
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\==========================================================================
Rajev dan Radit akhirnya bertemu dan mereka bisa ngobrol santai karena memang Aurel tidak pernah menyembunyikan apa pun terhadap Radit dan Rajev. Walau Rajev tetap masih terluka karena dia sangat mengharapkan Aurel menjadi pendamping hidupnya.
Tak ada kecemburuan di wajah Radit. Namun ada luka di wajah Rajev. Hanya tak diperlihatkan. Dia senang bisa berkenalan dengan lelaki yang menjadi pemenang dihati perempuan istimewanya.
***
Besok Radit sudah boleh pulang, dia bisa duduk tapi belum bisa berjalan. Kalau hanya sekedar pindah dari kursi roda ke tempat tidur atau ke sofa dia bisa sendiri walau masih sangat sulit, sehingga biasanya Aurel meminta mang Ujang atau mang Engkus untuk membantunya.
Radit melarang Aurel membantunya, dia beralasan takut mengganggu kehamilan Aurel. Aurel benar-benar dalam ‘waskat’ atau pengawasan melekat dari sang hero itu. Dia tak boleh cape. Dan yang membuat Aurel sedih dia tak boleh menggendong Aira lagi. Radit hanya membolehkan Aurel memangku Aira.
Sudah satu minggu Radit di rumah, selain teraphy di rumah sakit, ibu juga memanggil terapis ke rumah untuk membantu Radit latihan secara kontinu. Perkembangan motorik Radit lumayan pesat kemajuannya karena semangatnya sangat tinggi. Tentu saja ibu dan Aurel sangat senang melihat perkembangannya.
Hari ini Aurel mulai beraktivitas keluar rumah, dia akan kontrol toko kuenya. Namun belum akan full day, hanya sekedar kontrol saja, karena dia belum tega meninggalkan Radit di rumah tanpa dia temani.
Satu jam dari kepergian Aurel, di rumah kembali kedatangan tamu istimewa. Pak Ujang memberi tahu Radit kalau Yulia menunggunya di luar pagar. Pak Ujang masih ingat perintah Aurel untuk tidak memperbolehkan Yulia masuk ke dalam pagar rumah.
“Den Radit, ada tamu yang cari Aden,” lapor pak Ujang melalui intercom rumah.
“Siapa Pak?” tanya Radit yang sedang mengawasi mbak Nah memberi makan Aira.
“Yulia Den, dulu mbak Aurel melarang saya untuk membolehkan masuk kedalam rumah, maka saya tanya Aden dulu,” balas pak Ujang. Dia tahu biar bagaimana pun pemilik rumah adalah Radit bukan Aurel.
“Kalau istri saya sudah memerintah seperti itu, ya enggak bisa diganti kecuali dia yang merubah. Saya enggak berhak mencabut aturan yang dibuat oleh istri saya!” balas Radit tegas.
Radit dan Aurel memang seperti itu. Semua diputuskan berdua dan hasil diskusi. Saat Aurel memutuskan untuk melarang Yulia masuk kerumahnya memang belum sepengetahuan Radit dan saat ini masih ada pak Iskandar. Tapi begitu peraturan berlaku, semua setuju.
“Maaf Mbak. Den Radit bilang, Mbak tidak bisa masuk karena dia mengikuti peraturan mbak Aurel,” pak Ujang memberitahu keputusan Radit pada Yulia.
Yulia tidak menerima keputusan tersebut. Direbutnya gagang intercom yang masih tersambung ke Radit.
“Saya mau bicara penting!” Yulia langsung bicara tanpa salam atau apa pun pada Radit.
Radit yang mendengar suara Yulia tidak menjawabnya, dia langsung memutus sambungan pembicaraan.
“Breng_sek, dia memutus sambungan!” teriak Yulia sambil membanting gagang intercom. Yulia sangat marah. Awalnya dulu dia tidak membenci Aurel, karena memang tak pernah bermasalah dengan istri kedua pengganti dirinya. Namun sekarang dia sangat membenci Aurel. Karena perempuan itu mempunyai hak sangat istimewa dihadapan Radit.
Dan saat ini dia menemukan fakta, bahkan peraturan di rumah Radit pun tak bisa dilanggar oleh Radit sebagai pemilik rumah, karena yang membuat aturan adalah Aurel.
Yulia sangat membenci keberuntungan Aurel yang bisa mendapatkan semuanya. Dia dan suaminya ( Binsar ) bertekad mengambil hak asuh Aira. Atau bila hak asuh tak di berikan, sebagai ibu kandungnya Yulia akan meminta jatah rutin bulanan. Dia juga akan meminta jatah bulanan dari pendapatan kantor karena ada hak Aira disana.
Itulah mengapa sejak minggu lalu Yulia selalu mencari info tentang keberadaan Radit
***
“Maunya dia apa sih Bang?” tanya Aurel saat Radit bercerita tentang kedatangan Yulia ke rumah.
“Abang enggak tau apa maunya Mam,” balas Radit sambil mengusap rambut di kening istrinya. Aurel berbaring didada Radit yang sedang duduk bersandar di kasurnya sambil menonton berita di televisi dalam kamar mereka.
“Besok jadwal Mama kemana?” tanya Radit. Wajar Radit bertanya seperti ini pada istrinya, karena kadang Aurel merubah jadwal tergantung kondisi dilapangan.
“Besok libur, lusa ke kantor Papap. Gimana kalau Papap kesana bersama Mama?” Aurel mencoba mulai menarik Radit untuk ikut berkegiatan. Selama ini Radit tak pernah mau diajak kembali aktif dikantornya.
“Abang belum siap,” jawab Radit lirih. Radit masih tak percaya diri dengan kondisinya sekarang.
“Abang inget kan, perjalanan jauh ke suatu tempat dimulai dari langkah pertama. Kalau Abang selalu merasa belum siap, ya enggak akan pernah siap!” Aurel berkata sesudah ia berbalik badan dan duduk tegak sambil memandang tajam mata suaminya tercinta. Mata yang telah membuatnya jatuh bangun merasakan cinta.
“Abang enggak perlu ragu, ada Adek yang akan selalu bersama Abang sampai kapan pun,” Aurel memeluk Radit lalu menciumnya lembut.
“Abang bangga dan bersyukur memilikimu sayang. Teruslah disisi Abang dan terus bersinar kejoraku,” Radit memeluk perempuan yang menjadi penopang semangatnya.
“Abang kuat karenamu. Kita lihat besok ya. Semoga Abang sanggup datang ke kantor esok lusa,” lanjut Radit dengan penuh percaya diri. Kata-kata Aurel barusan membuatnya semangat.
“Abang pasti bisa, Abang pasti mampu!” Aurel memompakan semangat untuk suami tercintanya.
“Sekarang kita tidur ya, Abang perlu istirahat,” Aurel membantu Radit menurunkan tubuhnya untuk berbaring. Dengan telaten dia bantu mengatur bantal agar Radit bisa tidur dengan nyaman.
***
Setelah kemarin seharian di rumah, dan menerima Rajev sebagai tamu untuk makan siang bersama sebelum Rajev kembali ke Qatar. Maka pagi ini Aurel bersiap untuk berangkat ke kantor milik Radit. Dia belum berani bertanya apakah Radit berkenan berangkat bersama. Dia sangat hafal karakter Radit. Dia tidak ingin Radit merasa tertekan atau merasa di paksa.
Sehabis memandikan Aira serta menyuapi sarapan, Aurel juga sudah menyiapkan sarapan Radit dan ibu mertuanya.
“Ibu mau tambah rotinya?” Aurel memang selalu menyiapkan sarapan mertuanya.
“Cukup, tadi Ibu sudah makan bubur sumsummu. Enggak sanggup rasanya,” balas mertuanya. “Ibu berangkat duluan ya, hari ini kamu jadi ke kantor?”
“Iya Bu, hari ini jadwalku ke kantor,” balas Aurel sambil memasukan roti sebagai bekalnya kerja. Karena kehamilannya, dia sering lapar sehingga tiap keluar rumah dia bawa banyak bekal makanan dan juice.