
SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Hubungan dengan Yulia pun juga bukan faktor paksaan. Binsar bukan peminum, tapi dia suka judi. Itu penyebab dia selalu merasa kekurangan uang. Padahal hartanya masih cukup untuk dirinya dan anak bila dia memilikinya.
Kalau saat ini dia marah mungkin karena merasa Yulia sudah bertindak tanpa sepengetahuannya. Atau bisa jadi dia merasa dikhianati Yulia. Entahlah ….
“Aku enggak ngapa-ngapain Bang,” desah Yulia, dia sangat ketakutan. Baru sekali ini bertindak diluar skenario Binsar. Malah kali ini tindakannya sudah ketahuan.
“Kemarikan ponselmu!” perintah Binsar dengan geram.
Tanpa bisa menolak Yulia memberikan ponsel yang berada di saku dasternya. Binsar meraih ponsel dengan kasar lalu melihat riwayat panggilan. Dilihatnya panggilan terakhir adalah panggilan masuk dari nomor yang diberi nama A1 oleh Yulia.
“Iya Boss,” sapa suara lelaki di ujung telepon yang dihubungi Binsar dari nomor Yulia.
Binsar meminta Yulia bicara agar si penerima telepon menjawab semua pertanyaan suaminya.
“Jawab semua yang laki saya tanya. Jawab dengan jujur ya,” Yulia terbata mengucapkan kata-kat ini.
“Apa perintah Yulia buat lo?” tanya Binsar tanpa nada marah, dia ingin tahu dulu apa permainan Yulia.
“Ini kami udah sampe rumah yang Ibu boss suruh, ‘ni anak juga mulai mau sadar” jawab A1.
“Kalian ambil anak siapa dimana?” tanya Binsar penasaran.
“Anak yang Bu boss suruh namanya Aira, enggak tau anak siapa. Kami ambil di TK Persada,” balas A1 dengan jujur.
“Sekarang ikuti perintah saya. Dua jam lagi bawa itu anak kembali ke depan sekolahan tapi wajah kalian jangan sampai terlihat CCTV, berikan dia ice cream lalu tinggal dalam pagar sekolah, jangan di luar pagar,” Binsar mulai memerintah secara perlahan agar pesannya bisa dimengerti orang suruhan Yulia itu.
“Kalau kalian tertangkap itu tanggung jawab kalian sendiri. Atau kalian bisa bawa nama Yulia gue enggak peduli karena yang bayar kalian dia. Tapi kalau kalian akan terusin proyek kalian ama Yulia, gue kasih tau, lu bakal ketangkep dan membusuk dipenjara. Karena yang lu culik cucu mantan hakim.” Binsar memberitahu fakta siapa Aira sebenarnya.
“Walau tu hakim sudah meninggal tapi rekan-rekannya enggak akan tinggal diam buat bikin kalian membusuk dipenjara!” Binsar langsung menutup sambungan telepon dan menampar Yulia.
Binsar memang sengaja menyuruh dua jam lagi, karena dia takut saat ini di sekolah masih rame orang akibat kehilangan Aira.
“Kalau mau bertindak tu pake otak! Lu mau bikin semua rencana gue berantakan kalau sampe keluarga Sebayang tau siapa dalang penculikan cucunya?” bentak Binsar. Dia sangat marah terhadap rencana Yulia yang tanpa pemikiran masak sama sekali.
“Asal lo tau, sekarang si tua Sebayang udah tau kalau lu udah gue nikahin!” teriak Binsar. Dia tidak tau bagaimana mantan mertuanya mengetahui soal pernikahan sirinya dengan Yulia.
Hanya saat aqeqah Darrel, mantan mertuanya sempat berbisik “Saya tau istri sirimu pernah bilang akan menebus hak asuh anaknya ke Radit. Pasti kamu kan yang akan membiayai penebusan itu? Kalau sampai ada apa pun terhadap kedua cicitku, aku akan langsung menuduhmu dan istrimu sebagai dalang utamanya. Ingat itu baik-baik!”
Yulia meminta maaf, dia memeluk kaki Binsar erat-erat, karena ketika Binsar menamparnya tamparannya sangat keras dan membuat Yulia oleng hingga terjatuh.
“Ya Mbak” jawab Aurel yang menerima telepon dari mbak Nah. Tumben mbak Nah menghubunginya.
“Maaf Bu, saya kepala sekolah TK. Bisa ibu segera meluncur ke TK sekarang juga?” pinta kepala sekolah yang menggunakan ponsel mbak Nah untuk menghubungi Aurel.
Para guru sibuk berupaya menolong mbak Nah agar segera sadar. Mbak Nah baru sadar dan sedang diberi teh hangat saat Aurel memarkirkan mobilnya di TK. Aurel segera memasuki ruang kepala sekolah yang sudah menunggunya.
“Assalamu’alaykum Bu, mengapa Ibu menghubungi saya menggunakan ponsel mbak Nah. Dimana dia dan putri saya?” Aurel sangat cemas karena sekolah sudah sepi dan tak di lihatnya Aira.
“Wa alaykum salam, silakan duduk dulu Bu,” balas kepala sekolah berupaya menenangkan Aurel.
“Jadi tadi saat pulang sekolah kami enggak tau kalau mbak Nah enggak ada. Di CCTV sekolah kami lihat Aira keluar bersama sosok perempuan yang dari belakang mirip mbak Nah namun pakaian mereka berbeda. Mbak Nah ditemukan tukang kebun saat akan mengambil serok sampah sudah tak sadar di kebun belakang. Saat ini mbak Nah berada di ruang guru baru saja sadar. Mari kita kesana agar tahu bagaimana dia bisa tak sadar di kebun belakang,” ajak kepala sekolah pada Aurel.
“Ibuuuuuu,” pekik mbak Nah saat melihat Aurel memasuki ruang guru. Mbak Nah sangat takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Aira.
Aurel mendekati mbak Nah dan memegang tangan pengasuh Aira sejak berumur tiga hari itu. Dia tau mbak Nah mencintai Aira bagai anaknya sendiri. “Apa yang terjadi Mbak?
“Saya kebelet pipis 30 menit sebelum bell Bu. Saya pamit ke teman-teman sesama penjaga. Tapi pas keluar dari toilet hidung saya ditutup sapu tangan lalu saya enggak ingat apa pun. Saya baru tau kalau sekolah sudah pulang dari tadi. Saya belum tau kakak ( Aira ) ada di mana,” cerita mbak Nah sambil menangis.
Aurel langsung menghubungi kakek dan ibu mertuanya serta ayahnya dan Bagas mengenai penculikan pada Aira, karena mbak Nah di serang tentu tujuannya adalah menculik Aira.
Selanjutnya Aurel beserta mbak Nah, kepala sekolah dan tukang kebon sekolah melaporkan penculikan Aira ke kantor polisi terdekat dengan lokasi sekolahan. Setelah memberi data pada polisi Aurel dan mbak Nah langsung pulang karena ibu Tarida sudah menunggu di rumah.
Sepanjang jalan Aurel dan mbak Nah sama-sama terisak. Aurel berupaya konsentrasi menyetir agar tidak mengalami kecelakaan.
“Ibuuuuuuu,” Aurel berhambur memeluk ibu mertuanya yang juga sedang menangis. Seisi rumah sedih. Biar bagaimana pun Aira adalah putri Radit dan cucu tercinta pak Iskandar.
“Kamu tenang, kita tunggu polisi bergerak ya,” bujuk bu Tarida pada menantunya “Kita masuk yok,” dia memapah Aurel yang tampak lemah. Tarida tahu untuk Aurel ini cobaan berat sepeninggal Radit putranya.
“Assalamu’alaykum,” sapa Bagas pelan dirumah mertua kakaknya. Tadi dia sedang berada di kampusnya akan masuk ruang kelas ketika menerima telepon dari Aurel. Bagas langsung kabur dari kelas tak jadi ikut pelajaran saat mendengar Aira hilang.
Walau Aira bukan anak kandung Aurel, tapi Aira adalah buah hati bang Radit dan mbaknya. Dia bisa merasakan sakit dan bingungnya pikiran kakak satu-satunya yang sudah dia anggap sebagai ibunya itu. Setelah Radit meninggal, tentu cobaan ini tak main-main bagi Aurel.
\========================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta