
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku menunggumu sangat lama hingga kamu selesai kuliah. Apa itu tidak membuktikan cintaku?” tanya Ahmad putus asa.
“Percuma kamu katakan mencintaiku, tapi tak bisa memperlihatkan bukti dengan memperjuangkanku ketika ibumu menyodorkan perempuan untuk kau nikahi,” jawaban Wina ini membuat Ahmad terdiam.
Selama ini dia memang hanya diam saat ibunya mendesak. Tapi dia tak pernah punya niat mengabulkan permintaan ibunya.
“Kamu bisa bilang percuma ibu menyodorkan calon, kalau kamu tak terima pernikahan tak akan terjadi!” Wina mulai emosi. Dia berkata seakan mengetahui pikiran suaminya.
“Tapi rekayasa akan bisa membuatmu terpaksa menikahi perempuan itu. Bisa saja kalian digerebek warga, atau hal lain yang skenarionya sudah dipersiapkan agar kamu tak bisa mundur. Ingat kelicikan akan bisa dilakukan siapa aja!” Wina turun dari taksi. Dia biarkan suaminya membayar argo dan dia segera membuka pintu rumah.
‘Astagfirullaaaaaaaaaah. Benar apa yang Wina katakan. Kalau belum ada hasil lab dari rumah sakit, bisa aja ibu membuat berbagai cara agar aku menikahi perempuan-perempuan itu. Bisa aja ibu pura-pura sakit dan mengatakan permintaan terakhir,’ Ahmad baru sadar kalau sesuatu itu bisa saja terjadi.
***
Aurel menggendong Darrel yang tertidur.
“Kak, pegang baju Um’ma jangan dilepas ya sayang,” perintah Aurel pada Aira agar tak terlepas dari dirinya.
Saat ini Rajev sedang mengurus koper-koper mereka. Keluarga kecilnya baru aja mendarat di bandara Calicut International Airport. Mereka berencana liburan di Tirur karena Aira libur sekolah.
Mobil yang menjemput rombongan kecil sudah siap. Rupanya Rajev meminta dia di bawakan mobil miliknya dan mobil untuk koper. Sehingga Rajev membawa anak dan istrinya dengan mobil pribadinya tidak dengan sopir keluarga yang dia minta langsung pulang membawa barang-barangnya. Rajev sengaja memutar dulu memperkenalkan kota tempat tinggalnya.
“Anak-anak lelah, mengapa kita tidak langsung pulang dulu? Bukankah kita akan beberapa hari di sini tidak seperti ketika kunjungan pertamaku dulu?” Aurel protes karena suaminya malah ngajak muter-muter dulu sedang Darrel tidur di pangkuannya dan Aira masih jet lag.
“Baiklah kita langsung ke rumah. Aku melihat kamu sekarang sering marah padaku,” rajuk Rajev sambil mengusap lengan istrinya dengan lembut.
“Aku enggak marah Honey, hanya menegurmu yang bertindak tidak melihat situasi. Kamu lihat kan anak-anakmu sedang kelelahan, mengapa kamu malah ngajak mereka muter sedang Aira yang terjaga saja tidak respon karena lelah,” Aurel mengemukakan argumennya agar Rajev mengerti mengapa dia bersikap seperti saat ini.
“Belum lagi umma pasti tidak sabar menantikan kita tiba, kamu pasti enggak tau bagaimana dia menahan rindu walau hanya tertunda beberapa menit saja. Dan dia pasti kecewa bila yang datang hanya koper saja. Please ngertiin aku ya, aku enggak marah!” kembali Aurel menjabarkan alasannya.
“Oh my God, bodohnya aku tak berpikir sampai ke sana. Benar, umma pasti kecewa saat melihat hanya mobil barang saja yang datang. Maafkan aku ya Love,” Rajev baru menyadari. Awalnya dia hanya berpikir hendak membahagiakan keluarga kecilnya, dia tak berpikir dampaknya untuk umma dan anak-anak.
Rajev segera mengarahkan mobilnya menuju rumah keluarga Kumar. “Mengapa kalian lama sekali? Kamu membuat Umma-mu sangat cemas. Dia berpikir kamu celaka!” Chander Kumar langsung menyambut keluarga Rajev, tidak menjawab salam tapi langsung menegur putranya.
Chander bukan pemarah. Dia sangat sabar. Tapi bila istri tercintanya mendapat sedikit saja kesulitan atau kesakitan, maka itu akan membuatnya marah. Seperti yang terjadi siang ini. Dia sangat marah melihat istrinya cemas.
“Maaf Uppa, aku memang salah. Aku jalan terlalu pelan agar anak-anak aman. Mereka terlalu lelah. Jadi aku memperlambat jalan mobilku,” sahut Rajev.
“Umma, miss you so much,” Aurel mencium punggung tangan mertuanya -Ahisma- sambil menggandeng Aira. Sejak turun mobil tadi Darrel sudah digendong oleh Rajev.
“Miss you too ENRE MARUMAKAl ( menantu perempuanku ),” Ahisma memeluk Aurel erat. Aurel membalas pelukan mertuanya.
“Kamu cape sayang?” tanya Ahisma pada Aira.
“Iya Ammuma,” Aurel mewakili Aira yang enggan menjawab sapaan neneknya.
“Kalian langsung saja ke kamar Raja. Jangan biarkan anak-anak sakit karena kelelahan,” Chander menyuruh Aurel segera naik.
Rajev membawa anak-anak ke kamar pribadi miliknya. Bukan kamar yang pernah Aurel tempati ketika mereka belum menikah. Kamar ini dua kali luas kamar yang Aurel tempati. Dikamar ini ada ruang tamu dan ada dua bed, satu ukuran king size dan satunya queen size.
“Cape ya sayang?” Aurel menepuk-nepuk pelan bo-kong putrinya agar tertidur. Kalau mengikuti aturan tentu dia akan menyuruh putrinya membasuh diri dan berganti baju dulu agar tidurnya lelap.
Rajev memasukkan semua koper yang memang hanya diletakkan di depan pintu oleh para maid.
“Love, kamu mau langsung mandi?” tanya Rajev.
“Ya. Boleh aku salat Ashar di kamar saja?” tanya Aurel.
“Boleh saja,” jawab Rajev.
“Kita tidur di kasur yang lebih kecil ya?” Rajev mengedipkan satu mata menggoda istrinya.
Aurel tak menjawab. Dia membuka kopernya dan mengambil baju ganti serta mengambil mukena miliknya. Dia sudah pernah ke rumah ini sehingga dia tahu arah kiblat di sini.
Sehabis mandi dan salat Aurel segera keluar. Dia akan turun ke lantai satu. Tidak dia lihat Rajev di kamar ini. Tentu dia takut anak-anak terbangun dan menangis karena tak ada dirinya dan Rajev.
‘Kamu di mana Uppa? Aku mau turun. Anak-anak tak ada yang menemani,’ Aurel mengirim pesan pada suaminya. Tapi ternyata ponsel Rajev ada di meja sofa kamar itu. Aurel mendengar notifikasi pesan masuk darinya sehingga bisa melihat ponsel itu disana.
Aurel memaksa keluar kamar. Dia akan mencari pegawai yang ada di lantai dua.
“Kamu lihat tuan Raja?” tanya Aurel pada seorang maid yang masih cukup muda yang dia lihat sedang membersihkan kaca.
“Tuan Raja sedang salat di lantai empat. Tadi saya melihatnya naik lift,” jawab maid itu.
“Nanti kalau dia kembali katakan saya ke bawah. Dan kalau anak-anak bangun, antar ke bawah ya,” Aurel memberi pesan pada maid itu. Dia sangat lapar dan serasa tak bisa menahan lapar ini.
‘Aku kebawah. Kalau anak-anak bangun mandikan sebelum mereka turun ya. Baju ganti mereka sudah aku siapkan,’ sebelum turun Aurel menyiapkan baju ganti untuk kedua anaknya.
***
“Um’ma, ada yang bisa aku bantu?” tanya Aurel pada Ahimsa yang sedang menyiapkan teh sore untuk suami dan anak serta menantunya.
“Apa kak Amishaa belum pulang kerja?” tanya Aurel lagi.
“Ini semua sudah rapi. Tak perlu kau bantu. Kakakmu sedang ke rumah mertuanya. Karena ayah Vijay sedang tak enak badan. Sejak Rajev memegang perusahaan, dia sudah tak terlalu sibuk di kantor,” jawab Ahimsa.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : BIGGEST , DENGAN JUDUL NOVEL SUAMI KEDUA ( TRADISI KELUARGAA SUAMIKU ) YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta