BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
REKENING BERSAMA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Belum. Tadi pagi kan memang harus puasa sebelum pemeriksaan.” jawab kakek Ikhlas Sebayang. Tentu dia tak menolak diajak makan siang bersama menantu, cucu dan cicitnya.


Mereka makan sambil berbincang akrab. Kakek memperhatikan bagaimana Darrel cicitnya mulai ikut makan di meja makan.


Rasa syukur tak terhingga Ikhlas panjatkan ketika Darrel sudah mulai kembali ceria dan melupakan trauma ketika dia diculik beberapa waktu lalu .


“Uyut nanti menginap?” tanya Aira.


“Mengapa?” tanya Ikhlas Sebayang, lelaki tua ini merasa ada yang aneh dengan pertanyaan cicitnya.


“Kakak pengen sekali-sekali diantar sekolah oleh Uyut seperti teman Kakak,” sahut Aira polos. Aurel dan Rajev tak bisa berkata-kata mendengar keinginan putri sulung mereka.


“Baiklah. Uyut akan menginap. Dan besok sebelum pulang ke Cisarua, Uyut akan mengantarmu ke sekolah,” sahut pak Ikhlas Sebayang.


“Yeeeeaaay. Terima kasih Uyut,” seru Aira dengan senang.


***


Menjelang Maghrib keluarga mulai berkumpul. Saatnya salat Maghrib yang sudah datang tentu salat berjamaah bersama. Sejak tadi mbak Yuni dan mbak Nah sudah mempersiapkan oleh-oleh dari India yang tentunya sudah ada nama penerima sehingga tak akan tertukar. Sampai saat ini belum ada yang tahu maksud Rajev dan Aurel sesungguhnya meminta semua berkumpul malam ini.


“Yang sudah mau makan langsung ambil sendiri yok. Enggak ada acara resmi. Cuma pengen kumpul aja,” Aurel meminta para tamu mulai makan.


Selesai makan mereka semua bercerita ramah tamah. Aurel meminta Rajev mengambil sesuatu yang sudah dia persiapkan.


“Apa itu Rajev?” tanya bu Tarida. Dia lihat menantunya membawa sebuah kotak yang ditutupi kain gold.


“Taruh meja aja Uppa,” pinta Aurel pada Rajev.


“Kakek, Ibu, Ayah, dan semuanya. Terima kasih sudah berkenan hadir. Kemarin kami merayakan ulang tahun Darrel yang ketiga di Tirur India. Karena biar bagaimana pun kakek dan neneknya disana juga ingin merayakan ulang tahun cucunya.”


“Selain ulang tahun Darrel, kemarin kami juga dibuatkan acara pengenalan pada kerabat. Mungkin kalau istilah kita adalah acara ngunduh mantu. Walau ibu dan ayah di India bikin secara sederhana, bukan pesta besar.”


“Dan yang mau kami beritahu, sebenarnya kami punya kado special buat acara ngunduh mantu itu. Nah monggo Ibu yang buka kado special kami itu. Enggak perlu diangkat ya Bu,” Aurel mempersilakan bu Tarida membuka kain penutup kotak yang Rajev bawa tadi.


Bu Tarida tanpa diminta dua kali membuka kain penutup itu.  Semua melihat test pack dan sepatu rajut kecil serta hasil USG disana.


“Kamu hamil?” tanya bu Tarida terkejut.


Aurel hanya tersenyum sambil mengangguk bahagia.


“Ibu perhatikan foto USG nya,” pinta Aurel. Karena bu Tarida hanya melihat selintas.


“Apaaaaaaaaaa …?” pekik bu Tarida


“Ada apa inang boru?” tanya Myrna bingung. Myrna bingung karena istri pamannya menjerit.


Bu Tarida menutup mulutnya dan dia terisak. Aurel memeluk serta menciumi pipi ibunda Radit itu.


“Aurel hamil baby twins,” jawab bu Tarida lirih sambil terisak.


“Alhamdulillaaah,” kakek, ayah Wicak dan semua yang hadir mengucap hamdalah. Walau bukan keturunan Sebayang lagi, tapi semua tetap bahagia.


“Selamat ya Bu,” Murti dan Yon yang kebetulan paling dekat dengan Aurel juga langsung memberi selamat. Dilanjut dengan Ahmad dan Wina serta Reza yang hari itu hanya bisa datang sendirian sebab istrinya sedang mabok hamil anak kedua.


Secara otomatis Yon masuk dalam team inti perusahaan. Bukan karena kedekatannya dengan Murti, tapi karena dia adalah manager keuangan. Juga karena pola pikirnya yang membawa banyak sumbangan pikiran pada anggota team lainnya.


***


Sejak diketahui hamil, Rajev makin ketat menjaga istrinya. Beda dengan Radit yang sedikit longgar. Mungkin karena saat itu kondisi Radit juga tak berdaya. Dia baru saja bangun dari tidur panjang dan harus ada di kursi roda.


Rajev ketat mengawasi makanan yang masuk. Dia menekankan protein, kalsium dan serat harus masuk dalam jumlah besar. Untungnya Aurel bukan perempuan manja dan dalam kehamilan ini juga tak mengalami morning sickness. Hanya dia terlalu cepat lelah.


Tak banyak keinginan Aurel. Hanya saat ini dia hanya mau minum air rebusan kacang hijau saja. Tak mau air putih, teh atau minuman lain.


Bu Siti setiap hari merebus satu genggam kacang hijau hanya untuk mengambil air rebusannya saja. Kadang dia merebus kacang hijau banyak, lalu ampasnyaa dia olah menjadi isi onde-onde atau membuat gandasturi.


Dengan pintar Rajev membuat susuu ibu hamil dengan air rebusan kacang hijau. “Love, susu-mu sudah hangat, cepat diminum dulu.”


Aurel yang sedang membacakan cerita untuk Darrel menerima gelas yang dibawakan Rajev ke kamar Darrel. Dia memang hanya mau minum susuu bila Rajev yang membuat. Bukan hanya Rajev yang antar.


“Honey, aku kepengen keripik kulit ayam,” Aurel menyerahkan gelas kosong pada Rajev. Dan dengan lembut Rajev langsung mengusap bibir istrinya dengan tissue basah.


“Baik, aku suruh mang Ujang dan mang Asep berpencar mencari itu di beberapa super market yang masih buka,” jawab Rajev sigap.


“Iya Honey, kalau enggak dapat malam ini, besok juga enggak apa-apa,” sahut Aurel dan dia kembali melanjutkan cerita untuk Darrel.


‘Dia memang beda. Aku dengar kalau ibu hamil minta, harus segera di dapat apa kemauannya. Aurel tidak. Dia selalu menggunakan logika,’ itu yang membuat Rajev selalu ingin memenuhi semua yang diminta Aurel.


Rajev berlari ke kamarnya untuk mengambil uang cash agar bisa menyuruh kedua pegawainya membeli apa yang diinginkan Aurel.


***


Yon dan Murti sedang mempersiapkan lamaran yang akan dilakukan dua minggu lagi. Kedua nya belum bicara pada team. Mereka hanya akan melaporkan bila lamaran telah terjadi.


“Jeng, ini apa enggak kurang?” tanya Yon.


“Mas, yang datang kan cuma keluarga inti Mas aja sama keluargaku ditambah bude pakde lima orang. Mau buat apa lagi. Itu lebih dari cukup. Ingat kita harus banyak nabung untuk pernikahan kita kelak. Aku enggak mau orang tua yang keluarin biaya saat kita nikah nanti,” sahut Murti dengan sabarnya. Yon protes karena uang yang Murti tulis untuk anggaran pertemuan besok menurutnya sangat sedikit.


“Atau gini aja, besok pagi sebelum kerja kita ke bank dulu. Kita bikin tabungan bersama. Semua uang untuk persiapan pernikahan dan rumah tangga kita kelak kita masukkan di rekening itu,” usul Yon.


“Baik, aku akan izin mbak Wina datang sedikit terlambat karena akan ke bank,” sahut Murti. Murti tahu rekening bersama hanya bisa diambil oleh satu pihak, tapi dengan izin pihak lain. Daripada rekening tunggal tentu lebih aman rekening bersama.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta