BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
ANCAMAN DENNIS PADA WINA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Dennis, Murti dan Wina serta bulek Ratmi tiba di rumah duka. Ada tiga karangan bunga disana. Satu dari kantor pak Sukri. Satu dari perusahaan Aurel dan satu dari perusahaan Dennis.


Bude Kurnia menyambut kedatangan Wina dengan hangat. Sejak Ahmad meninggal hanya saat pengajian saja ibu mertua dan Krismi datang ke rumah Wina. Diluar itu tak ada komunikasi. Tapi dengan bude Kurnia, Wina sering bertukar khabar.


“Ayah sakit apa? Sejak kapan? Mengapa aku tidak dikhabari?” tanya Wina dalam pelukan bude Kurnia.


“Nanti bude ceritakan. Sekarang kamu masuk dulu,” Kurnia mengajak keponakannya masuk.


Didampingi Kurnia, Wina menyampaikan salim pada ibu mertuanya. Begitu pun Dennis dan Murti serta bulek Ratmi. Hubungan bulek Ratmi dengan keluarga Sukri bukan baru kali ini. Jadi tidak aneh dia ikut menemani Wina.


“Ti, ingatkan Mbakmu untuk makan malam. Tadi waktu aku suruh, dia bilang masih kecepetan. Sekarang sudah jam delapan malam,” Dennis berbisik pada Murti. Sejak tadi Reza sudah datang ke rumah duka.


“Akan susah Pak. Apalagi dia sedang bersama dengan keluarga pak Ahmad,” sahut Murti.


“Bisiki bulek Ratmi. Bulek juga tak boleh perut kosong. Kalau bulek sakit enggak bisa jaga Wina,” Murti mendengar nada khawatir dari suara Dennis.


“Mending aku beli sussu dan roti aja buat dia ganjel Pak. Karena aku yakin dia akan sulit dipaksa. Kecuali kita sedang berdua. Aku bisa paksa dia. Kalau didepan semua kerabatnya tak mungkin kan?” Murti bersiap mencari minimarket terdekat. Dia cari di gogle dulu agar enggak bingung. Lalu dia pesan ojek online agar cepat.


“Tahu gitu tadi saya antar Ti.” Dennis melihat ojek online datang.


“Enggak apa-apa Pak. Sebentar. Saya cuma bolak balik aja koq,” sahut Murti.


***


“Ayahmu pernah bulek panggil ke rumah sebelum satu bulan meninggalnya Ahmad,” bulek Kurnia mulai bercerita. Saat ini sudah sangat larut. Bulek Ratmi sudah tidur. Mereka bertiga ada di kamar depan yang biasa disiapkan bila ada tamu menginap.


“Saat itu Bude beritahu surat Ahmad untuk Bude, juga surat lunas hutang dari kantor Ahmad yang dia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Karena Ahmad tak suka Nurul terus menerus meminta uang padamu,” tentu saja Wina tak percaya mendengar berita ini.


Ternyata berhentinya rengekan sang mertua karena Ahmad menanggulanginya sendiri.  “Lalu sejak itu Sukri tak berkomunikasi lagi dengan Bude.


Tetiba satu bulan lalu dia mengirimi pesan. Kalau terjadi sesuatu padanya, ada surat yang dia tinggal di seorang sahabatnya di kantor. Sahabatnya ini belum pernah bertemu dengan Bude.


“Dua minggu lalu Sukri masuk rumah sakit karena maag akut. Tapi hanya dua hari dirawat, dia boleh pulang sehingga Bude pikir tak perlu memberitahumu.  Saat itu juga bude dengar saat di rumah sakit, Krismi tak pernah datang menengok ayahnya.” Kurnia menarik napas panjang.


“Lalu dua hari lalu Sukri kembali dibawa ke rumah sakit karena pingsan saat akan berangkat ke kantor, sampai dia meninggal Sukri tak pernah sadar lagi.”


“Kemarin saat Sukri baru masuk rumah sakit,  bude bertemu dengan sahabat Sukri itu. Bude dan pakde langsung kerumahnya untuk mengambil surat Sukri. Disurat itu Sukri memberitahu semuanya. Dan seperti Ahmad, dia juga meninggalkan amanat yang tak bisa diganggu gugat,” jelas Bude.


“Bude mau besok kamu hadir sehabis pemakaman. Bude akan bacakan amanat Sukri,” Kurnia merampungkan cerita yang ingin dia bagi pada Wina malam ini.


***


Pagi sekali Dennis telah kembali tiba di rumah duka. Dia membawakan bubur ayam dua porsi. Mau dibilang tidak sopan terserah. Tapi dia tak ingin Wina sakit.


“Kamu sarapan dulu. Jangan hanya minum teh panas aja,” perintah Dennis tegas.


“Enggak enak ama pemilik rumah Pak,” sahut Wina.


Wina tak berselera dengan menu nasi goreng dan ayam goreng serta tempe goreng yang terhidang di ruang makan. Dia sedang malas makan.


“Makan sekarang, atau aku suapin kamu disini,” ancam Dennis. Mereka duduk di kursi luar dibawah tenda yang dipasang di depan rumah.


Tak mau malu karena disuapi Dennis, maka Wina membuka satu sterofoam dan mencoba makan.


“Nah gitu dong Mbak,” Murti yang baru datang dengan Yon memuji Wina yang baru makan satu suap bubur.


“Jangan dipuji Ti. Baru satu suap koq. Kalau sudah habis dua box baru boleh kamu puji dia,” Dennis malah menjatuhkan Wina kembali.


“Enggak mau kalau harus habis dua box, satu aja aku sulit ngabisin. Ti, yang satu kamu makan saja,” Wina tak mau bila harus menghabiskan semua bubur yang Dennis bawa.


“Ha ha ha, aku baru makan Mbak. Biar mas Yon saja tuh. Dia masih sanggup karena dia sarapan kan sudah dari tadi sebelum ke rumahku,” Murti melempar tugas pada Yon.


“Kamu mintakan aku kopi gih Jeng. Aku tadi belum ngopi,” Yon menerima sterofoam bubur ayam dari Murti.


“Wah kalau kopi saya mau juga Ti,” Dennis pun ikut request pada Murti.


Belum sempat Murti kebelakang, bulek Ratmi mengantarkan dua gelas kopi dan dua gelas teh untuk mereka.


“Kalian diminta sarapan didalam,” kata bulek Ratmi.


“Kami sudah sarapan Bulek terima kasih kopi dan pisang goreng panasnya,” Dennis menjawab cepat.


***


“Saya sengaja minta semua berkumpul disini saat ini. Sebelum kita semua pulang kerumah masing-masing dan saya yakin sehabis ini kita akan jarang bertemu,” Gembong kakak ipar Sukri membuka forum terbuka malam ini setelah siang tadi dilakukan pemakaman Sukri.


“Saya sebagai suami kakak tertua Sukri meminta semua mendengarkan apa yang akan saya sampaikan. Jangan ada yang menyela atau protes. Yang wajib hadir sampai selesai adalah Nurul dan Krismi.”


“Lalu harus ada salah satu keluarga Nurul yang sekarang saya lihat ada mbak Fitra sebagai kakak kandung mbak Nurul. Ini penting karena harus ada saksi. Saya akan menjelaskan semua amanah dan keterangan resmi dari Sukri,” Gembong melihat sekeliling.


Disana ada Wina, Kurnia juga beberapa keponakan mereka.


“Ini surat pertama Sukri. Dia menerangkan siapa Krismi yang selama ini tidak pernah kita tahu. Menurut Sukri, Krismi adalah anak Lastri yang ayahnya tak tahu siapa karena Lastri memang nakal dan bekerja sebagai penjaja.”


“Kasihan pada bayi merah itu Sukri dan Nurul yang saat itu tidak tinggal di pulau Jawa mengangkat anak Lastri sebagai anak mereka. Sehingga kita di Jawa sini tak tahu kalau Krismi bukan anak Nurul dan Sukri.” semua yang hadir tak percaya akan hal itu.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI\, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL ** UNREQUITED LOVE **  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  ** UNREQUITED LOVE**  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta