
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Pak Cahyo tadi menjawab pertanyaan polisi dengan lancar Bu, dia juga memberikan data pelengkap. Lalu keluarga Ifa dan Meylan minta penangguhan kurungan, dengan alasan Ifa sedang hamil,” jawab Reza.
“Siapa yang ber hak memberi penangguhan mas? Apa polisi bisa langsung mengabulkan atau bagaimana?” tanya Aurel. Tentu dia tidak ingin ada keringanan untuk Ifa, mengingat perempuan itu telah menyakiti dua orang anak tak berdosa dan seorang istri sah menjadi terlunta akibat kelakuannya.
Belum lagi dengan Meylan dan Yulia, Ifa mempunyai motif menghancurkan perusahaannya. Dan dari bukti terakhir, Ifa juga terlibat dalam usaha percobaan pembunuhan pada Wiwin.
Aurel menyuapi Rajev sepotong wajik yang sudah digigitnya. Rajev tak menolak suapan kue dari tunangannya itu. Mereka sudah biasa makan satu sendok. Bukan hal aneh.
“Enggak segampang itu polisi memberi penanggguhan Bu. Harus melalui persidangan, kecuali kondisi darurat,” jelas Reza.
“Suaminya di dalam penjara, koq dia bisa hamil? Sudah berapa bulan? Kalau kehamilan terjadi sesudah suaminya di penjara, biar lapas diacak-acak jenderal,” Aurel yang sedang geram akibat kunjungan tamu tak diharap tadi jelas akan menyangkutkan semua hal dengan kemarahan.
Wina yang melihat pintu ruangan tak tertutup rapat hanya mengetuk pelan lalu langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan masuk.
“Mas Reza kita makan dulu yok,” Aurel membantu Wina membuka makan siang yang di belinya, sementara Wina memanggil Murti untuk ikut makan bersama sambil mereka bercerita kasus Yulia CS.
“Kapan kita lapor kakek Mas?” tanya Aurel setelah mereka selesai makan dan tukar info kejadian di kantor polisi dan di lobby tadi.
“Bisa besok atau Sabtu Bu. Terserah Ibu maunya kapan. Tapi lebih cepat lebih baik, karena saya yakin kakek juga tidak sabar menanti info perkembangan masalah ini,” balas Reza. Dia lebih hafal karakter kakek Ikhlas Sebayang dari pada karakter Radit.
“Kak, besok masih libur kan? Capek enggak bila kita ke rumah kakek di Cisarua Bogor?” tanya Aurel pada Rajev. Kalau dia memilih hari Sabtu kasihan para pegawai yang terpotong hari liburnya.
“Bisa, tapi harus pagi sekali, jadi kalian bisa bicara dengan kakek sebelum salat Jumat,” jawab Rajev.
Mereka pun janjian bertemu di rest area Jagorawi pukul 6.30 agar bisa puas ngobrol dengan kakek.
“Kalau begitu saya pulang duluan ya, biar pak Rajev istirahat,” Aurel pamit pada ketiga pegawainya.
“Kopermu di mana Kak?” Aurel sejak tadi tidak melihat Rajev membawa koper, lelaki tampan itu hanya membawa tas laptop di punggungnya.
“Aku titipkan di satpam,” jawab Rajev sambil meminta box kue yang dibawa Aurel untuk dia bawakan.
Aurel menyerahkan kunci mobilnya, dia langsung menghubungi toko kue miliknya yang terdekat dengan rumah untuk membuatkan kue dan diantarkan nanti malam ke rumahnya sehingga besok pagi dia bisa bawa ke rumah kakek.
“Mengapa lewat jalan ini?” tanya Aurel, karena jalan yang Rajev lalui bukan jalan menuju ke rumahnya. Rajev yang mengendarai mobil tidak langsung pulang ke rumah Aurel, melainkan langsung menuju apartementnya.
“Because I miss you so much,” jawab Rajev santai
“And then?” tanya Aurel sedikit bingung.
“Di rumah aku enggak bisa memelukmu. Jadi kita mampir ke apartemen untuk menaruh baju kotorku sekalian memeluk seseorang yang sejak tadi pura-pura bodoh,” sarkas Rajev. Dia gemas karena Aurel seakan tidak mengerti keinginannya.
Aurel tersenyum mendengar kelicikan Rajev kali ini, dia mencium pipi kiri Rajev. “Aku bukan pura-pura bodoh, tapi aku terlalu bodoh mencintaimu,” goda Aurel, lalu dia terbahak.
“Tungguuuuuuu … barusan kamu bilang di rumah aku enggak bisa memelukmu, artinya nanti di apartemen kamu hanya akan memeluk ya, tak boleh lebih!” Aurel mengultimatum Rajev. Tentu ini hanya menggoda, karena dia tahu tak mungkin Rajev mau hanya memeluknya saja.
***
Sehabis salat Subuh Aurel dan Rajev bersiap berangkat ke rumah kakek. Sejak semalam Aurel sudah memberitahu ibu tentang rencananya memberi laporan tentang perusahaan ke rumah kakek, sehingga ibu tidak kaget sepagi ini mereka berdua sudah bersiap.
Rajev memang semalam menginap di rumah ini. Semalam ke apartemen Rajev menaruh baju kotor yang dia bawa ke Bontang, lalu mengambil baju bersih untuk dia persiapkan cukup sampai hari Senin.
Aurel membawa kue dan roti yang sudah dipersiapkannya untuk di perjalanan dan di rumah kakek. “Kakak sarapan dulu ya!” ajak Aurel pada Rajev saat ia baru turun dari kamarnya dan melihat Rajev sedang ngobrol dengan ibu di ruang TV.
“Kopi aja deh, kamu bawa roti kan? Sepertinya terlalu berat bila aku sarapan dulu. Kasihan perutku,” tolak Rajev.
“Biasanya juga sarapan jam segini koq,” protes Aurel. Karena selama di rumah sakit jam enam pagi mereka sudah selesai makan. Aurel meletakkan tas dan berkas yang akan dibawa di meja dekat ibu lalu berjalan menuju ruang makan.
“Mbak, tolong kopi pak Rajev antar ke ruang tengah aja, dia sedang ngobrol dengan ibu di sana,” perintah Aurel pada mbak Yuni. Tentu saja Aurel yang membuatkan kopinya. Mbak Yuni hanya disuruh mengantar ke depan. Aurel duduk dan bersiap sarapan sendirian.
“Lho Aurelnya mana?” tanya ibu melihat Yuni mengantarkan kopi untuk Rajev.
“Bu Aurel sedang sarapan,” jawab mbak Yuni.
“Kamu sih, dia jadi malah sarapan sendirian kan. Ayo cepat hampiri, jangan sampai ada perang dunia lagi,” perintah ibu pada Rajev. Bu Tarida tahu Aurel pasti kesal.
Rajev bergegas menuju meja makan, dia tidak menyangka Aurel hanya benar-benar memberikan secangkir kopi untuknya. Padahal tadi dia hanya berbasa-basi.
“Love!” sapanya pelan, dia dekati perempuan yang selalu bisa membuatnya hampir khilaf bila mereka hanya berdua saja.
“Kopimu sudah di depan Kak, aku lanjutkan ini lalu kita langsung berangkat ya?” Aurel kembali menekuni sarapannya. Dia menyuap mie goreng sea food sendok terakhir.
“Sudah diminum kopinya?” tanya Aurel lagi. Dia sudah siap berangkat, tinggal menghabiskan susu coklatnya saja. Rajev tidak bisa berkata-kata lagi, karena dia mau memulai sarapan pun sudah telat.
“Hei, koq diam? Kopinya sudah diminum?” Aurel bertanya ulang.
“Iya ini akan aku minum,” balas Rajev kikuk. Rajev serba salah dengan keadaan ini. Dengan tergesa Rajev meminum kopi yang sudah Aurel bikinkan untuknya.
“Ya sudah ayok kita berangkat,” Aurel mengajak Rajev untuk bersiap. Sesudah pamit pada ibu mereka berangkat, Aira dan Darrel belum bangun.
\=======================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : YAYUK TRIATMAJA , DENGAN JUDUL NOVEL CINTA SEJATI HOT DUDA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta