BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
ADA PENYUSUP BARU



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sore ini Rajev pulang dari kantor sengaja mampir dulu ke rumah untuk bermain dengan Darrel. Waktu dengan Aira masih sama yaitu pagi hari sambil mengantar putri kecilnya ke sekolah, walau sekarang tidak sarapan bareng karena Rajev sarapan di rumah sakit dengan Aurel. Setidaknya kedua anak itu mendapat attensi yang sama darinya.


Aurel bekerja di ruang rawat. Pekerjaan kantor dan juga toko roti diantar ke rumah sakit. Pernah Rangga dan Dennis datang juga bertemu dengan Aurel di rumah sakit, tentu bukan di dalam ruangan ibu, melainkan di teras ruang rawat.


“Kamu sudah makan love?” tanya Rajev. Dia terlihat sudah mandi. Mungkin sehabis main dengan Darrel badannya lengket sehingga memilih mandi di rumah dari pada mandi di rumah sakit.


“Belum. Aku nunggu kamu aja,” jawab Aurel sambil merapikan bekas makan ibu Tarida di nampan rumah sakit. Lalu dia letakkan di meja makan untuk diambil petugas sebentar lagi.


“Tadi aku lupa mau titip tabung gas. Gas kompor habis”, Aurel berkata lirih pada Rajev, tak ingin ibu dengar lalu meminta anak buahnya membelikan.


“Aku pergi beli sekarang aja ya?” tawar Rajev. Lelaki ini tahu Aurel tak senang makan dengan lauk dingin. Sehingga lebih baik dia segera mencari kebutuhan perempuan tercintanya itu.


“Jauh, tabung gas mini kan tidak di semua mini market ada,” jelas Aurel.


“Biar besok aja aku titip ke pak Ujang pas antar baju bersih ibu. Malam ini kita makan dengan lauk dingin ya,” terang Aurel. Tak apa sekali-sekali makan lauk dingin.


“Aku enggak masalah koq makan pakai lauk dingin,” jelas Rajev santai. Lalu mereka mulai makan malam berdua, sedang bu Tarida menonton berita di televisi.


Sehabis makan Aurel mengirim pesan barang apa yang dia minta dibawakan esok pagi. Untuk tabung gas dia minta dibelikan dua buah sekalian agar tidak bingung bila kehabisan. Dia juga meminta bawakan kopi, sereal. Mie instan, telur dan saos sambal karena stock barang itu di rumah sakit sudah menipis.


***


Aurel dan Rajev sudah dua minggu tinggal bersama di ruang rawat. Komunikasi mereka semakin baik,  Aurel tak pernah mau membahas masalah Aashita. Entah mengapa, itu yang menjadi pemikiran Rajev. Dia takut Aurel hanya menunda hingga bu Tarida pulang ke rumah saja. Rajev sendiri belum berani memulai pembahasan itu, tapi dia sudah mengumpulkan semua bukti untuk diperlihatkan pada Aurel saat mereka akan membahas masalah itu.


“Aurel,” panggil bu Tarida lirih. Perempuan itu sejak tadi melihat Aurel yang tak henti bergerak. Selain membereskan sisa makan, Tarida juga sadar Aurel yang mengatur denyut nadi rumahnya. Semua pekerja di rumah tetap bisa stabil bergerak karena dibawah komando Aurel.


“Ya Bu,” jawab Aurel sambil mendekat. “Ibu butuh sesuatu?” tanya Aurel dengan manis.


“Ibu mau berterima kasih padamu dan Rajev. Ibu bersyukur mengenal dan memiliki kalian setelah ayah dan Radit meninggalkan ibu. Kamu serasa anak kandung bukan menantuku. Begitu pun Rajev, dia serasa menjadi pengganti Radit. Cintanya padamu, pada anak-anak dan pada ibu sangat kami rasakan. Sekali lagi terima kasih,” jelas bu Tarida perlahan dan sedikit terputus-putus.


Aurel memeluk bu Tarida yang sejak mengenalnya memang dia rasakan menjadi pengganti bundanya. Aurel pun terisak dipelukan ibunya itu. Ya dia menganggap bu Tarida sebagai ibunya, bukan mertua.


Rajev yang baru keluar dari toilet bingung melihat kedua wanita di ruangan ini sedang saling peluk dan menangis. Dia serba salah, ingin menghampiri atau dia duduk diam di sofa saja? Akhirnya Rajev memilih mencari kegiatan sendiri dengan cara memasak air dengan water heather untuk membuat kopi dan hot milk choco untuk Aurel.


“Ibu jangan pernah bicara begitu. Sejak Aurel kenal Ibu pertama kali, aku sudah merasa nyaman dan menganggap Ibu adalah pengganti Bunda. Bahkan saat abang punya istri lain, aku tetap anggap Ibu adalah ibuku,” balas Aurel sambil menghapus air mata dipipi bu Tarida lalu dia kecup dua pipi perempuan yang telah melahirkan cinta pertamanya itu.


***


“Bu, sepertinya ada penyusup,” lapor Reza siang ini saat dia datang menemui Aurel untuk membahas masalah kantor.


“Terjadi kasus serupa dengan di Cinangka, hanya ini baru mulai. Masih bisa segera kita cut. Namun kalau langsung cut, kita tak akan bisa memancing dalangnya keluar,” jawab Reza pelan.


“Mana datanya?” Aurel meminta data laporan dari lapangan dan data kantor untuk diperbandingkan.


“Baru dua minggu ini ya Mas, persis sejak saya tak bisa hadir rutin di kantor karena menunggu ibu,” Aurel mencoba meraba kasus yang dilaporkan Reza.


“Benar Bu, sejak Ibu tak bisa full ke lapangan,” jawab Reza.


“Oke, kita mulai dari kantor ya Mas. Mulai besok siapkan mbak Murti dan Wina datang kesini dengan mas Reza. Karena besok kan Sabtu kantor libur, jadi kalau kalian semua kesini enggak masalah  siapa yang standby di kantor.”


“Saya akan cek jadwal bu Tarida periksa lab atau teraphy dokter serta hal lain yang mengharuskan saya ada di rumah sakit. Bila ada jadwal kosong, hanya visite dokter rutin, saya bisa pergi satu hari untuk dadakan ke lapangan seperti biasa. Saya minta data ter update dilengkapi terus ya,” pinta Aurel pada Reza.


‘Ini bedanya Radit dan Aurel. Sama-sama S2 dan sama-sama pemimpin. Bedanya Aurel tak pernah membuang waktu untuk berpikir. Dia langsung bertindak dan selalu dengan kecermatan. Sedang Radit akan berpikir dulu baru bergerak!’ Reza membanding dua sosok pimpinannya.


Seperti kesepakatan kemarin, hari ini Wina, Murti dan Reza datang jam sebelas menemui Aurel di rumah sakit. Saat itu ada Rajev dan Vino serta bik Eneng. Aurel minta izin pada bu Tarida untuk ke cafe depan akan membahas pekerjaan.


“Bu, Aurel ke cafe depan dulu dengan mas Reza dan mbak Wina ya,” pinta Aurel dengan lembut dan hati-hati.


“Bik Eneng temani ibu dulu sampai saya balik ya,” perintah Aurel.


“Vin, aku ke depan dulu ya,” pamitnya pada Vino.


“Ok, silakan,” jawab bu Tarida dan Vino hampir bersamaan.


Aurel mendekati Rajev. “Ada masalah di kantor, aku tidak bisa bahas depan ibu. Kamu mau menemani aku ke depan atau di sini aja?” tanya Aurel.


Dia tak mau memerintah Rajev stay di kamar, karena dia juga ingin Rajev tahu bagaimana situasi kantornya saat ini.


“Aku ikut denganmu,” jawab Rajev tegas sambil berdiri. Dia tak ingin membiarkan Aurel keluar sendirian karena Rajev tahu sehabis mereka membahas masalah ketiga pegawainya itu pasti akan langsung pulang, tidak kembali ke ruangan ini lagi.


 ==========================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta