BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
TANGGAL JADIAN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Sekarang udah jelas kan? Kita serius ya?” Dennis menodong Wina setelah tadi berkenalan lewat video call dengan ibunya. Ternyata dia malah dimudahkan karena sang ibu menghubunginya saat Dennis sedang bersama dengan Wina.


“Kita saling kenal dulu ya? Aku panggilnya Abang atau Mas?” tanya Wina. Wina pun tahu kalau ternyata sebelumnya Dennis sudah sering bercerita tentang dirinya pada sang ibu.


“Ayahku asli Sleman, dan ibuku asli Haruku, sebuah pulau kecil di kepulauwan Maluku. Jadi kalau dari keluarga ayah ada yang panggil Mas. Dari keluarga ibu, laki-laki muslim panggilannya Abang. Beda dengan lelaki non muslim. Kamu nyamannya yang mana?” tanya Dennis.


“Abang aja ya? Kayaknya keren dan enggak umum,” sahut Wina. Perempuan ini sedikit lega karena tak ada hambatan dengan calon mertua. Dia lelah berjuang seperti saat akan menikah dengan Ahmad dulu. Bermodal cinta Wina dan Ahmad berjuang untuk bisa menikah.


“Suka-sukamu lah Yank,” jawab Dennis.


“Udah yok, aku masih banyak kerjaan,” Wina minta mereka segera kembali ke kantornya.


“Catet, hari ini tanggal jadian kita ya Yank,” bisik Dennis sebelum mereka meninggakan gerai es krim Italia itu.


“Kayak anak ABG aja,” Wina pun segera keluar menuju mobil.


“Yank, ini oleh-olehmu,” begitu sampai mobil Dennis menyerahkan bungkusan oleh-oleh untuk Wina. Sebenarnya isinya sama saja dengan yang lain. Hanya dia ingin menyerahkan sendiri karena Wina adalah special buatnya.


“Memang apa beda oleh-olehku dengan teman yang lain?” tanya Wina. Tadi dia minta kekasih barunya tak usah turun di kantornya. Cukup dia diturunkan di lobby saja.


“Isinya sama. Tapi karena penerimanya special. Maka aku mengharuskan diriku untuk kasih langsung,” jawab Dennis.


“Ih, usil. By the way makasih ya,” Wina pun turun dan kembali ke ruangannya.


***


‘Abang udah sampai kantor, nanti Abang jemput ya?’ Wina membaca laporan kekasihnya.


‘Enggak usah. Aku sudah punya ojek online langganan,’ jawab Wina. Dia memang telah pesan pada tukang ojek dekat rumahnya untuk menjemput dirinya. Rumah kontrakannya sekarang memang tak terlalu jauh dari kantor.


Dennis tak mau memaksa Wina. Dia pun tak akan menjemput perempuan itu. Yang penting sekarang hubungannya dengan Wina akan berjalan mulus karena Wina dengar sendiri ibunya tidak menolak kehadiran wanita itu untuk menemani hidupnya kelak.


Sekarang yang penting dia akan membangun rumah untuk dirinya dan Wina. Selama ini dia tak berniat membangun rumah untuknya pribadi karena dia merasa cukup tinggal di rumah ibunya.


Tapi bila ada istri, tentu kasihan istrinya bila tinggal di rumah mertua. Beda bila ibunya yang tinggal dirumah dia. Istrinya tetap nyonya rumah. Dan dia sengaja membangun rumah bila sudah ada calon, karena ingin membangun rumah sesuai karakter istrinya.


‘Mulai esok aku akan cari tahu konsep seperti apa yang Wina inginkan. Itu yang akan aku bangun diam-diam sebagai kejutan maharku nantinya,’ Dennis sudah memiliki tanah yang akan dia bangun.


***


Myrna menyesalkan usulannya pada Vino. Dia membenci dirinya yang terlalu menilai Vino dengan penilaian yang tinggi. Dia tak sadar kalau Vino tentu maunya menikah dengan seorang gadis, bukan seperti dirinya yang sudah bekas orang dan punya buntut dua.


‘Aku memang terlalu bodoh,’ Myrna meletakkan kepalanya di meja kerjanya. Dia tak mengerti mengapa bisa sebodoh itu.


“Bu, produsen dari Cirebon di line tiga, apa mau diterima?” tanya Akbar sekretaris Iberahim yang sekarang jadi sekretaris dua dirinya.


Ibrahim dan Myrna memang mempunyai usaha jual souvenir aneka daerah di Indonesia ke beberapa negara pemesan. Ide dari Aurel yang Ibrahim kembangkan sebelum menikah dengan Myrna. Saat itu Myrna keberatan dengan jam kerja A’im yang lebih sering di luar pulau. Sehingga A’im memilih resign dan membuka usaha berdua Myrna -waktu itu masih tunangannya-.


“Iya saya terima Bar,” sahut Myrna. Walau sedang galau dengan kesalahan yang dia buat, tapi dia harus profesional.


Sejak minggu lalu, Myrna menghindari Vino. Bila lelaki itu main ke rumahnya, dia sengaja tidak keluar kamar. Atau kadang malah dia tinggal pergi keluar dengan alasan belanja atau ke salon.


“Myr, gue mau bicara,” kali ini Vino mencegatnya saat dia ingin keluar rumah. Vino baru datang dan belum bertemu dengan kedua anak Myrna.


“Sorry, gue ada janjian dengan rekanan. Mereka datang dari luar pulau dan ingin ketemu makan siang,” untungnya kali ini memang Myrna ada janjian dengan pengrajin dari Banjarmasin.


“Enggak ada lagi yang harus kita bicarakan,” Myrna masuk ke mobilnya dan segera pergi dari rumah.


Vino segera masuk ke mobilnya dan dia ingin mengikuti Myrna. Kali ini dia tahu kalau Myrna memang ingin keluar rumah, karena perempuan itu sudah akan berangkat sebelum dia masuk rumah. Tak seperti biasa. Myrna akan pergi saat Vino sudah dalam rumah dan bermain dengan kedua anaknya.


***


Myrna tak sadar kalau Vino mengikutinya. Dia sampai di resto tempatnya janjian. Rekanannya itu datang bertiga. Sepasang suami istri dan adik lelaki sang perempuan.


“Myrna.”


“Rukmi.”


“Gilang.”


“Hesa.”


“Mahesa ini adik saya mbak Myrna,” Rukmi memperkenalkan siapa Mahesa.


“Owh,” Myrna mengangguk.


“Untuk selanjutnya yang akan meng-handle kerjasama kita adalah Mahesa,” karena saya dan istri pegang proyek lainnya,” Gilang memberitahu Myrna. Dulu dia dan Ibrahim yang mengawali kerja sama mereka.


Sejak Ibrahim meninggal memang semua rekanan diberitahu kalau pimpinan berganti ketangan Myrna yang selama ini menjadi wakil CEO.


‘Ternyata dia memang janjian,’ Vino yang duduk diujung memesan makan siang sendirian dengan duduk menghadap meja Myrna dan rekanannya. Dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mereka bicara.


“Bisa saya minta nomor ponsel anda? Saya bisa saja meminta pada kakak saya. Tapi lebih elegan bila saya mendapat nomor ponsel dari pemiliknya langsung,” Mahesa atau yang lebih sering dipanggil Hesa meminta nomor ponsel Myrna.


Myrna menyebut nomornya dan Mahesa melakukan misscall.


“Itu nomor telepon saya,” Mahesa memberitahu. Maksudnya tentu agar Myrna menyimpan nomornya itu.


“Baik saya simpan,” jawab Myrna.


Sebelum membicarakan kerja sama kita selanjutnya, kita pesan makan saja ya Pak, Bu,” Myrna memanggil server untuk memesan makanan. Tadi dia sudah memberi debetcardnya di kasir agar nanti bill -tagihan makan- dia yang bayar karena dia tuan rumah pertemuan ini.


Rukmi memesankan makanan untuknya dan Gilang. Myrna pun mengatakan pesanannya untuk dicatat pegawai yang menunggu.


“Kamu pesan apa Sa?” tanya Gilang pada adik iparnya.


“Kamu bisa rekomendasiin menu apa yang enak enggak Myr?” tanya Mahesa tanpa menyebut Bu pada Myrna.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  TELL LAURA I LOVE HER   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta