BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAMU MULAI BERMAIN DENGANKU BINSAR?



SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


Wa’alaykum salam, masuk Gas,” balas bu Tarida ketika melihat siapa yang baru masuk rumahnya.


“Sabar Mbak, Aira pasti akan segera ketemu,” hibur Bagas, dia peluk pundak kakaknya yang tak henti terisak.


“Assalamu’alaykum,” sekarang kakek dan ayah Aurel yang berbarengan masuk. Mereka juga langsung datang kerumah bu Tarida begitu mendengar tentang hilangnya Aira.


Kakek bisa cepat tiba dirumah bu Tarida karena dia sedang di Jakarta untuk kontrol kesehatan rutin. Bila dari Cisarua tentu belum tiba saat ini.


“Wa’alaykum salam,” jawab semua yang berada di sana hampir berbarengan.


Akhirnya Aurel menceritakan kronologis hilangnya Aira sepulang sekolah tadi. Mbak Nah masih saja berbaring lemas di kamar Aira di temani oleh mbak Yuni dan Darrel.


Mbak Nah sangat terpukul. Walau hanya pengasuh, tapi dia memegang Aira sejak anak itu berusia tiga hari. Saat pertama kali bu Tarida membawa bayi itu pulang dari rumah sakit. Mbak Nah tak pernah sekali pun jauh dari Aira sejak dia dipercaya mengasuh Aira.


Mbak Nah merasa sakit bila Aira sakit. Dia yang merasakan sedih bila Aira rewel saat imunisasi. Walau akhirnya bayi kecil itu memiliki Aurel sebagai ibu yang sangat mengasihi, tapi Aurel tak pernah menggeser mbak Nah. Mereka berdua merawat Aira dengan kasih yang sama.


***


“Paaaaaaaaaak … Pak …” teriak seorang ibu yang menggandeng Aira di pintu pagar sekolah yang dikunci karena saat ini sudah jam lima sore. Cukup lama ibu ini memukul pagar dengan batu agar terdengar nyaring.


Pakbon tergopoh mendatangi pagar dan terkejut ketika tetangga sekolah menggandeng seorang anak perempuan berseragam sekolah tempatnya bekerja.


“Lho Bu, ini siapa dan mengapa sama Ibu?” tanya pakbon bingung, dia tidak hafal nama siswa di sana. Dia juga tak hafal wajah siswa yang hilang tadi pagi.


“Saya tanya namanya Aira Pak, dia saya temukan di depan pagar pintu rumah saya. Saya dengar bell ditekan. Saat saya keluar cuma ada anak ini. Saya tanya katanya namanya Aira, dan tante yang antar dia bilang saya akan mengantarkannya ke mamanya. Saya bingung maka saya bawa ke sini,” jawab si ibu.


Ibu itu juga tak tahu mengapa si pengantar anak mengatakan dia akan mengantarkan bocah ini ke mamanya. Lha siapa anak itu saja dia tak tahu. Sebagai seorang perempuan dan seorang ibu tentu dia tahu ibu gadis kecil ini pasti sedang sedih berpisah dari buah hatinya.


“Wah ini mungkin anak yang diculik pagi tadi Bu, lalu saya harus gimana Bu?” tanya pakbon bingung. Dia juga tak tahu dimana rumah anak ini dan siapa yang dia bisa hubungi.


“Tadi pagi ada siswa yang diculik? Apa Bapak tau siapa nama orang tuanya dan alamatnya?” tanya si ibu. Dia bertekad membantu. Dia kasihan pada anak ini. Juga kasihan pada pakbon yang tak mengerti mencari jalan keluarnya.


“Saya enggak tau, tapi tadi saya ikut ke kantor polisi saat melaporkan penculikannya Bu,” jawab pakbon lugu. Dia memang tadi dibawa ibu kepala sekolah saat melapor ke kantor polisi. Karena dia lah yang pertama menemukan mbak Nah pingsan dikebun belakang.


“Baik, ayok kita bawa anak ini ke kantor polisi. Kasihan dia kelamaan berpisah dengan keluarganya. Ayok sayang Bude antar ke Mamamu ya. Kita ambil motor Bude dulu. Bapak antar saya ke sana Pak,” pinta ibu itu. Dia tulus akan membantu Aira hingga bisa bertemu lagi dengan orang tuanya.


Lalu mereka ke kantor polisi dengan 2 motor karena pakbon menggunakan motornya sendiri.


***


Di rumah keluarga Sebayang baru saja selesai salat Maghrib berjamaah dengan Bagas sebagai imam. Mereka berdoa khusyuk agar Aira selamat dan tak terluka. Masih terdengar isakan Aurel dalam doa yang mereka panjatkan.


“Aira anak Mama,” Aurel langsung berlari memeluk anak perempuannya dan menciuminya penuh cinta.


“Alhamdulillaaaah kamu selamat Nak.”


“Pak, itu ada pak polisi yang mengantar, mereka ada di ruang tamu,” bu Siti berbisik pada kakek Ikhlas. Bik Siti tahu tak mungkin mengganggu Aurel yang sedang haru campur bahagia anaknya ketemu. Pulang dengan selamat.


Kakek, Bagas dan ayah Aurel bergegas ke depan menemui para polisi yang mengantar Aira. Aurel masih sibuk memandikan Aira dengan air hangat dan segera menyuapinya. Ibu Tarida segera mengecek kesehatan Aira.


“Kamu mulai bermain denganku Binsar? Walau cicitku kembali, tapi aku akan selalu menuduhmu sebagai dalang penculikannya!” suara pak Ikhlas jelas terdengar oleh Binsar dan Yulia karena Binsar sengaja meloadspeaker sambungan telepon mantan mertuanya itu.


“Maaf, Appa bicara apa?” tanya Binsar seakan tidak mengetahui penculikan Aira.


“Tak perlu berpura-pura!” lalu sambungan telepon diputus oleh pak Ikhlas.


‘Tunggu pembalasanku!’ ancam kakek dengan geram, tapi tak dia ucapkan. Dia akan segera membabat Binsar. Tak akan dia tahan lagi.


“Dengar kau Butet! Itu akibat ulahmu!” bentak Binsar. Dan Binsar tahu siapa dan apa jabatan mantan ayah mertuanya.


Yulia tidak menyangka kakek mantan suaminya bisa langsung tahu siapa dalang penculikan Aira. Dia bisa bayangkan bila rencananya diteruskan maka dia akan membusuk di penjara.


***


Malam ini Aira tidur dengan Aurel dan Darrel. Aira bercerita saat pulang sekolah dan mencari mbak Nah, ada tante yang bilang mbak Nah sudah menunggunya di mobil. Biasanya Aira sekolah naik mobil antar jemput dari sekolahan. Tadi diajak kemobil lain dia mau karena katanya mbaak Nah sudah berada dalam mobil itu.


Di mobil Aira diberi permen coklat lalu dia tidur, anak itu tidak sadar kalau coklatnya mengandung obat tidur. Saat bangun Aira diberi makan mie gelas. Gadis kecil itu cerita dia tidak menangis, dia diberi mainan boneka kain yang dibuat dari sapu tangan. Dia juga di beri permen dan roti.


Setiap Aira tanya mbak Nah atau mamanya tante dan om yang bersamanya akan mengajaknya bermain. Aira juga cerita dia tidak pernah dibentak atau dimarahi.


Terakhir Aira cerita akan diantarkan ke sekolah karena mama menunggunya disana. Lalu karena pagar sekolah tutup tante yang bersamanya memencet bell samping sekolah, si tante berpesan nanti ibu itu yang akan mengantar Aira ke mama, tante mau beli minum dulu. Lalu tante itu meninggalkan Aira di pagar rumah samping sekolahannya.


“Pap, alhamdulillah Aira pulang dengan selamat. Mama enggak bisa bayangin kalau dia hilang atau kembali hanya jasadnya saja,” Aurel berbisik mengadu pada suaminya sambil menangis terisak saat menciumi Aira yang sudah tertidur dalam pelukannya.


\=====================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta