BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KALAH JUDI



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 “Minta waktu buat aku ketemu dengan para penyidik di polisi,” perintah orang tersebut.


“Mengapa tidak Jendral tanya langsung  pada mereka?” tanya Reza bingung.


“Tak usah banyak omong, kerjakan saja sesuai perintahku!” lalu telepon ditutup.


Reza terbengong, susah kalau orang besar itu sudah menyuruhnya. Reza serba salah. Dia segera menghubungi kantor polisi yang menangani kasus Didu. Reza menyampaikan semua pesan sang jendral pada orang dekatnya di kantor polisi.


***


‘Kamu sehatkan? Anak- anak juga sehatkan? ‘chat Rajev kali ini membuat Aurel yang sedang emosi karena banyak persoalan kantor langsung tambah emosi. Dia langsung mendial nomor ponsel Rajev.


Rajev kaget ketika chatnya langsung di respon oleh Aurel .


“Assalamu’alaykum Habibi,” sapa Rajev lembut. Rajev memang 11-12 dengan Radit. Mereka sama-sama lembut dan pengasih. Sama-sama dari keluarga yang saling mencinta. Buat kedua lelaki itu, keluarga adalah segalanya. Habibi yang dimaksud Rajev adalah kesayangan, bukan nama pengganti bagi Aurel.


“Wa’alaykum salam. I don't know who the informant is who always reports everything about me. Then you don't need to talk about my current condition. You just ask him and don't ever bother me again ( saya enggak tau siapa informan yang selalu melaporkan semua hal tentang saya. Maka kamu enggak perlu basa basi tanya kondisi saya saat ini. Kamu tanya saja pada dia dan jangan pernah mengganggu saya lagi )” cerocos Aurel langsung to the poin. Sekali lagi Yanktie minta maaf bila penulisan bahasa inggrisnya kurang benar.


“Honey, don't be like that. I ask your condition because I care about you (   sayang, jangan ketus seperti itu. Saya menanyakan kondisimu karena saya perhatian atau sayang  padamu ),” Rajev berupaya menjelaskan alasan tindakannya selama ini.


“No need” jawab Aurel lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.


Walau Aurel meneleponnya sambil marah-marah tapi Rajev senang karena bisa mendengar suara pujaan hatinya.


Ketika Aurel baru saja memutus hubungan telepon, pintu ruang kantornya diketuk.


“Masuk,” jawab Aurel masih dengan nada ketus. Dia masih kesal terhadap Rajev.


“Kakeeeeeeeeeeek,” Aurel langsung berdiri dan menghampiri kakek suaminya. Dia mencium tangan kakek almarhum suaminya lalu memeluk lelaki yang sudah sepuh namun tetap gagah itu. Lelaki pemilik perusahaan yang dia pimpin saat ini.


“Wina, tolong bikinkan teh madu, sesudah itu kamu keluar karena saya ingin bicara berdua dengan cucu saya,” perintah kakek pada Wina. Sejak Radit meninggal memang Aurel meminta Wina satu ruangan dengannya. Dia tak mau bila menerima tamu atau konsumen hanya berdua saja. Tak ada saksi mata.


“Baik Kek,” Wina segera menuju pantry kantor, dia membuat teh madu bagi Aurel dan kakek. Pak Ikhlas memang tak mau dipanggil Pak atau Bapak oleh Wina. Dia minta Wina memanggilnya Kakek saja.


“Silakan Kek,” Wina meletakkan dua cangkir di meja, lalu dia membawa berkas yang sedang dikerjakannya keluar ruangan dan menutup pintunya rapat. Dia menuju ruangan pak Reza untuk numpang kerja disana.


***


Selain untuk kembali mematangkan rencananya merebut perusahaan milik mantan mertuanya, dia juga kangen terhadap Yulia. Istrinya itu merupakan candu untuknya, walau disini ada istri adik sepupunya. Namun sejak dia menikah dengan Yulia, dia malas bermain dengan simpanannya itu. Binsar memang sosok yang setia pada satu perempuan.


Bila ada istri memang Binsar selalu setia. Dulu dengan istri pertama dia pun tak pernah selingkuh atau jajan. Setelah istri meninggal dia baru kembali dekat dengan perempuan yaitu istri adik sepupunya. Tapi setelah menikah dengan Yulia, dia tak pernah bermain dengan pengurus rumah tangganya itu.


“Kalau semua tak ada yang mau nampung lalu bagaimana hasil kebun kita? Coba kamu cari info agar hasil panen kita bisa terjual,” Binsar memerintah adiknya mencari info peluang pemasaran hasil kenun sawit miliknya.


“Ada CV DS Bang, tapi harganya sangat rendah. Dia hanya berani memberi harga 45% dari harga normal,” jawab si adik sambil meminum kopinya.


“Coba hubungi mereka sekarang, biar Abang yang bicara,” pinta Binsar. Setelah tawar menawar yang alot akhirnya hasil panen Binsar akan di terima oleh CV DS dengan harga 60% dari harga normal dengan syarat semua buah muda juga di ijon kan dengan pembayaran 50% di muka.


‘Untung Abang sendiri yang bicara, sehingga bisa ada jalan keluar. Kalau aku, bisa apa?’ demikian pemikiran adik sepupu Binsar. Tentu kata sepakat tidak akan terjadi bila CV tersebut hanya bicara dengannya. Dirinya bukan decision maker. Dia hanya pegawai abang sepupunya.


Binsar segera bersiap ke tempat favoritenya bila dia sedang pegang uang. Tempat dia berjudi. Semua temannya disana hafal Binsar tidak suka minum, karena dia tak ingin mabuk lalu berjudi tanpa perhitungan karena mabuk. Binsar selalu ingin berjudi dengan kesadaran tinggi.


Ditempat Binsar biasa datang sudah cukup rame, ada beberapa orang baru yang belum pernah Binsar kenal. Seorang berperawakan kecil kurus berkumis sedang sibuk menyiapkan taruhannya. Binsar mengamati beberapa meja. Dia memesan minuman soda kaleng seperti biasa. Akhirnya dia memutuskan meja mana yang akan dia tuju.


Hampir pagi saat Binsar pulang ke rumahnya, semalam dia kalah banyak. Dia bertekad akan menebus kekalahannya nanti malam. Dia masuk kamarnya lalu tidur. Saat bangun siang hari Binsar menghubungi anak buahnya di Jakarta untuk menghapus jejak keterlibatannya dengan penyerangan pada Aurel.


Sepupu Yulia yang bertugas merekrut para preman sudah tertangkap. Dia tidak ingin namanya ikut tersangkut dalam proses kekacauan itu. Apalagi saat ini Latifah sepupu Yulia juga sudah tertangkap. Dan polisi sudah tau kalau Latifah adalah adik dalang kekacauan tersebut. Otomatis Yulia sebagai orang yang mengumpan Ifa dan kakaknya akan segera terseret.


Malamnya kembali Binsar bertarung dimeja judi dan kembali kalah. Begitu seterusnya hingga dia kehabisan uang untuk membayar para pekerja di kebunnya.


***


Entah siapa yang memulai, atau lebih tepatnya siapa yang mengompori. Kali ini para pekerja mengancam akan membakar rumahnya bila upah mereka tidak segera dibayar. Mereka sudah datang mengepung rumah Binsar. Kali ini mereka tak mau lagi bersabar dengan alasan tuntutan peut taak bisa ditunda.


Adik sepupu Binsar meminta waktu pada para pekerja kebun sawit yang dipimpinnya.Dia mencoba beberapa orang yang biasa menerima gadai tanah, tapi semua menolak dengan alasan kehabisan dana.


\=========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta