BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
BERITA DUKA DARI BUDE KURNIA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Mbak, ada apa antara kamu dan pak Dennis?” tanya Murti  saat mereka sudah selesai membereskan berkas kerja untuk lusa.


“Aku enggak tahu. Kemarin dia telepon. Tanya tentang pertemuan minggu depan dengan bu Aurel. Waktu itu kan kita belum akan gabung dengan pertemuan dengan pak Rangga. Jadi aku bilanglah kapan jadwalnya belum tahu karena kamu dan Yon enggak ada,” sahut Wina.


“Eh dia bilang, aku harus ada di pertemuan dengan Aurel. Kalau aku enggak ada dia enggak mau tanda tangan. Kan aku bingung Ti. Yang nentuin siapa personal yang nemani Ibu kan bukan aku? Tapi aku juga kebeban mental bila pertemuan terjadi tapi enggak jadi sign,” Wina menjelaskan pada Murti masalah yang ada.


“Eh kemudian tadi dia datang, dia bilang kangen ama aku. Dia bilang kalau aku mau terima video call dari dia, dia enggak perlu selalu datang buat nemuin aku. Selanjutnya kamu denger sendiri kata-kata dia tadi,” tak ada yang ditutupi oleh Wina pada Murti.


“Perasaan Mbak sendiri ke dia gimana?” tanya Murti.


“Aku enggak punya rasa apa-apa Ti. Seperti kamu tahu, aku enggak nutup mata dan pikiran buat orang lain. Tapi aku belum menerima siapa pun. Aku masih seperti dulu aja. Enggak anggap siapa pun akan mengganti mas Ahmad,” Wina memang belum ada rasa apa pun pada Dennis yang memang baik pada semua orang itu.


“Kalau begitu jalani saja Mbak. Jangan tutup hati. Ingat pesan mas Ahmad,” sahut Murti.


“Aku juga ingat itu. Dan aku ada hal lain yang belum bisa aku ceritakan padamu saat ini Ti. Tapi ini berkaitan dengan sosok pak Dennis. Nanti bila tiba waktunya akan aku ceritakan. Aku takut salah bila cerita sekarang,” sahut Wina.


Sudah empat bulan Ahmad meninggal, artinya lebih dari seratus hari dan Wina tetap belum mempunyai siapa pun sebagai calon pendamping. Wina merasa tidak bersalah karena dia tidak menutup hati dan berlarut dalam kesedihan.


***


Usia kandungan Aurel masuk bulan ke enam. Dia, tepatnya Rajev sedang senang hunting barang-barang untuk kamar bayi mereka. Saat ponsel Aurel bergetar.


“Kenapa Ti?” tanya Aurel karena yang menghubungi adalah Murti asisten keduanya.


“Hanya ingin mengabarkan, mertua mbak Wina meninggal. Jadi kami siang ini meluncur ke rumah duka menemani mbak Wina. Mungkin besok saya dan mbak Wina tidak ke kantor. Bila ibu mau ke kantor tolong tunda agar ibu tidak sendirian di kantor,” jawab Murti.


“innalilahi … Mertua yang mana, bapak mas Ahmad atau ibunya?” tanya Aurel lirih. Dia baru bersiap akan dijemput Rajev untuk berburu furniture kamar bayi. Memang Rajev sengaja ambil waktu menjelang sore agar istrinya tidak kepanasan bila berkegiatan siang hari. Lagi pula sepanjang siang Rajev harus kerja dulu.


“Bapaknya mas Ahmad Bu,” balas Murti.


“Kalau kamu sudah sampai, kamu share lock ya, saya akan kesana besok,” Aurel tentu akan datang karena Wina adalah tangan kanannya sejak dulu.


FLASH BACK ON


Wina baru saja mengatakan kalau dia punya suatu rahasia yang masih dia simpan karena belum yakin. Saat itu ponselnya berdering dengan nama pemanggil bude Kurnia, budenya Ahmad.


“Iya Bude, Asslamu’alaykum,” Wina memberi salam pada bude almarhum suaminya.


“Wa’alaykum salam Win. Bude mau kasih tahu, bapak baru saja sedho ( meninggal ). sekarang kami masih di rumah sakit Kinasih. Mungkin dua jam lagi kami tiba di rumah,” sahut bude Kurnia lirih.


“Injih Bude. Wina akan segera ke rumah,” sahut Wina lemas. Dia tak menyangka kalau ayah mertuanya yang lembut seperti suaminya juga cepat pergi meninggalkannya.


Murti yang mendengar khabar duka langsung menghubungi Reza yang sedang mengantar Dennis di lobby. Dennis akan kembali ke kantornya.


“Ada apa Ti?” tanya Reza.


“Bisa tolong kami? Orang tua mas Ahmad meninggal. Saya akan menemani mbak Wina dan kami harus menjemput bulek mbak Wina dulu. Tolong minta siapkan mobil kantor. Kalau bukan mas Reza kan enggak bisa sembarangan minta mobil kantor. Mas Yon enggak ada jadi saya enggak bisa minta dia antar kami,” Murti memberitahu maksudnya menghubungi Reza.


“Ada apa?” tanya Dennis karena mereka memang belum bersalaman untuk berpisah. Tadi masih bicara soal wacana kelanjutan proyek kedua di Jogja.


“Saya tadi lupa tanya Murti, orang tua almarhum suami Wina meninggal. Jadi Murti dan Wina butuh muter-muter ambil pakaian dan ngejemput buleknya Wina karena mereka akan menginap di rumah duka.


“Kalau begitu biar saya temani Wina. Kalau ada buleknya yang menemani Wina, Murti enggak perlu menginap. Nanti kalau enggak ada kamar gimana. Lebih baik malam Murti pulang dengan kamu dan besok pagi bisa kembali lagi,” Dennis segera mengambil keputusan akan menemani Wina saat perempuan itu sedang berduka.


“Murti, kalian bareng pak Dennis ya. Saya pulang dulu. Nanti saya nyusul ke rumah duka. Dan karena ada bulek Ranti, nanti malam Murti pulang bersama saya. Besok pagi baru kamu kembali ke rumah duka,” Reza tentu harus ambil amplop dan uang cash untuk uang duka dari perusahaan bagi Wina. Itu sebabnya dia bilang akan pulang dulu. Padahal dia akan ambil amplop di ruangannya.


“Baik Pak, sahut Murti sambil terus membimbing Wina ke mobil pak Dennis.


“Arahkan alamat rumah Wina ya Ti,” Dennis berkata pada Murti karena dia belum tahu alamat terbaru perempuan itu.


FLASH BACK OFF


“Inget jangan semua barang kamu beli dua, mereka harus bisa berbagi. Seperti sekarang, mereka berbagi space di rahimku,” Aurel mengingatkan Rajev agar tak melakukan pemborosan.


Walau uang Rajev tak berseri, bukan jadi alasan semua bisa dibuang tak berguna. Aurel lebih senang membagi dengan orang yang membutuhkan.


“Iya Love, aku mengerti,” sahut Rajev.


“Aku hanya memilah itu untuk kamu pilih, mana yang lebih kamu suka.”


***


“Iya Mas Reza. Kan seharusnya dari kantor juga tak ada karena bukan  keluarga langsung. Tapi karena kita dekat ya saya rasa segitu wajar,” Aurel menjawab pertanyaan Reza tentang uang duka. Wina juga tahu kalau dalam peraturan perusahaan tentu tak ada uang duka resmi dari perusahaan.


“Baik Bu, ini saya akan kesana sehabis salat maghrib. Nanti saya pulang dengan Murti karena Wina ada bulek Ratmi yang menemani. Besok baru Murti berangkat lagi. Saya besok tidak bisa ikut karena saya dan Yon sedang persiapan untuk berangkat lusa. Lalu Tangerang saya sudah kabari saya pending sampai Murti bisa berangkat,” lapor Reza melalui telepon. Dia menanyakan besaran uang duka dari perusahaan.


Aurel lalu kembali fokus pada barang yang dia harus pilih untuk diletakkan dikamar bayi mereka nanti.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   UNCOMPLETED STORY YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNCOMPLETED STORY  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta