BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
ANCAMAN PAMUNGKAS



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Demikian sambutan saya pagi ini, untuk semua pegawai lama silakan ambil formulir pakta integritas di pak Reza. Mohon antri tak perlu berebut. Dan nama pegawai lama yang tertera di layar monitor ini mohon hubungi Ibu Wina untuk diberi penjelasan penempatan tugas baru. Sedang untuk semua pegawai baru silakan hubung ibu Murti, dia yang akan membimbing kalian.” Aurel memberi salam lalu turun dari panggung untuk duduk kembali disamping kakek.


‘Dia memang pemimpin sejati. Kemampuannya sedikit diatas Radit,’ kakek memberi penilaian gaya memimpin yang Aurel perlihatkan.


“Kita balik ke ruangan aja yok Kek?” ajak Aurel.


“Ok, habis ini kita makan siang bareng ama team ya. Sehabis itu kakek mau pulang ke Cisarua.” pinta kakek. Darrel mulai stabil sehingga kakek ingin istirahat di rumahnya saja.


“Kakek mau menu apa? Biar saya pesankan sambil nunggu anak-anak selesai bekerja,” sahut Aurel.


“Udah lama enggak makan Chinese food,” jawab kakek.


‘Kakek ngajak makan bareng. Dia minta menunya Chinese food. Saya mau pesan di bakmi gang kelinci aja. Kirim pesanan kalian apa biar saya pesan sekarang. Jam istirahat harus di ruangan saya. Bila pekerjaan belum selesai lanjut setelah makan siang saja karena kakek mau kembali ke Cisarua.’ pesan ini Aurel kirim pada Reza, Wina dan Murti.


Wina, Murti dan Reza mengirim menu makanan yang hendak mereka pesan. Dan tak lupa Aurel membeli untuk Rajev dan anak-anak di rumah.


***


“Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaa, alhamdulillah,” Aurel bersyukur mereka telah kembali tiba di rumah. Darrel dirawat sepuluh hari. Mereka pulang karena Darrel merengek tidak mau tidur di rumah sakit, sehingga Aurel memutuskan minta pulang paksa dan akan terus kontrol dua hari sekali pada dokter jiwa yang menangani Darrel.


“Umma, Uppa, istirahat dikamar ini ya,” Aurel mengajak mertuanya kekamar yang telah disiapkan.


Kedua mertua Aurel baru lusa akan kembali ke India. Selama Darrel sakit baru satu kali Aurel pergi bekerja saat penerimaan karyawan baru. Selebihnya dia tetap di rumah sakit. Waktunya full untuk Darrel.


Selama Darrel sakit, Amishaa dan Vijay tiap hari selalu memantau perkembangannya. Mereka tak pernah lelah memberi support untuk Rajev dan Aurel.


***


“Uppa, Umma  maaf Rajev tak bisa antar. Darrel belum mau ditinggal oleh Rajev,” Aurel dan Bagas melepas kepergian orang tua Rajev di bandara. Rajev tetap standby di rumah. Bahkan pekerjaan kantor dia kerjakan semua di rumah dan karyawannya terpaksa datang ke rumah bila ingin bertemu dengannya.


“Tak perlu sungkan seperti itu. Yang penting Darrel sehat. Buat kami bukan masalah besar Raja tak bisa mengantar kami ke bandara,” sahut Chander Kumar. Dia malah sangat senang melihat kedekatan hubungan batin antara putranya dengan Darrel.


***


Tak terasa sudah enam bulan usia pernikahan Aurel dan Rajev. Namun hingga memasuki bulan ke enam Aurel belum juga merasakan tanda-tanda kehamilan. Tentu dia cemas. Sebagai wanita, walau sudah ada anak dari Radit, tentu dia merasa resah. Dia takut dituduh tak ingin hamil anak dari Rajev.


“Assalamu’alaykum Kak. Saya ganggu Kakak kah?” tanya Aurel. Dia sedang ingin berbincang dengan Amishaa kakak iparnya. Aurel sengaja menghubungi kakak iparnya untuk tukar pikiran.


“Wa’alaykum salam. Apa khabarmu adik iparku sayang?” tanya Amishaa senang.


“Aku tidak terganggu. Vijay baru saja menidurkan Hiyaa ( Bahiyaa ), yang sedang rewel karena baru di imusisasi dan Zayn sudah tidur. Tumben kau menghubungiku hari gini,” Amishaa seperti biasa bicara tanpa rem.


Biasanya Aurel memang bicara dengan Amishaa setelah anak-anaknya tidur. Tapi kali ini dia menghubungi Amishaa agak sore waktu India karena Rajev sedang keluar mengantar ibu Tarida. Aurel ingin bicara tanpa didengar Rajev suami yang selalu tak bisa jauh darinya.


“Memang kenapa kalau kamu belum hamil? Bukankah kalian sudah punya dua anak?” tanya Amishaa tanpa rasa bersalah.


“Kaaaaaaaaaaaaaaak …,” Aurel sedikit merajuk.


“Benar kami sudah mempunyai dua anak, tapi kan itu bukan anak dari Rajev. Aku ingin punya anak dari Rajev. Aku tak mau dibilang tak ingin hamil anaknya,” lanjut Aurel.


“Bagi kami, Aira dan Darrel adalah anak Rajev. Dia cucu Chander Kumar dan keponakanku. Jadi kamu tak usah hiraukan omongan orang. Kami lebih tahu siapa kamu dari orang diluar sana,” jelas dan tegas Amishaa memberitahu pandangan keluarga besar Kumar.


Akhirnya Aurel tak mendapat solusi apa pun dari pembicaraannya dengan Amishaa. Selanjutnya mereka mengobrol hal umum tentang perkembangan anak-anak mereka.


***


“Bharthave bagaimana bila kita menjadwalkan periksa kesuburan?” tanya Aurel hati-hati pada suaminya. Saat ini mereka sedang perjalanan pulang dari kantor.


Sekarang Rajev sudah berhenti dari perusahaan minyak di Qatar. Dia membuat ‘kantor kecil’ di sebelah kantor Aurel untuk menghandle perusahaan besar miliknya di India.


Memang kantornya kecil tapi disinilah otak perusahaan miliknya dilakukan. Tugas Amishaa semakin ringan karena pimpinan sudah langsung dipegang Rajev. Dan Chander Kumar semakin senang karena bisa bebas keliling dunia bersama Ahimsa.


“Mengapa? Apa tak cukup dua anak yang sudah kita miliki?” tanya Rajev tanpa merasa terbebani dengan belum hadirnya anak dalam pernikahan mereka. Baginya sudah cukup Aira dan Darrel mengisi kehidupannya.


Aurel diam, dia ingat semalam dia bercerita pada kakak iparnya dan mengeluhkan sikap Rajev yang tak peduli pada ketakutannya yang belum memiliki momongan dari Rajev. Dan kak Amishaa pun sepaham dengan Rajev,  kakak iparnya mengatakan keluarga Kumar tidak mengharuskan Rajev mempunyai keturunan kandung. Karena bagi mereka Aira dan Darrel adalah anak Rajev dan keluarga Kumar.


Rajev yang melihat istrinya terdiam malah bingung, dia menepikan mobilnya di tempat aman agar bisa konsen bicara dengan belahan jiwanya ini. Rajev paling tak bisa menahan suatu persoalan. Dia selalu ingin menuntaskan pembicaraan.


“Dengarkan,” ucap Rajev sambil memegang dagu istrinya agar mereka bertatapan. “Tanpa anak dari benihku itu bukan persoalan, kita sudah memiliki dua anak, jadi kamu tak perlu merasa terbebani bahwa kamu belum ada anak dalam pernikahan kita,” Rajev mencium hidung mungil istrinya.


Memang untuk Rajev Aira dan Darrel adalah anaknya. Terlebih Darrel yang sejak dalam kandungan dia ikuti terus perkembangannya. Yang sejak lelaki kecil itu ada dalam rahim Aurel dia tak pernah lepas mendoakannya.


“Biar bagaimana pun aku merasa ada yang kurang, please kali ini kamu mengerti diriku. Aku ingin anak darimu. Kalau kamu tetap pada pendirianmu, maka seterusnya kita tak perlu making love,” ancam Aurel. Dia harus melakukan hal pamungkas ini agar Rajev menyetujui keinginannya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNREQUITED LOVE YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta