BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KHABAR DUKA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Rel, aku serius. Ada siapa didekatmu saat ini? Dan kamu bisa duduk enggak?” Vini mulai menekan kata-katanya.


“Ini Rajev baru masuk kamar. Ada dia didekatku. Dan sekarang aku duduk di ranjang. Puas kamu?” tanya Aurel keqi karena Vino aneh-aneh aja.


“Aku lagi di rumah sakit. A’im meninggal,” Vino memberitahu suami Myrna meninggal. A’im atau Seno karena namanya Ibrahim Senoaji adalah suami dari Myrna sepupu Radit.


“Kamu serius? Kapan? Dan sekarang dirumah sakit mana?” tanya Aurel. Dia baru sadar mengapa Vino minta dia duduk.


Rajev yang mendengar istrinya panik lalu terisak segera mendekat. Dia peluk bahu belahan jiwanya itu


“Dia keracunan makanan. Ada beberapa orang di kantornya yang juga kena. Sekarang kami di rumah sakit Persahabatan. Kamu enggak usah kesini. Langsung ke rumah Myrna aja. Kasih tahu Ibu dan yang lain,” sahut Vino.


“Ada apa Love?” tanya Rajev pelan.


“A’im meninggal karena keracunan makanan cattering kantornya,” sahut Aurel pelan. Aurel langsung mengubungi kakek dan Bagas. Lalu diikuti Rajev dia menghampiri bu Tarida yang sedang santai di teras belakang.


***


Aurel diam memandangi Xella dan Axel putra putri Myrna dan Baim atau Seno yang sejak tadi hanya diam memandangi jasad kaku ayah mereka.


Axel yang berusia tiga tahun mungkin belum terlalu mengerti. Dia ikut terbawa sedih karena semua bersedih terutama mama, kakak dan opungnya.  Tapi Xella yang sudah mengerti tentu sangat sedih. Karena dia tak memiliki papa lagi.


Vino mendekap erat Xella. Mengangkatnya dan memangku bocah itu. Dia tahu kesedihan yang dialami Xella.


“Aku enggak punya papa lagi,” bisik Xella dalam isak tangisnya


“Kamu punya om. Biar om Vino yang akan selalu menjadi papa buat Xella ya,” bujuk Vino.


“Bener? Om akan jadi papa Xella?” gadis kecil itu memastikan apa yang iya dengar.


“Om janji sayang. Om akan selalu jadi papa Xella.” sahut Vino tanpa beban. Taka da masalah kan jadi ayah gadis kecil itu? Tak pernah terpikir dampak dari janjinya itu.


***


Aurel yang tak boleh terlalu lelah, selesai pemakaman A’im langsung pulang ke rumah. Dia tak ingin drop bila memaksakan terus dirumah duka. Dia memilih istirahat dirumah daripada istirahat di rumah Myrna. Karena tiduran di rumah Myrna malah tak akan bisa segar. Nanti saja dia kembali bila dia sudah fresh.


Kakek Ikhlas tentu menginap di rumah Myrna, cucu tertua yang ada karena anak Sairoh tak ada. Begitu pun Radit. Cucunya saat ini tersisa Myrna dan dua adik perempuannya saja.


“Mama, jang terus sedih. Papa Aim memang sudah meninggal, tapi aku punya papa Vino. Tadi dia sudah janji akan selalu menjadi papaku,” Xella menghibur mamanya yang masih dalam pelukan opungnya.


Kakek mengerti, Vino pasti tadi menghibur Xella dan menyuruh gadis kecil itu menganggap dirinya sebagai pengganti sosok papa.


Mendengar itu Myrna semakin sedih. Dia baru ingat kedua anaknya juga kehilangan sosok papa. Myrna bangkit dan memeluk Xella. “Iya sayang. Kamu boleh anggap om Vino sebagai papamu.”


***


“Sudah siap semua?” tanya Wina pada staff Dennis yang bertugas mengurus Pekerjaan di Semarang.


“Baik, saya berikan nomor ponsel pak Yon di data yang saya kirim via email agar nanti kalian langsung berhubungan dengan dia aja. Dan kabari kapan pak Dennis akan bertemu dengan bu Aurel, karena kami harus atur jadwal Ibu yang semakin sulit bergerak karena kehamilannya saat ini,” Wina akhirnya memutus pembicaraan.


“Mas Yon, data dari staff pak Dennis saya kirim via email,” Wina langsung memberitahu Yon melalui telepon direct.


“Baik saya buka,” sahut Yon. Besok sore dia harus berangkat ke Semarang karena lusa pagi sudah harus cek ke lapangan sebelum tanda tangan serah terima barang.


***


“Ada laporan apa?” tanya Dennis yang sedang berada di Malang pada staffnya di Jakarta.


“Tadi bu Wina memastikan kalau lusa adalah pengecekan lapangan. Dari hasil itu akan dilanjutkan serah terima barang antara Bapak dengan pak Reza atau bu Aurel.”


“Itu laporan terkini. Lalu dari Jogja ada laporan …,” dengan teliti Dennis memantau semua kegiatan kantornya. Dia di Malang adalah untuk memberi peringatan pada cabang usahanya yang dipegang adiknya Delta. Dia akan memutus semua subsidi. Jadi mulai sekarang Delta harus bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidupnya perusahaan.


“Kamu sudah berapa kali aku nasihati, jaga istrimu bila tak ingin terjun bebas. Punya uang sedikit lagaknya seperti milyuner. Aku bukan sapi perahmu.” Dennis memberikan surat keputusan yang dia ambil.


“Enggak usah teriak-teriak. Ibu sudah tahu sejak sebelum aku berangkat kesini. Jadi Ibu enggak akan kena serangan jantung bila kamu colaps,” lalu dengan santai Dennis keluar dari ruangan Delta.


Purina istri Delta suka berfoya-foya dan suka barang limited edition. Dia ikut arisan sosialita yang bukan hanya nominalnya cukup besar, tapi lokasi untuk pengocokan arisan tiap bulan berkeliling dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya, yang kadang bukan hanya di Indonesia saja.


Ibu Dennis sudah sejak awal menasihati anak nomor duanya tentang perilaku sang mantu. Tapi mata Delta tertutup oleh cinta. Jadi dia tetap membela dan membenarkan apa pun yang Puri lakukan.


“Aaaarrghh. Sekarang aku harus bagaimana?” Sekarang baru Delta sadar selama ini dia adalah benalu bagi Dennis. Perusahaan yang dia pegang setiap bulan bukan memberi keuntungan, malah selalu disubsidi oleh kakaknya itu.


“Sejak di Bali bulan lalu kan Bang Dennis sudah kasih peringatan. Mengapa Mas Delta enggak berubah? Kan tahu kalau Abang enggak suka bila kata-katanya tidak didengar?” Desta malah menyalahkan Delta yang tak memperhatikan teguran Dennis.


Dennis memang dipanggil abang oleh kedua adiknya. Ibu mereka perempuan muslim Maluku sehingga panggilan untuk kakak lelaki adalah Abang.


Sedang Desta memanggil Delta dengan panggilan mas, karena ayah mereka berasal dari Sleman - Jogjakarta.


Desta pun langsung bebenah diri setelah mendengar apa yang dialami Delta. Dia kembali mewanti-wanti istrinya untuk tidak asal bertindak bila tak ingin hidup sengsara.


Ibu ketiga jagoan itu membiarkan Delta ‘ditegur’ seperti itu oleh anak sulungnya. Dia ingin Delta terbuka matanya. Tidak dibutakan oleh cinta semata. Jadi saat Dennis bilang ingin ke Malang sang ibu tak melarangnya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   UNCOMPLETED STORY  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   UNCOMPLETED STORY  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta