
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Ngopi dulu yok sambil nunggu mobil proyek datang,” ajak Aurel. Mobil proyek sudah berangkat sejak satu minggu lalu bersama kepala pekerja. Mobil proyek akan membawa pak Abdullah, pak Halim dan pak Joko langsung ke bedeng proyek. Disana sudah di bangun kamar-kamar untuk mereka. Sedang Aurel dan Murti akan di jemput mobil dari Dennis untuk di antar ke hotel.
“Mbak Murti aku pesankan snack dong, lapar nih,” pinta Aurel saat mbak Murti sedang menulis daftar pesanan dari team yang ada di meja itu.
“Siap Bu, minumnya hot milk choco kan? Yang lain pesanannya apa?” tanya mbak Murti.
Rajev yang sedang ngopi sambil menunggu jadwal keberangkatannya mendengar suara sosok yang sangat dirindukannya dimeja belakangnya. Dia menoleh dan melihat sosok seperti Aurel duduk memunggunginya. Tanpa buang waktu Rajev segera berdiri untuk memastikan.
“Assalamu’alaykum el….eh semua,” sapa Rajev, lelaki itu sudah menyebut L, mau bilang love, tapi dibatalkan karena orang-orang yang duduk bersama kekasihnya dia belum kenal semua.
“Wa’alaykum salam,” jawab semua yang ada disana hampir bersamaan, termasuk Aurel. Karena menjawab salam wajib hukumnya. Semarah apa pun, salam harus dibalas dengan baik.
Aurel tentu kaget melihat Rajev disana. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Rajev, mahluk yang sudah satu minggu dia hindari.
“Bisa bicara sebentar?” pinta Rajev sopan.
Aurel tidak mau semua mendengar, dia terpaksa berdiri dan akan pindah ke meja Rajev “Mbak Murti kalau pesananku datang suruh antar ke meja sana ya” katanya.
Akhirnya Rajev agak tenang karena Aurel mau mengikutinya pindah kemejanya. Tanpa buang waktu Rajev langsung bicara to the poin.
“Kamu salah sangka Love, aku tidak pernah menduakanmu. Dia mantan pacarku ketika aku SMA dan kami sudah tidak pernah bertemu sejak sembilan tahun lalu. Aku baru ketemu dia di mall saat aku makan bersama Aira. Aku tidak tau bagaimana dia bisa datang ke kantormu dan mengaku kalau dia kekasihku” jelas Rajev hati-hati. Dia tak ingin kata-katanya kembali memicu masalah baru seperti ketika dia melarang Aurel untuk menjemputnya ke kantor.
“Aku tidak peduli dan tidak butuh penjelasaanmu. Jadi cukupkan saja semua ceritamu karena aku tak akan dengar apa pun lagi darimu,” jawab Aurel datar.
Tak lama minuman dan snack pesanan Aurel datang. Tanpa menunggu Aurel segera memakan snack nya karena pagi tadi dia tidak sempat sarapan.
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?” keluh Rajev putus asa.
“Maaf Bu mengganggu, mobil proyek dan mobil dari pak Dennis sudah datang,” Murti datang dan memberitahu kalau dua mobil yang mereka tunggu sudah datang. Rajev langsung menggenggam tangan Aurel seakan takut di tinggal.
“Ok Mbak, kamu bayar semua yang kita makan, dan team langsung berangkat aja ke lokasi dengan mobil proyek. Lalu barang saya kamu bawa ke hotel aja, masukan ke kamarmu dulu. Nanti saya biar ke hotel naik taksi dan ambil kunci dan serta barang saya di kamarmu ya,” jawab Aurel mengatur anak buahnya agar bisa segera ke lapangan.
“Baik Bu,” jawab Murti. Lalu dia segera menghampiri team untuk memberitahu perintah bu Aurel dan sebelum meninggalkan cafe dia membayar semua yang tadi dia pesan. Menag untuk uang operasional selama perjalanan semua dipegang Murti.
“Sekarang saya tunggu sampai kamu check in. Silakan lanjut aja sarapanmu,” Aurel berkata sambil menyesap minumannya
“Aku tidak jadi pulang,” jawab Rajev pelan. Namun mampu membuat Aurel kaget dan terbelalak menatapnya.
“Kamu jangan suka bikin keputusan ngawur seperti itu,” protes Aurel. Dia ingin bagaimana Rajev menunda keberangkatannya ke Cilacap karena dia bad mood. Dan sekarang dengan mudahnya membatalkan tiket kepulangan karena bertemu dengan dirinya disini.
“Aku tak perduli kalau dapat SP ( surat peringatan ) atau dipecat sekali pun. Aku harus menyelesaikan persoalan kita hingga clear,” jawab Rajev. Lebih baik dia membeli tiket baru dari pada membuang kesempatan bicara dengan Aurel. Saat bersamaan ponsel Rajev berdering.
“Bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanya Rajev.
“Saya sudah kirim di email anda Tuan” jawab pegawainya.
“Baik, terima kasih, tunggu sebentar saya lihat,” Rajev langsung membuka email di note booknya yang memang sejak tadi terbuka email.
“Kamu buat apotek ayahnya hancur, biarkan seseorang membeli obat, lalu sakit perut karena ternyata obat yang dibeli adalah obat kadaluarsa. Kamu buatlah skenario yang bagus. Dan buat restoran kakaknya hancur juga dengan membuat cerita yang manis. Hati-hati dengan CCTV!” perintah Rajev saat membaca data di email.
Aurel tidak mengerti apa yang dibahas oleh Rajev dengan lawan bicaranya, tapi dia tahu maksud Rajev menyetel speaker, agar dia tidak curiga yang diajak bicara bukan perempuan. Aurel sudah selesai makan snack, dia ingin segera ke hotel lalu ke lapangan.
“Saya sudah selesai. Saya duluan kalau kamu masih mau tinggal di sini” pamit Aurel.
“Please Love, kita tuntaskan masalah kita dulu ya. Saya mohon kamu beri saya kesempatan untuk cerita. Nanti setelah saya cerita dan kamu masih tidak mau memaafkan saya, enggak apa-apa. Yang penting saya sudah menyampaikan kebenarannya” rengek Rajev.
Aurel hanya diam, dia pandang mata Rajev, mata yang terlihat lelah dan merindu. ‘Bisakah aku mengabaikan permintaannya yang terlihat tulus ini?’, Aurel hanya bisa membatin saja.
Rajev menunggu Aurel berkata-kata. Namun karena Aurel hanya diam memandanginya maka Rajev memulai ceritanya.
“Namanya Aashita, dia teman SMAku, tapi kami tidak satu kelas. Dia dikelas sastra sedang aku di IPA. Awalnya dia yang mengejarku, karena yang ingin aku jadikan kekasih adalah teman satu kelasnya.”
“Karena kegigihannya, aku pun suka padanya. Kami pacaran seperti pasangan anak SMA pada umumnya, makan, nonton atau jalan rame-rame dengan teman-teman. Aku tak pernah berani lebih dari itu, karena uppa selalu menasehati kami anak-anaknya agar berpegang pada ajaran agama.
Namun siapa sangka, Aashita mau tidur dengan teman sekelasku Anand. Dia pria yang supel dan banyak digemari teman wanitaku karena dia jago memuji siapa pun yang dia suka. Sifat yang saat itu tidak aku miliki. Aku kaku dan tidak pandai memuji apalagi merayu. Aku apa adanya. Aku tak bisa berpura-pura manis apalagi memuji. Kamu tahu itu sejak awal kita berkenalan.”
“Sejak putus dengannya saat itu, hingga lulus kuliah aku tak pernah mau pacaran lagi. Aku malas berdekatan dengan perempuan. Bukan karena aku patah hati dan tidak bisa melupakannya. Aku hanya malas berhubungan dengan orang yang tidak jujur”
\=================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta