
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
*Salam manis dari Sedayu~Yogyakart**a*
Aku menyanggupi kerja sama itu.
Sesuai kesepakan hari ini adalah hari eksekusi proyek dari om Binsar. Om Binsar masuk ke ruangan lebih dulu. Aku menanti di kantin kantor ini berteman teh manis hangat. Nanti dia akan menjemputku untuk sesi photo katanya.
30 menit sejak kepergiannya om Binsar menjemputku untuk masuk ke ruangan pemimpin perusahaan.
Di ruangan itu om Binsar memintaku membuka semua pakaianku serta bra kecuali penutup bagian bawahku, dia mengatur posisi poseku dengan laki-laki yang tak sadar dan juga dengan sudah dilucuti pakaiannya kecuali boxernya saja.
Ternyata om Binsar juga membawa selimut sehingga banyak pose yang sepertinya kami benar-benar polos tanpa penutup bagian bawahku.
Dalam beberapa pose dua bukit menorehku sering terekspose, dan om Binsar beberapa kali mengatur poseku dengan mengusap lembut puncak bukit menoreh milikku.
Bahkan selintas dia kecup sekilas dua bukit kembarku. Sempat- sempatnya dia mengelus bagian pentingku yang masih tertutup lapisan kain hitam tipis berenda.
“Shit … ” katanya berkali-kali. Sepertinya dia geram karena tak bisa bertindak jauh di ruangan itu
Kami bergegas keluar dari ruangan itu setelah om Binsar meletakkan pemuda itu duduk di kursi kerjanya dengan posisi tertidur dengan kepala dimejanya, tentu sudah dengan pakaian lengkap.
Sebelum keluar dari ruangan itu om Binsar memelukku dengan erat dan dengan rakus mencium bibirku serta membuat banyak kiss mark di leherku.
“Aaaah Om … Om …, ”hanya kata itu yang bisa kukatakan saat dia membuat kiss mark, aku sangat suka akan karyanya dileherku.
Dari kantor itu, om Binsar membawaku ke penginapannya. Kami melakukan hal yang sama-sama kami damba sejak tadi.
Sehari setelah aku menemui laki-laki muda itu di kampus tempat pacarnya kuliah, om Binsar kembali pulang ke Medan dan aku di berinya bonus satu juta karena menemaninya tidur. Selain dua setengah juta yang dia janjikan sebagai uang lelah sesuai kesepakatan kerja.
Sejak aku menikah dengan Radit, om Binsar sengaja menjaga jarak, aku baru tahu ternyata suamiku adalah keponakan kandung almarhum istri om Binsar.
END YULIA POV
***
Hari ini Radit dan Aurel bisa menarik napas penuh kelegaan, karena setelah berproses cukup panjang, mereka akhirnya mengantongi surat resmi adopsi dari pengadilan. Selain itu sejak sebulan lalu hasil test DNA antara Radit dan Aira juga sudah mereka miliki.
“Mam, besok Papap akan temani ayah ke Cisarua ya, kakek minta ayah kesana karena akan kasih tau soal tanah yang di Padang Sidempuan. Papa dan mamanya Mirna juga sudah sampai sana hari ini. Gapapa kan Papap tinggal? Kalau aja Mama lagi sehat pasti Papap ajak seperti biasa,” Radit berkata lembut, dia kasihan terhadap Aurel yang sedang kurang sehat sehingga tak ingin mengajak istrinya ke Cisarua.
“Salam aja untuk kakek ya Pap, nanti kapan-kapan kita nginep sana lagi ama Aira dan ibu juga ayah seperti dua bulan lalu,” balas Aurel lemah.
“Ibu enggak ikut?” tanya Aurel pagi ini karena saat sarapan ibu masih memakai baju rumah.
“Aku gapapa koq Yah kalau Ibu pergi, kan dirumah banyak orang yang nemani Aurel dan ngejagain Aira,” sanggah Aurel, tentu dia merasa tidak enak, karena dia kurang sehat maka ayah melarang ibu pergi.
“Ini keputusan Ayah, Ayah tau yang terbaik untuk kamu dan ibu,” jawab ayah sambil mendekap istrinya lalu mengecup puncak kepalanya lamaaaaaaaaaa sekali seakan tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.
Ayah pun mendekap Aurel dan mencium puncak kepala menantunya saat Aurel salim dan mencium tangannya. “Kamu yang terbaik, jaga Ibu dan Aira baik-baik ya,” bisik ayah Iskandar.
“Iya Yah,” jawab Aurel lalu dia bergayut pada lengan suaminya.
Jam makan siang Aurel mendapat banyak kiriman photo di group keluarga, dari Ayah, Radit, Mirna serta anggota keluarga yang hadir makan siang di Cisarua saat itu.
Jam tiga siang Radit telepon mengatakan akan segera pulang ke Jakarta dan meminta Aurel mendoakannya, saat bersamaan ibu juga sedang menerima telepon dari ayah.
Saat bedug maghrib telepon Aurel dan telepon ibu hampir bersamaan berdering. Namun karena ponsel Aurel berada di kamar dia tak mendengar, saat ini dia sedang di kamar Aira di bawah, dekat kamar ibu ketika terdengar ibu berteriak.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!”
Aurel bergegas menuju kamar ibu sambil membopong Aira yang belum lengkap dia gantikan bajunya, diikuti mbak Nah.Tak lama pak Asep dan bik Eneng juga tergopoh-gopoh masuk karena mendengar teriakan ibu.
“Mbak lanjutin pakein baju Aira dulu,” Aurel menyerahkan Aira pada mbak Nah yang berdiri tepat di belakangnya.
“Bu … Ibu … Ibu kenapa?” tanya Aurel yang melihat ibu terduduk lemas di sofa, di pangkuannya ada majalah yang mungkin tadi sedang dia baca saat teleponnya berbunyi.
“Aurel … Ayah … Ayah pergi ninggalin kita semua … “bisik ibu lirih, air mata deras keluar dari matanya yang terlihat kosong.
“Maksud Ibu?” tanya Aurel sambil memeluk mertuanya. Dia segera mengambil ponsel mertuanya dan menghubungi nomer yang terakhir masuk ke ponsel tersebut.
“Selamat malam,” sapa penerima ramah.
“Maaf, barusan ada telepon ke nomor ibu saya yang mengabarkan kondisi ayah saya, apa saya bisa mendapat keterangan lengkapnya?” tanya Aurel terbata, dia memikirkan bagaimana nasib suaminya saat ini?
“Baik Ibu, maaf nomor telepon Ibu berapa biar kami lacak datanya?” sapa petugas.
“0816 … ” jawab Aurel cepat.
“Terima kasih sudah menunggu. Dari data yang kami punya, nomor Ibu adalah nomor terakhir yang dihubungi oleh ponsel yang kami temui dijenazah bernama Iskandar Sebayang. Saat ini kami menunggu Ibu dan keluarga di rumah sakit PMI Bogor karena korban kecelakaan di jalan tol Jagorawi” jawab petugas.
“Apa saya bisa meminta keterangan lain, laki-laki yang bersama dengan ayah saya, bagaimana kondisinya?” tanya Aurel was-was.
“Korban bersama seorang pemuda yang terhimpit, kondisi pemuda itu kritis, saat ini masih ditangani dokter Bu. Dalam data yang kami dapat di KTP nya korban bernama Raditya Putra Sebayang,” papar petugas itu lagi.
“Baik terima kasih, kami akan segera kesana,” jawab Aurel lalu menutup sambungan telpon tersebut.
“Aku mau ke rumah sakit, ibu kuat kesana atau nunggu di rumah?” tanya Aurel berupaya tegar. Saat ini hanya dirinya yang masih bisa berpikir jernih, maka dia berupaya tegar walau dadanya sudah serasa akan pecah memikirkan kematian ayahnya serta memikirkan kondisi suaminya yang kritis
“Ibu mau jemput Ayah” jawab bu Tarida berupaya tegar