
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\============================================================================
“Apa mbak Aurel sudah sampai rumah?” tanya Radit saat bik Eneng menjawab teleponnya.
“Belum Den,” jawab bik Eneng bingung. Bukankah tadi Aurel berangkat dengan nyonya dan tuan?
“Kalau dia sudah sampai rumah tolong kabari saya ya,” pinta Radit. Radit resah, setiap setengah jam dia menghubungi nomor rumahnya namun Aurel tetap saja belum sampai rumah. Dia pun sudah berulang kali mencarinya dirumah sakit itu.
Saat ini sudah jam tiga dini hari, Radit mencoba menghubungi Bagas agar mendapat kepastian. Namun jawaban Bagas juga tak membuatnya tenang karena Bagas bilang Aurel tidak datang ke rumah itu.
Radit kembali ke ruang rawat inap, dilihatnya ibunya sedang kembali memeriksa Aira, juga mengambil sample darah untuk dibawa ke laboratorium. Petugas Lab sudah menunggunya dengan membawa kartu data Aira. Ayahnya sedang bersiap untuk pulang guna mengambil pakaian ibu agar besok bisa full menjaga Aira disana.
“Kalau di rumah ada Aurel, kabarin Abang ya Yah,”pinta Radit dengan putus asa.
“Ya pasti akan Ayah kasih tau,” jawab ayahnya sambil berlalu.
‘Kamu dimana love? Abang harus cari kamu kemana? Kamu bikin Abang cemas!’ Radit sangat takut bila Aurel kecelakaan atau mengalami musibah lainnya.
***
Habis salat subuh Aurel keluar kamarnya, dia siap menghadapi pertanyaan ayahnya juga menghadapi semua masalah dikeluarga Radit. Tak mau lagi menghindar.
“Kamu nginap sini? Koq ayah enggak tau?” tanya ayahnya bingung.
“Aku datang Ayah sudah tidur. Semalam aku butuh menenangkan diri Yah. Aira masuk rumah sakit, jadi aku merasa bersalah karena kemarin aku sampai maghrib ada di sini. Tapi habis mandi aku akan ke rumah sakit koq,” jawab Aurel tanpa ragu.
Dia membuat sarapan lalu segera mandi. Untung bajunya masih sangat banyak disini, sehingga dia tidak kesulitan bawa bekal baju untuk dibawa ke rumah sakit.
“Dek, pinjam uang lagi,” bisik Aurel pada Bagas dikamar adiknya.
“Kayak ama siapa aja pakai pinjem. Butuh berapa Mbak?” tanya Bagas ambil mengambil dompet dilaci mejanya.
“Dua ratus ribu, buat ongkos taksi dan nanti bila aku butuh beli makan,” jawab Aurel jujur.
***
Sehabis subuh Radit baru bisa tertidur, dia berbaring di sofa ruang rawat inap. Niatnya sehabis istirahat sebentar dia akan pulang untuk mandi dan mengambil baju ganti. Dia butuh bawa baju ganti karena akan tidur di rumah sakit agar ibu tidak full menjaga Aira.
Namun sebelum kembali ke rumah sakit dia akan kerumah mertuanya terlebih dulu untuk menemui Aurel, subuh tadi dia kembali menanyakan Aurel pada Bagas lewat chat BBM, dan adik iparnya bilang semalam Aurel memang datang kesana. Setelah tahu kabar dari Bagas itulah dia bisa tidur.
“Untung Abang nanyain Mbak lewat chat” jawab Bagas setelah memberitahu kalau Aurel memang kesana.
“Emang kenapa?” tanya Radit penasaran.
“Mbak pesan kalau ada yang telepon tanya tentang dia, jangan bilang dia disini. Karena Abang nanya lewat chat kan aku enggak salah ngasih tau yang sebenernya,” jawab Bagas konyol.
“Rel” sapa ibu dengan lembut.
“Gimana kondisi Aira Bu?” tanya Aurel sambil salim pada mertuanya, dilihatnya Aira sedang tertidur.
“Sepertinya dia butuh transfusi darah, dia kena DB ( demam berdarah ). Ayah lagi ke PMI mau cari darah yang cocok. Kamu enggak bareng Radit? Tadi dia bilang mau mandi lalu ngejemput kamu,” bu Tarida duduk di sofa karena sekarang yang duduk dikasur adalah Aurel.
“Engga Bu, Aurel ke sini sendiri,” jawab Aurel sambil memegang dahi putri kecilnya.
“Ya Yah?” sapa bu Tarida saat menerima telepon dari suaminya.
“Stock darah yang untuk Aira hanya tersedia satu kantong, masih kurang tiga kantong lagi,” pak Iskandar memberitahu istrinya.
“Ayah telepon Abang coba, kali aja darah mereka sama,” jawab bu Tarida.
“Ayah yakin enggak akan sama, karena ayah punya bukti Aira bukan anak Radit. Lagi kan jelas golongan darah Abang A sedang Aira B,” jawab pak Iskandar yang membuat istrinya tercekat.
“Ya sudah bawa yang ada dulu aja, nanti Ibu cari dari anak-anak perawat disini,” jawab bu Tarida cepat.
“Enggak usah disuruh juga ayah tau, ini sedang on the way koq, tapi ayah tetap akan telepon Radit kasih tau hal ini,” pak Iskandar langsung menutup sambungan telepon dengan istrinya dan dia langsung menghubungi Radit.
Radit baru saja salim dengan ayah mertuanya saat ponselnya berdering.
“Maaf, saya angkat telepon dulu Yah,” dia mohon izin pada mertuanya untuk menerima telepon dari ayahnya.
“Kamu sudah sampai mana Bang?” tanya pak Iskandar.
“Ya Yah,” jawab Radit. “Abang baru sampai rumah Aurel.”
“Aira butuh empat kantong darah, dan stock di PMI cuma ada satu kantong,” cerita ayah Radit.
“Abang akan segera kesana, biar Abang donor darah Abang aja,” bergegas Radit akan menuju rumah sakit.
“Kamu enggak akan bisa donor darah buat Aira, kecurigaanmu terbukti kalau Aira bukan anakmu. Golongan darahmu A sama seperti ayah dan ibu sedang Aira B,” jelas pak Iskandar.
“Ya sudah, Abang jemput Aurel dulu, lalu Abang segera ke rumah sakit,” balas Radit, dia bingung harus sedih atau gembira menerima kenyataan Aira bukan anak kandungnya.
“Aurel ada Yah?” tanya Radit pada ayah mertuanya.
“Aurel semalam datang saat ayah sudah tidur, tapi tadi jam 9 sudah berangkat ke rumah sakit bawa baju ganti, dia bilang mau nginap rumah sakit,” jawab ayah mertuanya.
“Kalau gitu Radit langsung ke rumah sakit ya Yah, Aurel enggak bisa dihubungi karena kemarin HP nya tertinggal di rumah, ini Radit bawa HP nya. Barusan ayah telepon Aira butuh darah, maka Radit mau cari darah buat Aira,” Radit langsung pamit tanpa duduk dulu di rumah mertuanya.
Saat berada dimobil Radit langsung menghubungi nomor telepon ibunya. Pagi tadi ayahnya sudah membawakan ponsel ibunya ketika ayah datang dari rumah.
“Bu, apa Aurel sudah sampai sana?” bisik Radit.
“Sudah,” balas bu Tarida singkat.
“Alhamdulillah, Abang putus ya teleponnya,” balas Radit. Tenang sudah hatinya mengetahui istri tercinta sudah berada dirumah sakit.
Radit masuk ke ruang rawat saat Aira baru di pasang selang transfusi darah. Putrinya sedang menangis dalam dekapan Aurel. “Putri cantik Mama enggak boleh nangis gitu, anak pinter enggak nangis ya,” bisik lembut Aurel sambil menciumi pipi dan dahi putri kecilnya.