BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
BERANGKAT KE JOGJA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Wina sangat sedih melihat penampilan pimpinannya yang biasa selalu cerah hari ini sangat berbeda jauh.


“Akhirnya selesai juga,” desah Aurel senang. “Tiket sudah kamu siapkan? Kamar hotel bagaimana? Lalu selama disana apa saya ada kendaraan operasional karena akan merepotkan bila harus naik taksi,” cecar Aurel pada Wina.


“Tiket berangkat sudah fix Bu, tiket pulang menunggu perintah Ibu dari sana, agar pas. Kalau saya pesankan sejak sekarang takutnya tidak sesuai jadwal kerja di sana. Penginapan untuk Ibu dan mbak Murti sudah. Tapi beda lantai. Hotel sedang full booked Bu.  Kendaraan dan driver sudah disiapkan oleh pak Dennis” jelas Wina menjawab semua yang ditanya pimpinannya.


“Ok, nanti berkas kerja dan tiket kamu serahkan mbak Murti aja ya, biar dia yang handle,” pinta Aurel. Dia segera bersiap kembali ke tokonya. Mereka berpisah di depan cafe karena berbeda taksi.


***


Malam saat toko sudah tutup dan semua pegawai sudah pulang, Aurel menyalakan ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari nomor Rajev terlihat disana, juga berapa banyak chat dari nomor itu.


Semua tidak dihiraukan Aurel. Dia tidak baca pesan yang di kirim Rajev. Dia menyalakan ponsel hanya tak ingin orang susah mencarinya.


Aurel berbaring di tempat tidur kecilnya sambil menonton TV. Dia tertarik akan iklan ponsel Android yang baru saja launching. Dia bertekad besok akan mengganti ponselnya menjadi Android, dia tidak akan menggunakan BB lagi.


Sedang asyik mengamati layar TV di lihatnya ponsel nya berdering dengan caller id adalah Rajev. Dia hanya melihatnya namun tak ingin menjawabnya.


Sebelum tidur Aurel kembali mengecek berkas yang tadi dibawakan Wina, kali ini ada penawaran kerja sama dengan perusahaan di Padang dan Surabaya. Dia masih mempertimbangkan bahan baku di dua kota tersebut serta pengeluaran transportasi crew yang bertugas di kedua proyek tersebut.


Lelah bekerja, Aurel tertidur di meja tulisnya. Dalam lelapnya Aurel merasakan kehadiran Radit yang memintanya untuk segera pindah ke kasurnya, jangan tidur di meja. Ketika tersadar Aurel merasa kehilangan suaminya dan membuatnya menangis, dia sangat merindukan kekasihnya itu.


Pagi ini Aurel berangkat ke kantor, dia berniat sore nanti pulang ke rumahnya, dia sangat merindukan kedua anaknya.


Jam makan siang telepon kantor berdering saat Wina baru saja keluar membeli makanan yang Aurel pesan. Terpaksa Aurel mengangkat telepon tersebut.


“Selamat siang,” sapa Aurel ramah.


 “Assalamu’alaykum Love, apa kamu sehat?” tanya Rajev lembut.


“Wa’alaykum salam,” balas Aurel datar. Sesungguhnya Aurel kaget mengdengar sapaan lembut Rajev. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja.


“Kamu sehat cintaku?” tanya Rajev lagi.


“Sehat.” Aurel menjawab seperlunya.


“Jangan telat makan ya, I love you,” tanpa menunggu balasan Rajev memutus sambungan telepon. Bukan tidak ingin bicara, tapi Rajev merasa percuma bila masalah mereka di bicarakan by phone. Persoalan mereka harus di bahas face to face agar bisa clear.


Rajev cukup bahagia mendengar suara kekasih hatinya. Dia juga cukup bahagia mengetahui kekasihnya sehat. Rajev cukup bahagia mengetahui Aurel sudah mulai kembail ke kantor.


***


Hari ke empat Rajev berada di Cilacap, siang ini dia on the way ke Jogja untuk kembali ke Jakarta. Dia kangen kekasih hatinya yang masih tidak mau menjawab telepon atau chatnya di ponsel, dia juga kangen ke dua anaknya terutama Aira yang sudah sangat intens bicara dengannya Rajev sering menghubungi Aira di telepon rumah.


Pernah satu kali dia bisa bicara dengan Aurel dinomor kantor, mungkin karena tidak ada Wina diruangannya. Kalau ada Wina, selalu jawabannya ibu ada tapi tak mau di ganggu.


Dari bu Tarida dan dari Radit dia tau Aurel perempuan yang paling tak suka dibohongi dan anti perselingkuhan. Kalau sudah dikhianati  tidak akan ada maaf apa pun alasannya. Rajev juga tau Aurel tidak mau punya sahabat sejak teman akrabnya menikungnya saat SMP dulu.


Sore ini Rajev sengaja jalan-jalan sepanjang jalan Malioboro. Dilihatnya aneka mainan kendaraan mini dari kayu. Dia membeli beberapa model untuk Darrel. Dia juga membeli beberapa sandal kulit untuk kedua anaknya, lalu sambil membuang penat dia duduk di lesehan dengan menu gudeg dan oseng-oseng mercon.


Rajev langsung teringat bagaimana Aurel mengajaknya ke berbagai kuliner jalanan tanpa rasa malu. Dan Aurel juga beberapa kali yang bayar saat mereka jalan berdua. Type perempuan yang tidak mengincar hartanya.


Ahhhhhhhh … jalan-jalan sendirian begini bikin Rajev makin merindukan Aurel. ‘Kamu lagi apa sayang?’ tanya Rajev dalam benaknya. Karena chat pun tidak akan di baca apalagi di balas.


Mengingat penyebab Aurel marah, maka Rajev langsung menghubungi anak buahnya di kantor uppa nya di Tirur. Dia ingin mengorek kondisi terkini keluarga Aashita di sana.


“Cari info terkini dan saya minta besok pagi datanya sudah saya terima,” perintah Rajev kejam.


“Baik Tuan” jawab anak buahnya. Di Tirur perintah Rajev lebih ditakuti dari pada perintah ayahnya yaitu pak Chander Kumar.


***


Sementara di Jakarta Aurel sedang sibuk packing bajunya untuk berangkat ke Jogja esok pagi. Sang putri sejak tadi mengawasi apa yang dilakukan Aurel. Dia mengamati dengan serius.


“Mama lama?” tanya Aira pelan. Gadis kecil itu sedih karena uppanya juga sedang tidak di Jakarta.


“Nanti Kakak hitung berapa hari Kakak sekolah ya? Mama enggak tau hari apa selesainya, tapi kemungkinan empat hari sayang,” jawab Aurel dengan sedikit rasa bersalah. Ini adalah dinas luar pertama kali sejak Radit tak ada.


“Uppa juga pergi, tapi tiap Kakak pulang sekolah Uppa pasti telepon Kakak. Apa Mama juga akan telepon setiap siang?” tanya Aira polos.


‘Jadi dia tiap siang bicara dengan Aira? Bagaimana aku akan memisahkan mereka,’ pikir Aurel.


“Mama akan telepon Kakak malam ya. Mama akan tanya apa Kakak sudah buat PR dan apa ada yang sulit. Ok?”  Aurel berupaya menghibur putrinya itu.


“Yes Ma, Kakak akan tunggu telepon Mama setiap malam,” jawab Aira senang dengan janji mamanya. .


***


Aurel baru mendarat di bandara Adi Sucipto  ( belum YIA ya ) bersama pak Abdullah sebagai bendahara proyek, pak Joko sebagai kepala proyek dan pak Halim sebagai kepala pengadaan barang serta mbak Murti tentunya.


Tadi di bandara SOETA Aurel mengingatkan agar team nya jujur. Dia tak ingin memenjarakan pegawai lagi sepert kasus Cinangka. Semua karyawannya mengerti dan berjanji akan selalu memberitahu bila ada kesulitan sehingga tak salah langkah seperti Didu.


\=======================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta