
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Mas, kita enggak perlu hal lain kan?” tanya Murti. Yang tadi mereka bahas adalah biaya untuk makan yang Murti akan pesankan di cattering. Dia tak mau ibunya lelah memasak.
“Kita pakai baju sarimbit yok Jeng?” usul Yon.
“Di Jakarta gini dimana kita mau cari toko pakaian batik sarimbit Mas? Kalau harus bikin, ya enggak keburu. Kita belum punya bahannya, dan menjahit itu minimal butuh waktu satu minggu kalau kita pesan jasa ekspress,” sahut Murti.
“Di mall besar banyak Yank. Besok sehabis pulang kerja kamu enggak ngelatih tho? Pamit ke ibu aja kita pulang telat karena mau cari baju,” sahut Yon.
“Baiklah,” sahut Murti.
***
“Mas Reza. Proyek lanjutan Lampung bagaimana progressnya?” tanya Aurel sambil lalu saat makan siang di rumah makan Banyuwangi. Aurel sedang kepengin makan rujak cingur dengan bumbu petisnya yang banyak.
“Mas Yon kemarin habis bahas dengan team marketing. Gimana mas Yon?” Reza malah melempar ke Yon.
“Sedang kita godog Bu. Konsumen bertanya tentang perubahan budged, tapi team keuangan sudah memberi compare data saat MOU pertama dengan realisasi harga bahan baku. Agar mereka mengerti walau ‘rugi’ proyek pertama kita tetap lakukan dengan speck sesuai kontrak tanpa pengurangan kualitas bahan,” sahut Yon.
“Untuk MOU kedua nanti, yang berangkat mas Reza ya. Kalian tahu satpam enggak akan kasih saya pergi,” Aurel memberitahu Rajev tak akan memperbolehkan dia keluar kota apalagi luar pulau.
“Pak Reza dengan Murti Bu,” Wina memberitahu. Tak mungkin Reza tanpa pendamping.
“Siap,” sahut Murti.
“Tapi sekali-kali dengan kamu enggak apa-apa Win. Kan sekarang saya ada Murti di kantor,” sela Aurel. Selama ini Wina jaga gawang karena kantor kosong. Sekarang setelah ada Murti, mengapa Wina tak diberi kesempatan dinas luar?
“Saya manut,” sahut Wina.
“Kalau Yon dan Murti yang berangkat, mereka bisa langsung bulan madu ya?” goda Reza.
Semua tertawa. “Nanti kita buat order luar pulau saat mereka sudah resmi menikah,” sahut Aurel. Kemarin memang Murti dan Yon memberitahu kalau mereka sudah resmi lamaran.
“Besok kemungkinan saya off. Pagi saya mau periksa rutin kondisi twins. Lalu akan ngecek toko kue,” Aurel memberitahu rencananya esok hari.
“Soal proyek pak Dennis di Semarang bagaimana Bu?” tanya Yon.
“Dennis hari Kamis akan datang ke kantor. Atau kita ajak ketemuan di luar aja seperti saat ini? Biar ngobrol santai?” balas Aurel.
“Iya di luar aja Bu,” Reza menyetujui usulan Aurel.
“Win, kamu bookingin tempat deh buat ngobrol hari Kamis dengan pak Dennis. Saya pergi dengan Murti dan mas Reza aja. Kalau kamu dan Yon bisa ikut itu lebih baik. Murti kamu yang tanya ke sekretaris pak Dennis mereka akan datang berapa orang,” Aurel langsung meminta Murti dan Wina bekerja untuk pertemuan hari Kamis.
“Baik Bu,” sahut Wina dan Murti hampir bersamaan. Mereka menikmati makanan yang mereka pesan.
Di kantor Yon dan Murti bersikap profesional. Tak ada kemesraan yang mereka perlihatkan. Hanya didepan team Yon memanggil Murti dengan Jeng dan Murti memanggil Yon dengan Mas. Tapi depan karyawan yang lain mereka menyebut dengan pak Yon dan bu Murti.
Hanya Murti dan Wina yang tak bisa menyebut Mas pada Reza. Walau didepan team sekali pun. Padahal Reza dan Yon saling menyebut mas bila dalam team.
“Ibu ada usulan kita mau makan dimana untuk hari Kamis nanti?” tanya Wina.
“Mas Yon tahu pak Dennis sukanya makan apa?” tanya Aurel. Dia tak ingin mengecewakan tamunya.
“Pak Dennis pada dasarnya suka makanan nusantara Bu, tapi lebih pastinya dia suka banget ikan bakar ala Indonesia Timur. Karena sejak kecil hingga tamat SD dia tinggal di pulau Ambon,” sahut Yon. Dia memang cukup mengenal Dennis dengan baik.
“Nah, cari rumah makan ikan bakar aja Mbak Wina,” sahut Aurel.
“Yes Honey, Wa’alaykum salam,” sapa Aurel.
“Ini kami sedang makan siang. Kamu sendiri sudah?” tanya Aurel lembut. Walau gedung kantor mereka sebelahan, tak bisa setiap siang mereka makan bersama.
“Oke. Selamat makan ya Honey,” Aurel menutup sambungan telepon dari suaminya yang menanyakan apakah Aurel sudah makan. Rajev sendiri sedang menjamu karyawan yang datang dari India.
“Mbak Wina, saya takut lupa. Masukkan Rajev diperhitungan makan siang hari Kamis. Takutnya dia bisa ikut karena tak membolehkan saya pergi sendiri walau dengan kalian.”
Team sudah tahu sikap Rajev. Bahkan Reza pernah berdebat dengan Rajev sebelum lelaki itu menikahi Aurel dulu.
“Para lelakinya bu Aurel super possessive,” ejek Reza.
“Ha ha ha, kesannya saya tukang gonta ganti laki,” balas Aurel.
“Itu tanda lelaki yang sayang istri Pak,” sahut Wina. Suaminya sendiri tak memperlihatkan hal itu pada dirinya walau Wina tahu Ahmad sangat mencintainya.
***
“Honey, besok hari Kamis siang kami mau ketemuan dengan Dennis untuk membahas pembangunan proyek yang dia inginkan di Semarang,” Aurel bercerita saat mereka dalam perjalanan pulang kerumah. Karena gedung kantor mereka bersebelahan memang Aurel tak pernah bawa mobil sendiri bila berangkat ke kantor.
“Jam berapa? Kamu keluar dengan siapa Love?” tanya Rajev.
“Aku dengan Murti dan Reza, kami atur jam sebelas, sehingga sehabis membahas pekerjaan kami langsung makan siang,” sahut Aurel.
“Jam sepuluh dari kantor?” tanya Rajev memastikan.
“Iya, sekitar jam segitu,” sahut Aurel sambil ngemil kue lapis legit yang memang harus selalu ada dalam kotak bekalnya. Kue sangat berlemak dengan bahan 40 butir kuning telur itu adalah cemilannya sepanjang hari. Tak mau kue lainnya.
“Baik, aku akan antar kamu,” sahut Rajev.
“Serius?” tanya Aurel.
‘Kamu enggak suka?” Rajev balik bertanya dengan alis terangkat.
“Aku suka banget kamu bisa temani. Sukaaaaaaaaa banget,” sahut Aurel. Mood-nya memang turun naik. Belum tentu nanti hari Kamis dia tetap suka ditemani Rajev.
***
Ahmad pias melihat hasil test laboratorium prostat specific antigen ( PSA ) serta hasil foto USG. Awalnya minggu lalu Ahmad memberanikan diri memeriksakan dirinya yang sejak bujang memang merasa ada yang tak benar dalam tubuhnya tapi dia takut untuk ke dokter.
Bukan takut obat atau disuntik. Dia takut didiagnosa sakit parah. Dia tak mau mendengar kalau dirinya tidak sehat. Itu sebabnya sejak dulu Wina mengajak periksa kesuburan dia tak pernah mau.
“Aku minta cerai bila Mas enggak mau periksa kesuburan,” itu ancaman Wina, istri tercintanya satu bulan lalu. Dia memilih ikut periksa dari pada harus bercerai dengan perempuan yang dia cintai sejak gadis kecil itu masih SMP.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta