.”


“Di lain sisi, balangan gantal yang dilempar mempelai pria pada dada mempelai wanita dikenal pula dengan sebutan gantal “gondang tutur” yang menyimbolkan bahwa pengantin pria telah mengambil cinta pasangannya. Pada sasaran yang sama oleh mempelai wanita ke dada mempelai pria pun mempunyai sebuah arti sebagai pengharapan agar rasa kasih sayang mempelai pria senantiasa tumbuh dalam kalbunya.”


Aurel dan Rajev bintang utama prosesi ini mulai berdiri di posisi masing-masing. Keluarga Kumar yang memang senang dengan ritual adat memperhatikan apa yang dilakukan oleh Rajev. Rajev didampingi oleh Amishaa dan Vijay saat melakukan balangan gantal.


Aurel kali ini didamping oleh Mirna dan Bagas. Memang mereka sengaja bukan didampingi orang tua, karena orang tua sedang bersiap di lokasi ijab kabul.


Prosesi berlangsung diawali dengan Rajev dan Aurel yang berjalan berlawanan arah dengan didampingi oleh masing-masing dua orang kerabat yang mengapit mempelai. Lalu pada jarak sekitar dua meter atau kurang mereka berhenti, lalu acara saling melempar lintingan sirih atau balangan gantal pun dimulai dengan Rajev mendapat giliran pertama melempar gantal yang lalu dibalas oleh Aurel hingga gantal yang dimiliki keduanya habis.


“Dalam tradisi Jawa, balangan gantal atau lempar-melempar lintingan sirih cerminan dari sepasang mempelai yang melempar kasih. Gantal sendiri bermakna sebagai simbol pertemuan jodoh antara mempelai pria dan wanita yang telah menemukan belahan hati, dan diikat oleh benang cinta yang suci, jadi yang tidak berkasihan tidak usah saling melempar ya,” MC menutup ritual balangan gantal dengan manis.


Semua prosesi dijabarkan arti simbolnya sehingga hadirin bisa mengerti apa makna ritual tersebut.


“Setelah balangan gantal selesai maka upacara selanjutnya adalah WIJIKAN atau RANUPADA. Beda ritual wijikan Jogja dengan Solo. Walau sekarang banyak orang awam yang asal saja melakukan prosesi wijikan ini. Tentu saja kali ini mbak Aurel menjalankan yang versi Jogja sesuai dengan asal kedua orang tuanya,” sang MC menjelaskan Aurel akan mulai melakukan acara wijikan.


“Dalam bahasa Jawa, ‘ranu’ memiliki arti air dan ‘pada’ diartikan kaki, maka jika diartikan secara lengkap, ritual ranupada bermakna membasuh kaki.”


Dalam konteks ini, kaki yang dimaksud milik mempelai pria yang dibasuhkan oleh mempelai wanita. Ritual tersebut mencerminkan wujud bakti istri kepada suami. Selain itu, wijikan juga bertujuan untuk menghilangkan rintangan agar tercipta keluarga bahagia serta dijauhkan dari kesusahan dan marabahaya.


Rajev memandang Aurel yang berjalan ke arahnya tanpa berkedip. Pengantinnya sangat sempurna di matanya.


Wijikan dimulai  ketika kedua kaki Rajev sebagai mempelai pria masuk pada kotak persegi panjang yang telah diberi irisan daun pandan bercampur bunga melati


Aurel kemudian membasuh kaki Rajev dengan air bunga setaman. Setidaknya tiga kali Aurel membasuhkan air bunga setaman pada kedua kaki Rajev. Dilanjutkan dengan mengelap kaki Rajev hingga kering.


Setelah usai, Aurel sebagai mempelai wanita menghaturkan sembah sebagai baktinya. Rajev yang sudah kembali memakai selop ( alas kaki ), kemudian membantu Aurel berdiri dengan memegang kedua lengan atasnya. Ini merupakan wujud simbol perlindungan seorang suami kepada istri.


\=====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA :  MERPATI MANIS, DENGAN JUDUL NOVEL  HARTA TAHTA PERJAKA YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta