BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
FIRASAT BURUK UMMA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Akhirnya Aurel memberanikan diri untuk bicara dengan ayahnya “Apa Rajev sudah telepon Ayah?” tanya Aurel hati-hati.


“Ayah baru pulang rapat RT, jadi enggak tau ada telepon atau tidak. Ada apa Rel?” tanya ayahnya penasaran.


“Gapapa Yah, tadi ada sedikit salah paham. Kalau dia tanya bilang aja yang sesungguhnya kalau mbak enggak datang ke rumah Ayah dan hanya telepon Ayah aja. Ayah enggak perlu khawatir soal kondisi Mbak ya” pinta Aurel.


“Ayah tau kamu sudah dewasa dan bisa memikirkan semuanya dengan baik. Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu Nak,” doa ayahnya menentramkan batin Aurel


“Makasih Yah. Aku tutup ya Yah. Assalamu’alaykum,” Aurel menutup teleponnya.


RAJEV POV


Siang ini aku banyak kerjaan, karena permintaan kantor pusat di Qatar yang kuterima lewat email sejak siang kemaren. Rasanya mau keluar makan siang pun malas kalau ribet seperti ini. Aku meminta office boy kantor membelikan nasi padang dengan tambahan lauk tentunya. Andai Aurel tahu jam 14.00 gini aku belum makan siang dia pasti akan ngomel.Kekasih hatiku itu biasanya ngingetin aku agar enggak telat makan, tapi entah kenapa siang ini dia lupa. Apa dia sibuk juga ya? Aku tetap focus pada berkasku saat aku dengar ada yang membuka pintu ruanganku.


Siapa? pikirku. Karena kalau office boy, walau pintu tak ditutup dia akan ketuk lebih dulu. Dan office boy baru saja keluar untuk membeli pesananku. Aku mengangkat wajahku dari berkas dan kulihat wajah kuyu Aashita disana.


“Mau apa kau kesini?” tanyaku. Aku heran, dia bisa mendapatkan alamat kantorku entah dari mana.


“Raja tolong aku. Maafkan aku,” pekik Aashita memohon sambil melekatkan dua telapak tangannya didepan dadanya.


“Aku tidak tau apa yang kau maksud” jawabku dengan tegas. Aku sudah malas berhubungan dengan perempuan ini.


“Aku sudah tau, kau yang bikin apotik ayahku dan rumah makan kakakku di Tirur bangkrut. Maafkan aku untuk mereka agar mereka bisa mencari nafkah lagi,” Aashita memohon dengan memelas sambil berdiri didepan meja kerjaku. Aku segera berdiri dan berkata ketus padanya.


“Kamu yang bikin gara-gara. Karena perbuatanmu istriku marah dan hampir aku tak dimaafkannya,” dengan geram aku ingatkan mengapa aku membuat usaha ayah dan kakaknya bangkrut.


“Aku tau dia bukan istrimu, kalian belum menikah!” pekik Aashita. Rupanya dia menyelidiki diriku sedemikian rupa hingga bisa tahu juga statusku dan Aurel.


“Sekarang juga kau pergi, atau akan kubuka perselingkuhanmu dengan adik ipar pamanmu,” ancamku.


Dia mendekatiku dan memelukku “Raja maafkan aku, aku akan melakukan apa pun perintahmu asal roda ekonomi keluargaku di Tirur bisa bangkit lagi katanya sambil memohon dengan memelukku erat.


Baru saja ucapan Aashita berhenti  kudengar pintu ruanganku ditutup dengan keras. Tentu aku kaget. Aku bergegas melepas pelukan Aashita dan kubuka pintu ruangan dan kulihat beberapa design undangan pernikahan tercecer di lantai depan pintu ruanganku.


Aku sadar, Aurel kembali salah pengertian, dan parahnya pasti dia melihat Aashita sedang memelukku. Aku menjerit dan mengusir Aashita dari ruanganku “Kamu kembali membuat hubunganku hancur. Kamu tunggu saja. Tak akan lama lagi dirimu akan membusuk!” teriakku lalu aku merapihkan berkasku karena file itu tak boleh dibaca sembarang orang. Kusimpan di laci meja kerjaku lalu aku kunci  dan kuambil ponselku.


Astagaaaaaaaaaa… ternyata sejak tadi ponselku mati. Pantas tak kudengar pesan atau panggilan dari Aurel. Dia pasti akan salah sangka mengira aku sengaja mematikan ponsel. Aku berlari menuju mobilku dan mengecharge ponselku di mobil.


Aku harus mulai mencari Aurel dimana? Karena aku tahu dia tak akan langsung pulang. Kuputuskan menuju rumah sakit ibu mertuanya. Aku menemui bu Tarida dan bercerita padanya semua kejadian sejak awal hingga Aurel pergi meninggalkan kantorku.


Bu Tarida benar, saat hanya mendengar Aashita mengakuiku sebagai kekasihku aja Aurel sangat marah, apalagi sekarang dia melihatku dalam pelukan Aashita. Oh God, apa yang harus aku lakukan saat ini?


Aku dan bu Tarida meninggalkan rumah sakit jam lima sore. Sebenarnya aku ingin tetap disini dan salat Maghrib di mushola rumah sakit aja, tapi karena bu Tarida pulang, aku jadi ikut pulang. Sebelum kami berpisah bu Tarida memberitahu bahwa Aurel belum sampai di rumah. Ibu tahu karena dia sudah menghubungi asisten rumah tangga rumahnya.


Baru masuk mobil, ponselku berdering. Kulihat Um’ma menghubungiku.


“Assalamu’alaykum Raja,” sapa Um’ma lembut.


“Wa’alaykum salam Um’ma” jawabku lirih.


“Apa kamu baik-baik saja, sejak tadi perasaan Um’ma enggak  enak, sepertinya ada firasat buruk,” tegas Um’ma. Itu memang kodratnya. Setiap aku dan kakak akan sakit atau ada yang menyakiti Um’ma seperti bisa merasakan lebih dulu.


“Aku enggak baik-baik saja Um’ma. Ada masalah kecil yang akan jadi sangat besar buatku,” laporku. Sejak dulu aku dan kakakku selalu terbuka pada umma. Perempuan junjungan kami.


“Apa maksudmu akan jadi masalah besar?” tanya Um’ma dengan nada khawatir. Aku lalu menceritakan sejak Aashita datang ke kantor Aurel dan berlanjut dengan kedatangannya tadi di kantorku.


“Um’ma ingatkan?  Waktu aku diselingkuhi Ainayya, aku enggak peduli. Karena aku enggak cinta padanya. Tapi saat Aurel marah padaku akibat kedatangan Aashita aku seperti tertikam. Nah saat ini akan parah karena aku yakin akan sulit memohon maaf dari Aurel. Dia melihat aku dipeluk Aashita, pasti dia akan mengira aku membalas pelukan tersebut. Aku enggak sanggup kehilangan Aurel Ma,” aku curhat pada um’ma seperti kebiasaanku selama ini.


“Um’ma bingung. Pantas Um’ma sejak tadi punya firasat buruk,” keluhnya sedih. Seperti itulah umma sejak dulu. Selalu bisa merasakan hal buruk yang akan aku atau kak Amishaa alami.


“Dan sedihnya lusa aku wajib berangkat ke Qatar, mengantarkan hard copy berkas penting yang tak bisa diwakili oleh orang lain. Aku disana bisa satu minggu Ma,” aku menyalakan mesin mobilku dan akan menuju ke rumah ayahnya Aurel.


***


Aku membatalkan ke rumah Ayah, aku hanya bertanya melalui telepon saja dan menerima jawaban Aurel telah menghubungi ayahnya dia baik-baik saja dan ayahnya tak perlu khawatir.


Aku menuju kawasan Pondok Indah menemui seorang teman. Aku bertekad akan membalas semua rasa sakit yang diakibatkan oleh Aashita.


“Apa kau sudah siap?” tanyaku saat menuju rumahnya.


\==========================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta