
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Au …,” Darrel tak mau mencium Aurel. Dia memasang wajah cemberut dan menggelengkan kepalanya menyatakan tak mau memenuhi permintaan sang mama untuk menciumnya.
“Ya sudah, Mama aja yang cium Dede,” Aurel pun mencium putranya dan mengusap puncak kepala jagoannya.
“Uppa yum,” pinta Darrel dengan manjanya pada Rajev. Darrel meminta Rajev mendekat pada dirinya dan dia menciumi wajah Rajev. Pipinya, hidungnya dan dagunya. Rajev membalas dengan mencium pipi, mata, hidung dan kening Darrel.
Saat itu batin Aurel langsung tertikam. Dia semakin sadar, kedua anaknya membutuhkan Rajev. Tidak hanya Aira, bahkan Darrel pun memperlihatkan butuh sosok ayah. Lebih tepatnya butuh sosok Rajev.
Didalam mobil Aurel sengaja duduk di belakang berdua dengan Aira. Mereka bercerita tentang gaya untuk lagu yang akan Aira bawakan di kelas nanti. Aira memang sudah tidak ditunggu mbak Nah lagi bila sedang belajar di dalam kelas. Jadi bila Aurel mengantarnya maka nanti mbak Nah akan menjemputnya. Kalau Aurel tidak sempat mengantar baru mbak Nah akan mengantar Aira, lalu dia kembali pulang dulu, nanti siang baru menjemput.
“Uppa, antar Kakak ke dalam kelas berdua Mama ya. Kakak mau kasih tau teman-teman Kakak, kalau Kakak juga punya ayah seperti teman-teman,” pinta Aira pada Rajev saat Rajev baru saja mematikan mesin mobilnya.
Aurel terhenyak mendengar permintaan putrinya kali ini. ‘Mengapa Aira berpikir seperti itu?’ banyak dugaan atau perkiraan dipikiran Aurel.
“Baik sayank,” jawab Rajev dengan cepat tanpa meminta pendapat Aurel. Saat dia melihat wajah perempuan itu Rajev melihat ada air mata di sudut mata Aurel yang sedang dia hapus dengan tissue yang dipegangnya.
‘Mungkin Aira dibully atau iri melihat teman-temannya diantar ayah dan ibunya, maka tadi pagi bangun minta diantar Rajev,’ pikir Aurel mengingat kejadian tadi pagi di kamar Aira.
“Yeeeeaay,” pekik bahagia keluar dari mulut mungil Aira. Aira segera turun dari mobil dan menanti Aurel serta Rajev siap. Dia berjalan dengan sedikit melompat-lompat dan tangan kanannya memegang tangan Rajev sedang tangan kirinya memegang tangan Aurel.
Di pintu kelas Aurel merendahkan tubuhnya dan berbisik pada Aira. “Kak, besok Uppa kerja keluar kota dulu ya, enggak bisa antar kakak sekolah. Nanti kalau Uppa sudah pulang baru Uppa bisa antar Kakak ke sekolah lagi.”
Rajev yang mendengar kata-kata Aurel ikut bediri merendah dan dia mengecup kening Aira “Iya sayang, Uppa kerja dulu ya, besok enggak bisa antar Kakak sekolah. Tapi Uppa janji, selama Uppa ada di Jakarta Uppa akan antar Kakak setiap hari,”
Rajev menjanjikan hal yang sangat tidak disukai Aurel. Aurel tidak ingin putri kecilnya terluka. Aurel menjauh dari Rajev dan Aira, dibiarkannya Aira menggandeng masuk Rajev kedalam kelasnya, sementara dia menunggu di depan kelas.
“Ibu tidak masuk?” sapa seorang guru Aira.
“Tidak Bu, Aira sudah ada yang menemani di dalam” jawab Aurel sopan.
Terdengar bel sekolah berbunyi, Aira segera menarik jari Rajev keluar kelasnya. “Uppa, Kakak sekolah dulu,” katanya di depan kelasnya dan dia salim pada Rajev.
“Anak Uppa belajar yang pintar ya,” Rajev pun mencium Aira lalu berdiri menjauh dari depan kelas karena semua siswa berbaris untuk masuk kelas. Rajev dan Aurel sengaja berdiri bersisian dan melambai pada Aira, terlihat rona bahagia di wajah kecil nan manis itu.
“Bye Mama, bye Uppa” teriak Aira saat akan memasuki kelasnya. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia.
***
“Kamu mau aku antar kemana?” tanya Aurel saat mereka sudah keluar dari sekolah Aira, sambil dia menengadahkan tangannya meminta kunci mobilnya yang masih dipegang oleh Rajev.
“Masuk saja ke mobil, kita bicara di dalam” jawab Rajev santai membuat Aurel hanya bisa pasrah dan dia duduk dikursi depan sebelah pengemudi.
“Kamu ada jadwal meeting pagi atau ketemu klien penting pagi ini?” tanya Rajev ingin memastikan dia tak mengganggu jadwal kerja Aurel. .
“Tidak,” jawab Aurel, dia tidak tau apa maksud pertanyaan Rajev kali ini.
Mendengar jawaban Aurel, Rajev langsung melajukan mobilnya dengan pasti.
“Memang bukan,” jawab Rajev tenang.
“Kita mau kemana?” tanya Aurel penasaran.
“Meng clear kan semua ganjalan di otakmu!” jawab Rajev. Aurel malas bedebat, dia hanya diam. Lalu dia mulai sadar tujuan Rajev adalah kantor lelaki itu.
Aurel tidak bisa meraba, apa yang di inginkan Rajev. ‘Bila dia ingin di antar ke kantornya kan tinggal bilang aja, aku akan antar Rajev sesuai dengan permintaannya.’
“Ayok turun,” ajak Rajev sambil mematikan mesin mobil dan membuka seat belt nya. Dia memutar dan membukakan Aurel pintu mobil.
“Kita ke ruanganku,” ajaknya sambil memberikan tangannya untuk digenggam Aurel.
Karena tidak enak, Aurel turun dari mobil dan merapikan pakaiannya lalu melangkah menjauh dari pintu mobil. Rajev mengunci mobil dan menggandeng Aurel dengan posesive nya.
“Good morning Sir,” sapa resepsionis wanita cantik yang bertugas di lobby, Rajev tak membalasnya. Bukan karena ada Aurel di sampingnya, memang begitu kelakuannya setiap hari.
Rajev menekan angka tujuh di lift, dia tetap menggandeng Aurel tanpa berkata apa pun. Di lantai tujuh ada resepsionis khusus tapi yang di ruangan ini petugasnya laki-laki.
“Siapa namamu, aku sulit mengingat nama kalian,” sapa Rajev dengan bahasa Inggrisnya pada resepsionis di lantai khusus itu.
“Aiman Sir,” sahut pegawai yang ditanya Rajev.
“Perhatikan wanita ini, kalau suatu saat dia datang kesini, kamu tidak perlu tanyakan apa keperluannya dan sudah bikin janji belum dengan saya. Langsung saja persilakan dia masuk ke ruangan saya, karena dia istri saya,” lanjut Rajev dengan tegas.
Dia lalu berjalan menuju ruangannya. Namun sebelum dia masuk dia memperkenalkan Aurel pada Herman, sekretarisnya.
“Ini kantorku, dan disini ruanganku. Lantai ini khusus bagi pegawai perwakilan dari kantor pusat,” lanjut Rajev.
“Kuharap kamu tau, tak ada siapa pun yang dekat denganku dan aku sukai di sini. Kalau ada seorang perempuan yang aku sukai dan dia mau aku ajak ke Qatar, aku enggak akan susah payah mengajukan mutasi ke Indonesia dan membuang jenjang karierku di Libya. Kantor pusat setuju memindahkanku kesini tapi jabatanku tidak naik seperti bila aku bersedia ditempatkan di Libya,” jelas Rajev.
Dia ingin semua terbuka untuk Aurel. Semua staffnya lelaki. Karena dia sama dengan Radit. Yang tak suka bila para staff mendekati dirinya.
“Kamu segalanya untukku Love. Awalnya cuma kamu!” Rajev berhenti, dia ingin melihat reaksi Aurel. Namun Aurel hanya menampakan wajah datarnya.
================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta