BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
HAMIL SAAT SUAMI KOMA



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===========================================================================


“Mang Ujang, panggil Vino suruh antar kami. Mbak Nah pegang Aira jangan sampai ada yang pegang siapa pun juga karena bisa aja saat kita lengah ada yang akan ambil dia. Mang Asep persiapkan rumah untuk menerima kedatangan jenazah bapak,” Aurel mulai membagi tugas.


“Bik Eneng ke pak Rt laporan dan minta hubungi yayasan bunga Kamboja. Bik Siti tolong temani saya, saya butuh baju ganti dua pasang serta jaket untuk Ibu dan saya, jangan lupa siapkan baterei cadangan HP (saat itu ponsel masih menggunakan batere cadangan) serta power bank dan juga charger HP,” tuntas sudah Aurel membagi tugas.


Aurel segera ke kamarnya, dilihatnya ponselnya sudah penuh terisi baterenya. Dia berganti baju, mengambil dompet dan bersiap turun saat menerima tas dari bik Siti berisi semua yang dia minta.


“Bi, tolong bawakan termos isi teh jahe dan beberapa roti karena semua belum makan malam, aku enggak pengen ibu sakit.” Kembali Aurel ingat mereka belum makan malam.


Aurel melihat Vino sudah siap ketika dia turun kebawah, juga pak RT dan beberapa tetangga terdekat. Bu RT sudah rapi, dia bilang akan menemani ibu ke rumah sakit, takut kalau Aurel harus mengurus Radit disana.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit PMI Bogor, bu RT menghibur bu Tarida dan Aurel hanya mengingat kata-kata  dan kelakuan ayah mertuanya tadi pagi sebelum berangkat ke Cisarua.


“Ibu nemani kamu aja. Kalian perempuan-perempuan terbaik ayah. Ayah enggak ingin kamu sendirian. Kalian harus selalu bersama dan selalu tegar seperti saat ini,”


“Ini keputusan Ayah, Ayah tau yang terbaik untuk kamu dan ibu,”


“Kamu yang terbaik, jaga Ibu dan Aira baik-baik ya,”


Semua kalimat yang pak Iskandar ucapkan tadi pagi jelas terngiang ditelinga Aurel. Dia ingat saat ayah memeluk dan mencium kening ibu sangat lama seakan tahu itu ciuman terakhir yang bisa dia berikan pada istri tercintanya.


Aurel juga merasakan peluk dan cium hangat terakhir yang ayah mertuanya berikan pada dirinya pagi ini.


Aurel segera memberi khabar duka ini pada ayahnya dan Bagas.


***


Untung bu RT ikut, karena memang mereka harus di dua tempat yang berbeda, ibu harus mengurus ayah di kamar jenazah sementara Aurel harus mengurus administrasi Radit di ruang IGD.  Andai tadi bu RT tak ikut tentu Aurel akan meminta Vino menemani ibu dan dia lebih baik sendirian mengurus berkas Radit.


Sebelum ke ruang jenazah ibu tentu melihat kondisi Radit terlebih dahulu karena biar bagaimana pun suaminya sudah tidak bisa dia tangani lagi, sementara Radit masih hidup tentu bisa diupayakan pertolongan terbaik.


Sebagai dokter tentu ibu bisa bicara dengan dokter yang menangani Radit dan bertanya apakah Radit bisa dipindah ke rumah sakit MEKAR tempatnya bekerja agar pengawasannya lebih mudah, karena dia berpikir kasihan Aurel bila harus bolak balik Bogor - Jakarta. Selain banyak waktu terbuang, Aurel juga bingung dengan Aira bila dia jauh dari anak itu.


Ibu dan bu RT lebih dulu pulang, mereka ikut mobil jenazah. Sedang Vino menemani Aurel menanti hasil pemeriksaan apakah Radit bisa dipindah ke rumah sakit di Jakarta seperti yang ibu inginkan.


Sudah sepuluh jam sejak Aurel tahu Radit ditangani team dokter. Namun mereka belum mendapat kepastian, karena dokter masih menanti tanda vital Radit lebih dulu. Vino sudah tertidur di kursi ruang tunggu saat seorang perawat memanggil Aurel. “Hasil sudah keluar, Ibu silakan menemui dokter saat ini dalam ruangannya.”


Jam tujuh pagi Aurel tiba di rumah sakit Mekar tempat ibu mertuanya bekerja, Radit berhasil di pindah ke ICU di sini. Tadi Aurel ikut mobil ambulance, dia meminta Vino langsung pulang ke rumah saja untuk istirahat dan ikut mengurus pemakaman pak Iskandar.


Rencananya nanti Aurel akan langsung ke pemakaman ayah Iskandar ditemani ayahnya dan Bagas yang saat ini sedang menuju rumah sakit tempat Radit dirawat. Dan tentu saja dari pemakaman Aurel akan langsung kembali ke rumah sakit menunggui Radit.


***


Sudah tiga hari Radit terbaring di rumah sakit tanpa ada kemajuan. Dan sejak kemarin Aurel pusing, mertuanya yang tiap pagi menyambanginya untuk mengantar pakaian bersih dan sarapan pagi tentu saja cemas bila menantunya ikut sakit.


“Mumpung di rumah sakit, ayo Ibu antar periksa ya. Takutnya tekanan darahmu turun karena kamu terlalu lelah dan sulit beristirahat,” bujuk bu Tarida pada Aurel.


“Aku enggak apa-apa koq Bu,” kilah Aurel malas.


“Iya, Ibu tahu kamu enggak apa-apa. Tapi lebih baik ‘kan kalau kamu minum vitamin agar kamu beneran enggak sampai drop,” lanjut bu Tarida. Dia memaksa menantunya untuk periksa.


“Dia enggak apa-apa koq Eda, menantumu sebaiknya kau bawa ke ruangan Fitri aja,” tukas dokter Vonny yang didatangi bu Tarida untuk memeriksakan Aurel.


“Serius kau?” tanya bu Tarida penuh harap. Dia melihat anggukan dan senyum manis dan sejawatnya itu.


“Koq pindah dokter Bu?” tanya Aurel, dia super pening, sehingga tidak sadar kalau poli yang didatanginya kali ini adalah poli kebidanan dan kandungan.


Aurel hanya mengikuti ibu mertuanya saja, menjawab suster saat menanyakan data juga di jawab tanpa berpikir, karena selain pening dia juga sedih kalau harus meninggalkan Radit terlalu lama.


“Mens terakhir seharusnya tiga minggu lalu?” tanya dokter Fitri sambil membaca lembar data Aurel dengan saksama.


“Iya Dok,” jawab Aurel lirih.


“Oke, kita periksa ya, silakan ikuti suster untuk berbaring,” perintah dokter Fitri selanjutnya.


“Yang pertama Eda?” tanya dokter Fitri pada dokter Tarida mertua Aurel sambil beranjak menuju tempat periksa. Eda adalah panggilan untuk kakak perempuan di Sumatera Utara.


“Semoga yang pertama,” jawab bu Tarida dengan harap-harap cemas, dia mengikuti temannya menuju bed tempat Aurel berbaring untuk diperiksa.


“Ini Eda, beneran isi,” papar dokter Fitri menunjuk layar monitor. Tadi dia mengoles gel diperut Aurel dan meratakannya sebelum menggeser alat diperut nyonya Raditya Putra Sebayang itu.


“Alhamdulillaaaaaaaaaaah!” bu Tarida menutup mulutnya dan terisak karena bahagia.


“Selamat ya mbak Aurel, anda positif hamil, ini bayi berkembang sehat, harap jangan banyak angkat-angkat biar kandungan aman ya,” dokter Fitri memberi nasihat pada Aurel yang juga menangis.


Aurel menangis antara sedih dan bahagia.


Ibu memeluk Aurel dan memapahnya untuk pindah ke kursi bagi pasien. Menantunya sangat lemas mengetahui dirinya hamil saat kondisi suaminya belum ada kejelasan. Bu Tarida sadar bagaimana tertekannya menantunya itu.