BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AKU KANGEN KAMU LOVE



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Kamu menggoda aku? Apa kamu enggak ngerasain apa yang aku rasa?” tanya Rajev serius. Entah mengapa sekarang Rajev merasa melow berjauhan dengan calon istrinya itu.


“Aku tanya, siapa yang kangen, ‘kan kamu tinggal jawab, enggak perlu kamu kirim pertanyaan balik. Aku makan dulu. Bye,” Aurel menutup telepon dari Rajev karena pesanannya sudah datang.


Aurel sengaja menutup sambungan pembicaraan karen dia tak ingin terlihat lemah. Dia juga sangat merindukan Rajev dengan sangat. Dia tak ingin terbawa perasaan lalu terisak saat bicara dengan tunangannya itu.


‘Aku kangen kamu Love, sangat kangen. I love you so much,’ tulis Rajev dalam chat WA nya, karena teleponnya sudah ditutup oleh Aurel.


‘Selamat makan ya Love,’ chat ke dua menyusul.


Aurel kembali berbagi cerita dengan Wina saat ponsel Wina berdering, panggilan dari Murti. “Selamat siang Mbak, apa Mbak sedang dengan bu Aurel?” tanya Murti sopan.


“Iya bener kami sedang makan siang,” balas Wina.


“Di mana? Saya dan pak Reza akan menyusul, kami sudah dekat kantor koq,” rupanya Reza yang menyuruh Murti untuk menghubungi Wina karena ingin segera menyampaikan laporan kerja eksekusi di lapangan.


“Di waroeng steak dekat kantor. Tempat kita biasa makan bertiga,” sahut Wina. Memang kalau malas hunting tempat yang agak jauh, Wina, Murti dan Aurel keluar makan ke waroeng steak ini.


Kadang hanya Murti atau Wina saja yang pergi membeli lalu mereka makan bertiga di ruangan Aurel. Memang mereka sekarang menjadi satu team. Diluar Reza. Karena kalau hanya makan siang rutin Reza tak termasuk dalam team ini.


Tak lama Reza dan Murti terlihat mendekati meja Aurel dan Wina. Saat Murti dan Reza pesan makan siang, Aurel menambah pesanan juice alpokat untuk dirinya, karena steaknya sudah habis.


“Kami sudah selesai Bu, tadi polisi sudah membuat surat pemanggilan untuk pak Wisnu dan pak Eko juga untuk sus Meylan dan teh Ifa. Namun untuk keterangan resmi polisi juga memanggil pak Cahyo,” jelas Reza sambil mulai memotong daging steak yang dia pesan.


“Kalau kasus yang dimasukkan pada laporan ke polisi untuk teh Ifa dan sus Meylan adalah cobaan pembunuhan berencana sesuai dengan hasil rekaman yang Murti dapat dari lapas. Dalam rekaman terdengar jelas Ifa dan Meylan berencana menyingkirkan Wiwin guna merebut semua harta Wiwin yang diambil oleh pak Eko dari perusahaan. Dari rekaman itu maka hukuman untuk Yulia juga akan semakin berat, karena dia lah dalang semuanya,” lapor Reza.


“Lho, koq ada rekaman percobaan pembunuhan? Kemarin kan kita belum dapat itu?” tanya Aurel sedikit bingung. Kemarin saat bertemu kakek info ini belum ada.


“Lagian kalau Wiwin mati, emang gampang ngambil hartanya? Aneh-aneh aja.”


“Semalam sehabis pulang dari rumah Ibu, teman yang bertugas sebagai office girl di lapas memberikan rekaman yang dia buat Bu. Saya langsung lapor pak Reza,” Murti memberikan keterangan pelengkap.


“Alhamdulillah kalau Yulia dan kedua sepupunya akan membusuk di penjara seperti keinginan kakek. Semoga untuk selanjutnya perusahaan aman. Dan ke depannya semua team harian proyek di sumpah dulu dan dihadirkan pasangan atau orang tuanya saat sumpah itu. Juga diberikan gambaran dari dua kasus proyek bocor agar semua berhati-hati bermain dengan kepercayaan yang kita amanatkan,” Aurel mencoba lebih keras dalam mengawasi pekerjaan petugas proyek.


“Assalamu’alaykum pak Cahyo,” sapa Aurel. Dia langsung menghubungi karyawannya untuk membuat sang karyawan tenang.


“Wa’alaykum salam Bu,” balas pak Cahyo gugup menerima telepon dari pimpinan perusahaannya. Selama bekerja dibawah pimpinan istri almarhum Radit, memang bu Aurel belum pernah menghubungi secara personal seperti sekarang.


“Pak, tadi pak Reza sudah menuntaskan masalah kerja di proyek Pondok Cabe. Nanti Bapak jangan kaget bila mendapat panggilan dari polisi ya, karena keterangan Bapak akan sangat diperlukan,” Aurel memberi gambaran agar pegawainya tidak terkejut.


“Sekalian saya tanya Pak, untuk kelanjutannya, Bapak bisa terus bekerja di proyek ini atau reposisi dulu?” tanya Aurel. Dia tak ingin mengganggu konsentrasi karyawannya. Namun juga tak ingin pekerjaan di lapangan terbengkalai. Lebih-lebih bendahara proyek juga bermasalah sehingga harus diganti dengan personil baru.


“Bapak tak perlu jawab sekarang, saya tunggu jawaban Bapak besok langsung ke pak Reza saja ya,” Aurel memberi kesempatan pada pak Cahyo untuk diskusi dengan keluarganya. Masalah ini akan menyangkut anak istri pak Cahyo sehingga tak bisa disuruh memutuskan cepat.


Kalau pak Cahyo reposisi, maka dia juga akan minus income karena tidak terhitung kerja, hanya akan diperhitungkan cuti diluar tanggungan. Dia tetap terdaftar sebagai pegawai.


Bila tidak reposisi  pak Cahyo tetap harus kerja full 5 hari. Dan bertanggung jawab penuh dengan proyek yang sedang dia tangani saat ini.


***


Tak terasa hari ini hari Kamis, jadwal pak Cahyo memberi keterangan pada polisi. Dia sudah memberi jawaban pada Reza, bahwa akan tetap di proyek dan full kerja lima hari. Anak dan istrinya tentu butuh income untuk kelangsungan hidup mereka.


Kesehatan istrinya sudah semakin membaik, dan keluarganya mau pun keluarga istrinya sudah membuat daftar jaga di rumah sakit sehingga Cahyo bisa tetap bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya.


Tanpa disangka mbak Suzy memberitahu ada ayah Yulia datang minta izin bertemu dengan Aurel.


Aurel meminta tamunya dibawa ke lobby, dia akan menemui di sana, bukan di ruangannya seperti biasa.


“Mbak Wina temani ya, minta juga beberapa satpam memantau mereka, sediakan alat rekam sebagai bukti pembicaraan dan bilang ke Suzy suruh copy identitas mereka,” Aurel segera mengatur agar semua bisa dipantau. Dia meminta pengacara perusahaan stanby di lobby.


“Assalamu’alaykum, selamat siang,” sapa Wina. “Ada yang bisa saya bantu?” lanjutnya, sementara Aurel mengikuti di belakangnya, membawa map dan alat tulis.


“Wa’alaykum salam, selamat siang bu Aurel. Saya Galih Setiadi, mertuanya Radit, pemilik perusahaan ini. Dan ini adik ipar saya, ibunya Latifa, serta ini adik kandung saya ibunya Meylan,” tamu yang mengaku bapaknya Yulia memperkenalkan diri dengan bangganya bahwa dia adalah mertua Radit.


“Silakan duduk Bapak dan Ibu,” Wina mempersilakan para tamunya duduk. Dia pun duduk di seberang kursi mereka, sementara Aurel duduk agak di belakang Wina, seakan dia adalah asisten Wina.


“Maaf saya ulangi perkataan Bapak tadi, anda tadi mengatakan anda adalah mertuanya Radit, pemilik perusahaan ini. Maksud kalimat itu apa ya? Dan apa Bapak punya bukti kalau yang Bapak katakan adalah benar?” Wina memperjelas ucapan pak Galih. Semua agar rekamannya terdengar jelas. Yang bertugas merekam adalah Aurel.


\================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : LICHA LIKA  DENGAN JUDUL NOVEL PERNIKAHAN RAHASIA ANAK SMA 2 YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta