
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Yon telah sampai di rumah calon mertuanya. Dia naik ojol jadi mudah mencari alamat rumah Murti.
“Assalamu’alaykum,” sapa Yon sopan.
“Wa’alaykum salam,” sahut perempuan cukup umur yang membuka pintu. Rumah Murti adalah rumah BTN type 36 sederhana yang sudah ditambah ruang kamar. Aslinya type 36 mempunyai dua kamar. Sang ayah menambah dua kamar lagi agar semua anaknya punya ruang privasi sendiri. Tapi ya tetap sederhana. Hanya dari batako tanpa diplester.
“Saya Yon Bu, teman Murti dari Jogja,” Yon memberi salim pada ibu itu.
“Masuk Nak, Murti sore sepulang kerja langsung melatih pencak silat. Nanti sebentar lagi dia pulang,” sahut si ibu.
‘*A*ku pernah dengar dari Murti kalau bu Aurel juara karate, ternyata dia sendiri pelatih pencak silat,’ batin Yon mengetahui kekasihnya mempunyai ilmu bela diri yang tidak rendah karena sudah jadi pelatih.
“Assalamu’alaykum. Sudah lama Mas?” tanya Murti.
“Baru koq,” jawab Yon.
“Aku mandi dulu ya, silakan diminum,” Murti izin untuk mandi dulu. Rupanya ibunya sudah menyediakan minum untuk Yon.
Murti adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya laki-laki hanya satu tahun lebih tua, sudah bekerja dan sedang kuliah dari hasil kerjanya. Murti nomor dua dan sejak satu tahun ini juga mulai kuliah setelah ditarik oleh Aurel dari tenaga keamanan menjadi pembantu Aurel.
Murti ambil kuliah khusus karyawan, jadi tidak mengganggu jam kerjanya. Dan adik bungsunya juga lelaki. Jaraknya sangat jauh dengan Murti. Adik bungsunya baru kelas satu SMP.
“Maaf ya Mas, enggak ada yang nemani. Ibu sedang membuat peyek untuk ditaruh di warung. Kakak, adik dan bapak belum ada yang pulang,” Murti memberitahu mengapa Yon dibiarkan sendirian di ruang tamu.
“Oh pantas, koq sepi. Dan tadi hanya ibu saja yang ada,” balas Yon. Dia kira dia tak diterima di rumah ini, jadi dibiarkan sendirian di ruang tamu.
“Aku enggak bawa apa-apa. Ini ada salak dari kebun saja.” Yon memberikan keranjang salak yang ia bawa, juga bakpia sebagai oleh-oleh.
“Apaan sih Mas, pakai ngerepotin aja,” Murti jadi tidak enak sendiri.
“Coba ceritakan bagaimana prosesnya Mas kirim lamaran ke perusahaan tempatku bekerja?” pinta Aurel.
“Waktu kita ke candi Borobudur, Mas cerita kan kalau sehabis wisuda akan cari kerja sesuai ijazah yang Mas miliki. Nah kemarin ada job Fair di Jogja, Mas mendaftar disana. Mas lihat ada lowongan di kantormu yang pas dengan ijazah yang Mas miliki. Ya udah Mas coba masukin lamaran. Dua hari kemudian ada tanya jawab melalui email,” cerita Yon.
“Sesudah dari tanya jawab pertama, satu minggu kemudian ada tanya jawab lagi, dan kembali Mas jawab. Lalu ada panggilan ke kantor tadi pagi itu. Ya Mas datang lah. Mas juga belum pamit ke pak Dennis. Takut enggak lulus disini tapi sudah pamit ke pak Dennis kan berabe,” lanjut Yon.
“Kalau disini enggak lulus, ya Mas akan melamar di kantor pak Dennis sesuai ijazah baru itu,” Yon menuntaskan ceritanya.
“Apa sore ini belum cek email?” tanya Murti. Dia tahu semua pelamar sudah dikirimi email. Besok pagi baru akan ditelepon karena tadi sudah terlalu sore dan orang HRD sudah mau pulang.
“Belum,” sahut Yon sambil mengambil ponsel dari sakunya.
“Alhamdulillah Jeng, Mas diterima dikantormu,” Yon sangat bahagia, dia bisa satu kota dan satu kantor dengan pujaan hatinya.
“Sebaiknya Mas segera pulang ke Jogja, karena Mas harus pamit ke pak Dennis, belum lagi Mas harus bersiap pindah kesini dan cari kost disini. Padahal besok pagi Mas wajib datang ke kantor dan hari Senin depan sudah mulai bekerja,” sahut Murti.
Orang HRD memang bilang, salah sendiri yang tidak baca email lalu besok datang terlambat di hari penerimaan pegawai baru karena baru tahu setelah ditelepon. Itu beralasan karena sejak awal mereka berkomunikasi lewat email.
***
“Upp… aaaaa,” lirih Darrel memanggil Rajev yang sedang menyuapi Aurel makan malam.
“Yes Son, sudah bangun sayang?” Rajev meletakkan piring dan sendok lalu menghampiri Darrel. Dia langsung menekan bell memberi tahu perawat kalau Darrel sadar.
Aurel berupaya turun dari bednya. “Pelan Love,” pesan Rajev. Dia bingung harus menjaga dua pasien sendirian.
“Wah Dede Darrel sudah bangun ya sayang. Sebentar lagi dokternya datang. Kita ukur suhu dulu ya,” suster meletakkan thermometer di ketiak Darrel.
Chander dan Ahisma yang baru masuk karena keluar untuk makan malam kaget melihat Aurel sedang berupaya turun dari bed-nya. “Sini Uppa bantu.”
Dipapah Chander, Aurel mendekati Darrel. “Jagoan Um’ma.”
Aurel mencium pipi Darrel yang sembunyi dalam pelukan Rajev. Dia takut pada perawat. “Ini APPUPAN ( kakek ) dan AMMUMA ( nenek ), Abang Darrel kenal ‘kan? Dan ini perawat, yang bantu obatin Abang,” Aurel membantu Darrel agar tenang.
“Dia sangat trauma Umma, jadi dia takut pada orang,” Aurel menerangkan pada ibu mertuanya.
“Kami mengerti Nak, memang harus super lembut dan sabar menemani dia agar bisa pulih,” sahut Ahisma sambil mengusap lembut lengan Aurel.
“Suhunya bagus Ibu. Mohon beri banyak larutan terus. Dan kita tunggu dokter datang. Karena beliau sedang visite ke ruangan lain,” suster memberitahu kalau suhu tubuh Darrel telah normal.
***
Tadi sore bu Tarida dan mbak Nah sudah diperbolehkan pulang. Malam ini sehabis cairan infus habis, Aurel sebagai pasien juga sudah dibolehkan pulang. Maka secara administrasi tinggal Darrel saja yang masih berstatus sebagai pasien.
Tentu semua bersyukur mendengar berita baik itu. Kakek masih menginap di hotel di Jakarta. Dia sedang sibuk dengan Reza. Mereka akan menekan semua karyawan menandatangani perjanjian kontrak baru.
Semua pegawai lama atau baru wajib menandatangani surat itu. Yang tidak mau tanda tangan dipersilakan keluar atau mundur dari kantor. Itu keputusan kakek.
Chander dan Ahisma telah sepakat akan pulang ke India bila Darrel cucu mereka telah diperbolehkan pulang ke rumah. Mereka tak ingin kepikiran bila tiba-tiba kondisi Darrel kembali drop.
Di rumah, Rajev telah menukar kamar Darrel dengan kamar yang kosong. Dia mengganti cat di kamar tamu dengan thema untuk anak lelaki. Tapi tak sama dengan thema kamar Darrel yang lama. Itu untuk mencegah Darrel teringat kejadian penculikan yang dia alami dikamar lama. Kamar lama Darrel juga langsung diubah menjadi kamar tamu.
***
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : RAHAYU NINGTYAS BUNGA KINANTI , DENGAN JUDUL NOVEL POSESIF HUSBAND YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta