BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SENGAJA MENINGGALKAN KENANGAN BERSAMA SEMUA



SELAMAT MEMBACA, SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITA SEDERHANA INI.



Sejak satu minggu lalu Radit tak pernah bosan memeluk dan menciumi Aurel seakan dia enggan berpisah dengan istrinya. Aurel tentu senang. Tak pernah berpikir akan sesuatu hal yang buruk. Dia senang bila Radit memperlihatkan cintanya. Karena Radit memang bukan orang yang mengumbar kemesraan diluar kamar.


Sejak mereka kenal lalu menikah, pria peranakan Medan ini memanag tidak romantis. Terlebih di depan umum. Dia cenderung kaku. Tapi itulah sifat Radit yang membuat Aurel jatuh hati. Saat perempuan lain terpesona karena kekasihnya romantis dengan kata-kata rayuan manis. Radit hanya memperlihatkannya dengan tindakan nyata.


“Mam, sepertinya proyek di Cinangka bermasalah. Tapi Papap belum tahu kejelasan permasalahannya. Papap dan Reza sedang menyelidiki kebocoran proyek itu.” Jelas Radit malam ini saat mereka sedang pillow talk.


Semua masalah kerjaan memang mereka bahas di rumah. Agar saat Aurel datang ke kantor dia tidak buta dengan persoalan yang ada.


“Dan minggu depan sehabis ulang tahun abang Darrel, Papap akan serah terima proyek kita dengan Rangga ya Mam. Sekalian antar kado pernikahan untuk Rangga karena kita batal hadir di acara pernikahannya,” jelas Radit lagi.


Lelaki itu memberitahu istrinya jadwal kerjaannya agar jauh-jauh hari Aurel menyiapkan segala keperluannya. Baik keperluan pribadi, mau pun keperluan kantor.


“Iya Pap, akhirnya Rangga jadi nikah juga setelah diundur dua bulan lalu. Dan kemarin kita enggak bisa hadir karena bersamaan dengan pengajian untuk ayah Iskandar,” jawab Aurel. Dia akhirnya lega Rangga jadi menikah dengan teman masa kecilnya.


“Papap ke Bandung sama siapa?” tanya Aurel. Dia tak mungkin ikut berangkat ke Bandung menemani suaminya.


“Sepertinya enggak bisa bareng Reza Mam. Reza, Papap tugasin ke Cinangka. Papap pergi ama pak Saleh aja, orang bagian administrasi keuangan,” lanjut Radit sambil memeluk Aurel.


“Terima kasih ya kamu sudah menjadi teman hidupku. Kamu yang terbaik untukku dan keluarga. Kamu kejoraku. Jangan pernah redup walau aku enggak disisimu lagi,” bisik Radit penuh cinta


Namun Aurel yang sudah mulai ngantuk tidak terlalu memahami arti kalimat terakhir Radit. Dia berpikir Radit sedang memujinya seperti biasa.


“Sudah malam Pap, bobo ya” Aurel memeluk kekasih hatinya dan dia segera terlelap dalam kehangatan dekap cintanya. Terlelap dengan rasa bahagia karena hidup dengan pria pujaan hatinya.


***


Sejak kemarin Rajev sudah sampai di Jakarta, dan tentunya dia langsung kerja agar bisa punya banyak waktu luang. Seperti itulah Rajev. Dia selalu memanfaatkan waktu dengan sangat cermat.


Siang ini rumah keluarga Sebayang dipenuhi balon aneka bentuk dan warna. Aurel tidak menciptakan pesta mewah seperti permintaan Radit, dia hanya mengadakan pesta meriah. Selain saudara dekat Aurel mengundang anak-anak panti asuhan dekat rumah mereka. Meriah tak harus mewah ‘kan?


Radit sangat senang, dia banyak membuat photo dirinya dan Darrel. Dirinya dan Aira dan tentu dirinya dengan Aurel. Berbagai gaya dibuatnya seakan ingin meninggalkan kesan bahagia sebelum dia pergi tak kembali. Tak ada yang memperhatikan hal ini. Semua terbelenggu dengan rasa bahagia di pesta ulang tahun putra mahkota keluarga Sebayang.


Rajev datang dengan wajah bahagia. Dia sangat tulus dan merasa ikut bahagia melihat kebahagiaan perempuan yang sudah merebut hatinya. Buat Rajev, kebahagiaan orang yang dia cinta adalah bentuk cinta tulusnya.


“Aku senang melihat Aurel bahagia denganmu,” tulus dia berkata pada Radit, dan Aurel tak pernah duduk atau bicara berdua dengannya. Rajev dan Aurel sangat tahu batasan, kalau mereka memang hanya berteman saja.


“Bisa aku berpesan padamu?” tanya Radit serius. Mereka sedang makan berdua dipojok ruang makan.


“Aku ingin kamu menjaga Aurel, ibuku dan anak-anakku terutama Darrel setelah aku pergi!” pinta Radit dengan penuh pengharapan dan dia menunjukkan wajah seriusnya.


“Itu sepertinya amanat yang berat aku pikul. Bukankah saat besok kau berangkat ke Bandung, aku juga berangkat ke Cilacap?” bantah Rajev. Bukan tak mau menerima tanggung jawab. Tapi besok Rajev memang akan menuju Cilacap.


“Nanti kau akan tahu apa maksudku,” jawab Radit sambil memanggil photogafer untuk memotretnya berdua Rajev.


Sore hari rumah keluarga Sebayang menjadi sepi. Yang tersisa kakek Ikhlas, keluarga Mirna, Rajev dan Reza dan tunangannya serta Vino.


Radit meminta dibuatkan photo berdua dengan kakeknya, berdua dengan Aurel, berdua dengan Aira, berdua dengan ibunya, berdua dengan Darrel, berdua dengan Vini, berdua dengan Mirna, bertiga dengan Vino dan Mirna. Dia juga meminta dibuatkan berphoto ber empat dengan Aurel dan kedua anak mereka. Lalu minta dibuatkan photo dia bertiga dengan ibu dan kakeknya.


Rajev pamit lebih dulu dari para saudara Radit. Saat mengantar Rajev, didepan Radit memeluk erat Rajev dan kembali mengingatkan Rajev, “Ingat, aku titip anak-anak dan istriku dipundakmu.”


***


Besok paginya Radit  berangkat ke Bandung,  dia di jemput pak Saleh bersama pak Yono driver kantor. Sejak habis salat subuh Rajev sudah mengabari diri Radit kalau Rajev sudah di bandara menuju Jogja untuk bertugas di Cilacap.


Radit dan Rajev  memang selalu berbagi info. Terlebih saat ini Rajev sedang ada di Indonesia. Persahabatan mereka tak sengaja tercipta karena sama-sama mencinta perempuan manis bernama Aurel. Bedanya Radit mendapat cinta Aurel, sedang Rajev hanya bisa bahagia melihat perempuan yang ia cinta bahagia.


“Papap berangkat ya Mam, jaga anak-anak dan jangan pernah padam karena Mama adalah kejora keluarga Sebayang,” pesannya pada Aurel sebelum meninggalkan rumah.


Entah apa maksud kalimat Radit mengatakan Aurel tak pernah boleh padam dan juga Aurel adalah kejora keluarga Sebayang.


“Papap jangan pernah telat makan dan selalu hubungi Mama tiap saat ya?” tumben Aurel terasa berat melepas kepergian suaminya kali ini.


Tadi pagi sebelum bu Tarida berangkat kerja, Radit sudah pamit terlebih dahulu. Dia memeluk erat ibunya dan menciuminya tiada henti. “Ibu harus selalu sehat dan kuat ya?” demikian pesan terakhir saat dia mengantar ibunya masuk mobil.


Setiap saat Radit selalu melaporkan posisi dirinya dan apa yang dikerjakannya pada Aurel “Aku sudah sampai hotel Mam,” atau “Serah terima sudah berjalan baik dan Rangga titip salam untukmu serta mengucapkan terima kasih kadonya. Dia mengharap kita bisa berlibur di Bandung dengan anak-anak.”


Begitu dua hari laporan Radit pada Aurel selain kata-kata rindu dan cinta yang dia kirim tiap saat  “Sehabis sarapan kami meluncur pulang ke Jakarta, sengaja enggak pulang malam karena takut pak Yono ngantuk saat nyetir,” ini laporan Radit pagi ini.


======================================================================   


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta