BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
PROYEK INI SANGAT MEMBINGUNGKAN



Saat memasuki area proyek Aurel bingung mengapa para pekerja hanya duduk-duduk tanpa aktivitas.


“Apa yang kalian kerjakan, apakah sudah jam istirahat?” tanya Aurel pada mandor lapangan yang terlihat agak angkuh dan tak peduli pada Aurel sebagai pemimpin perusahaan.


“Ngapain kami kerja kalau bayaran kami tersendat dan bahan yang harus kami gunakan enggak datang dari gudang pengiriman?” jawab sang mandor ketus. Dia tak tahu yang dihadapi adalah istri almarhum Radit. Dia hanya tahu pemilik proyek ini adalah Raditya Sebayang dan sudah meninggal minggu lalu.


“Berapa lama kalian belum dibayar?” tanya Aurel geram.


“Pembayaran yang harusnya kami terima hari Sabtu lalu belum kami terima sampai saat ini. Dan enggak ada bahan untuk kami bekerja,” jawab sang mandor tanpa hormat sama sekali pada Aurel. Mungkin dia menganggap Aurel adalah orang yang diberi mandat untuk membereskan kekacauan proyek. Bukan istri Radit.


“Oke, saya akan telusuri semuanya. Paling lambat lusa saya akan meminta pak Reza langsung menalangi uang mingguan kalian. Karena kami sudah bayar semua dimuka, sejak bulan lalu untuk tiga bulan kedepan,” balas Aurel.


Reza dan Aurel tentu saja kaget melihat kenyataan dilapangan seperti ini. Kantor sudah membayar dimuka tapi di lapangan pekerja malah belum terima pembayaran.


“Mas Reza ( bila didepan umum Aurel akan menyebut pak Reza ) coba antar saya ke lokasi gudang bahan bangunan,” pinta Aurel. Dia bukan pimpinan yang senang menerima laporan. Dia ingin tahu semua secara real.


“Mari Pak…, paling lambat lusa pak Reza akan memberikan Bapak-bapak semua pembayaran ya, tolong Bapak memberikan data pekerja sesuai nomor kontrak pekerja ya,” Aurel pamit tapi sebelumnya dia meminta sang mandor memberikan data pekerja dengan nomor kontrak.


Dulu Radit memang meminta semua kuli atau pekerja terdata. Sehingga tidak mudah di curangi. Seperti saat ini, kalau dulu tanpa nomor kontrak bisa saja sang mandor membuat data fiktif jumlah pekerja yang terlibat dalam pekerjaan ini.


Reza melajukan mobil ke arah area penyimpanan barang proyek. Tapi ditengah jalan mobil mereka dihadang tiga motor. Ada enam orang pria menggedor mobil dengan keras.


“Ibu di dalam saja, biar saya yang turun,” Reza memerintah agar Aurel tetap di dalam. Dia khawatir keselamatan nyonya besarnya.


“Mbak, kamu bisa bela diri?” tanya Aurel tenang, dia malah bertanya pada  mbak Murti   yang mendampinginya.


“Bisa sedikit Bu,” balas mbak Murti.  Dia memang punya dasar beladiri. Karena itu syarat utama saat masuk kursus sebagai satpam.


“Ya sudah, kamu lindungi saya dari belakang saja. Mas Reza enggak perlu khawatir. Saya siap menghadapi mereka,” tanpa menunggu jawaban Reza, Aurel segera turun diikuti  mbak Murti.


“Apa mau kalian?” tanya Aurel santai tanpa takut melihat kegarangan enam orang yang menghentikan laju mobilnya.


“Kami minta hentikan pembangunan proyek itu,” balas seseorang dari mereka.


“Apa hak kalian meminta saya berhenti?” Aurel mencari lokasi yang agak jauh dari mobil dan lebih luas untuk dia bergerak. Dia tak ingin mobil hancur sehingga dia tak bisa kembali ke kantor.


Reza yang ketakutan terjadi sesuatu pada Aurel sudah menelepon temannya serta polisi di lokasi situ. Sesudah itu baru Reza keluar dari mobil.


“Enggak perlu banyak tanya, yang penting hentikan pembangunan,” ancaman kembali di lakukan oleh seorang pria dari rombongan itu.


“Kalian salah besar menghentikan saya, saya punya ijin resmi lengkap. Tak ada yang bisa mengancam saya untuk mundur,” balas Aurel tanpa ragu.


“Sudah langsung bawa saja mereka,” balas yang lain sambil mendekat ke arah Aurel.


Tanpa menunggu ditangkap, Aurel langsung menyerang mereka dengan ilmu bela dirinya. Reza dan  mbak Murti tertegun melihat keahlian boss mereka. Akhirnya mereka pun ikut terjun berkelahi menemani Aurel.


Saat posisi sudah hampir menang, polisi datang dan membuat kawanan perusuh bergegas ingin kabur tapi Reza dapat merusak satu motor dan mbak Murti berhasil mengambil kunci motor lainnya. Hanya satu motor yang berhasil dinyalakan dan bisa digunakan kabur oleh tiga orang perusuh. Sementara tiga yang lain terkapar dikaki Aurel.


Reza mengikuti mobil polisi yang membawa para perusuh. Aurel ingin mendengar siapa dalang kerusuhan yang terjadi di proyek ini.


‘Tak disangka kemampuan bela diri bu Aurel jauh diatasku yang terbiasa melatih. Bahkan aku diminta Jendral mendampingi Radit karena kemampuanku ini. Hal ini harus aku laporkan,’ batin Reza sambil diam memperhatikan mobil polisi yang dia ikuti.


Dalam benak Reza dan mbak Murti tidak pernah menyangka ternyata boss besarnya sangat diluar dugaan. Reza yang mengenal Radit sejak kecil saja tahu kemampuan bela diri Radit sangat minim bahkan tak bisa bela diri sama sekali.


Di kantor polisi Reza meninggalkan datanya untuk dihubungi bila polisi berhasil menangkap kawanan yang sempat kabur serta mengungkap siapa yang membayar atau menyuruh mereka mengganggu kegiatan proyek milik Aurel.


***


Esok sorenya Reza datang kembali ke proyek untuk membayarkan honor kerja para tukang. Karena membawa uang cash maka kedatangan Reza ditemani dua orang dari kepolisian. Reza juga meminta agar kepala pengadaan barang proyek melaporkan stock bahan di lapangan. Tapi dijanjikan akan diberikan setelah dia mencatat kembali stock yang real tersedia. Jadi hari itu Reza tidak bisa mendapat data stock barang di gudang.


Reza pulang setelah urusan pembayaran selesai. Sampai saat itu dia belum berhasil bertemu dengan bendahara proyek. Sejak kemarin ponsel bendahara proyek tak bisa dihubungi dan dicari di rumah kontrakan yang dekat lokasi proyek ternyata lelaki itu sudah pindah kontrakan.


‘Proyek ini sangat membingungkan,’ pikir Reza.


‘Hilangnya bendahara proyek, lalu selisih barang stock dan mutu barang yang down grade dari yang seharusnya, serta ancaman penghentian proyek. Apa semua ada keterkaitan?’ Reza makin bingung karena awalnya almarhum Radit hanya mencurigai kelangkaan stock bahan. Saat Radit masih hidup mereka belum mengetahui penyelewengan si bendahara proyek.


Baru kemarin sore Reza memberikan pembayaran pada para pekerja di lapangan, siang ini dia dapat telepon dari proyek kalau ada tembok yang roboh dan melukai dua orang pekerja. Aurel segera meminta Reza membawanya ke proyek. Kali ini mereka berangkat bertiga dengan pak Paiman karena mbak Murti jadwal off.


Saat akan sampai lokasi Reza meminta agar ada polisi yang mendampingi mereka. Reza khawatir ada warga marah karena kejadian itu.


Aurel segera mencari penyebab kecelakaan robohnya bangunan yang sedang mereka garap. Dari mandor lapangan didapat keterangan bahwa bahan yang mereka gunakan beda dengan speck yang seharusnya.


==================================================================== 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta