
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
Sampai di kamar Aurel hanya membuka sepatunya lalu dia naik ke tempat tidur dan langsung melanjutkan mimpinya kembali. Rajev hanya geleng kepala. Dia nyalakan AC kamar dan ruang depan juga ruang tengah agar seluruh apartemen bisa dingin.
Setelah membuka baju kotor dan meletakkannya ke tempat baju kotor, Rajev menyusul Aurel berbaring. Tak lama dia pun ikut tertidur.
“*Honey*, kita kelewatan waktu salat Ashar dan Maghrib,” Aurel mengguncang tubuh Rajev yang juga sangat lelap. Aurel segera menuju lemari baju dan mencari kaos serta celana panjang dari bahan kaos yang biasa dia gunakan di rumah. Dia nyalakan air mandi ke arah panas agar bisa berendam dengan air hangat.
“*Honey*, enggak mau bangun?” tanya Aurel yang bahkan merasa berendam sangat lama, tapi Rajev tetap belum bangun juga.
“Aku tinggal salat ya. Waktu Magrib sudah habis. Terpaksa kita salat Maghrib diwaktu Isya,” tak menunggu Rajev, Aurel langsung berserah diri. Dia tahu suaminya juga sangat kelelahan.
Aurel menuju dapur. Di kulkas tak ada isi apa pun. Dia lihat ada mie instan, korned dan telur saja. Dengan cepat Aurel membuat omelet mie. Dia siapakan saos dan tehh hangat.
“*Honey*, bangun dong,” Aurel menciumi pipi Rajev dengan gemas.
“Hmmm …,”Rajev yang sekarang susah membuka mata.
“Kamu sudah terlewat waktu salat Ashar dan Maghrib. Bangun dulu yok,” bisik Aurel lembut. Dia usap pipi dan dagu suaminya.
Mendengar sudah terlewat dua waktu salat Rajev langsung duduk.
“Kamu enggak boleh seperti itu. Itu bahaya untuk kesehatan,” Aurel tak suka Rajev yang bangun karena kaget itu.
“Kamu sudah mandi dan salat?” tanya Rajev.
“Sudah. Aku pun tak kebagian waktu Ashar. Ayok cepat mandi dan salat. Aku bikin omelet mie untukmu,” Aurel menyiapkan baju ganti untuk Rajev suaminya.
\*\*\*
“Kenapa masak?” Protes Rajev setelah dia selesai salat.
“Iseng aja. Kalau masih lapar nanti kita keluar makan. Tapi rasanya aku malas. Mending beli online aja,” Aurel memberitahu Rajev dia mengubah rencana. Tak jadi pergi keluar beli makan seperti rencananya saat masih di bandara.
“Ya sudah, mending beli d rumah makan padang di seberang aja. Kita minta tolong pak satpam sekalian belikan mereka makan seperti biasa,” Rajev memberi saran pada istrinya.
“*Bharthave* panggil aja salah satu untuk ambil kertas pesanan dan uang, jadi mereka tidak kemalaman juga makannya,” Aurel mengambil uang untuk membeli makanan sementara Rajev menghubungi satpam di lobby melalui panggilan intern penghuni apartemen.
\*\*\*
Nasi padang satu porsi dengan lauk empat porsi, itu pesanan Aurel. Dia juga membelikan kedua satpam yang bertugas makan malam dan kembalian pun dia berikan untuk sang satpam.
“*Honey* mau makan sekarang?” tanya Aurel.
“Enggak *Love*. Aku terlalu kenyang dengan omelet korned kejumu barusan,” jawab Rajev. Memang Aurel membeli makanan sebagai persediaan. Karena stok di rumah ini sama sekali kosong dan bila tengah malam beli maka rumah makan sudah tutup. Nanti sehabis perang kalau kelaparan bisa bahaya.
“Kalau begitu aku simpan dulu ya. Nanti tinggal dipanaskan di *micro wave* aja,” Aurel membuka bungkusan nasi dan lauk. Menaruh masing-masing di mangkok lalu dia tutup dengan tudung saji.
“Besok sebelum kita pulang kesini, kita bawa anak-anak belanja sekalian mereka bermain ya. Kita isi semua kebutuhan kita,” Aurel yang memang belum pernah menginap di apartemen ini mengambil buku notes kecil dan pulpen. Dia lihat alat dapur yang tidak ada seperti rice box, majic jar dan beberapa barang lainnya.
“*Love*, aku mau pesan pizza, kamu mau enggak?” tanya Rajev yang tergoda akibat melihat iklan di televisi.
“Mau, yang *extra che*ese dan *meat*,” jawab Aurel. Dia pikir pizza tak cepat basi dan bila sisa bisa disimpan di kulkas lalu nanti dipanaskan di micro wave bila ingin pizza panas.
“Pesankan juga salad, aku ingin dua porsi salad,” Aurel memang sangat suka salad buah atau sayuran.
“Ini, kamu mau tambah apa?” Aurel memberikan list yang dia buat pada Rajev.
“Aku mana tahu. Terserah kamu aja,” jawab Rajev.
“Apa diapers abang Darrel dan kebutuhan mandi anak-anak sudah kamu masukkan? Biar kita tidak membawa yang ada di rumah,” hanya urusan anak-anak yang Rajev pikirkan.
“Alat mandi dan perlengkapan mereka sudah, hanya diapers yang belum. Aku juga ingin membelikan mereka baju tidur khusus disini. Biar baju rumah enggak repot. Ah sandal rumah mereka,” seru Aurel. Hal-hal sepele seperti itu bila tak dicatat bisa banyak yang tak dibeli.
“Apa enggak perlu mainan?” tanya Rajev.
“Enggak perlu. Selama mereka disini kita gunakan waktu untuk bercengkerama dengan mereka. Bukan mereka sibuk dengan mainannya dan kita sibuk dengan pekerjaan kita. Nanti bila kita telah tinggal serumah juga aku ingin hari Sabtu dan Minggu kita selalu menghabiskan waktu bersama mereka dan kita kurang penggunaan ponsel di hari itu,” Aurel memberi tahu keinginannya dalam mendidik anak-anak.
“Aku setuju *Love*. Dulu uppa dan umma juga selalu ada untuk aku dan kak Amishaa di weekend. Mereka tak menerima tamu yang berkaitan dengan bisnis. Kalau pun ada tamu, itu yang berhubungan keluarga,” sahut Rajev mengingat bagaimana kedua orang tuanya lebih mementingkan anak-anaknya. Dan jaman dia kecil tentu belum ada ponsel.
\*\*\*
“*Love*, Aaaa …,” Rajev menyuapi Aurel pizza yang baru datang dan masih hangat.
Tanpa menolak Aurel membuka mulutnya. Salad sudah dia masukkan ke kulkas, karena dia yakin enggak akan sanggup makan ssalad sekarang.
“Pakai saos sambal dong,” pinta Aurel. Perempuan itu masih menatap list yang dia buat. Memikirkan apa yang belum dia tulis di daftar itu. Sesuai request istrinya Rajev memberi saos sambal pada slice pizza yang akan Aurel makan.
Merasa semua sudah tercatat, Aurel memasukkan kertas list kedalam dompetnya. Dia tak ingin daftar itu tertinggal bila dia ganti tas. Dia langsung konsen untuk makan salad.
Baru saja membuka kulkas, Rajev sudah memeluknya dari belakang dan mencumbunya. Besok mereka akan kedatangan tamu kehormatan yaitu dua buah hatinya. Maka Aurel tak menolak apa yang suaminya lakukan agar besok Rajev tak uring-urinngan bila harus menunggu malam sesudah dua krucil tidur.
Akhirnya nasi Padang dan lauk secukupnya dipanaskan karena mereka berdua kelaparan habis melakukan perang peluh dua putaran. Medan pertempuran mereka terjadi di meja dapur dan di kamar mandi.
### Sisa lauk memang sengaja Aurel beli sebagai persedian sewaktu-waktu butuh makanan secara cepat.
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : **GORESAN PENA**, DENGAN JUDUL NOVEL **DIKEJAR DUDA** YOK!

***Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa***
***YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya***
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta***