BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAMU BISA MEMANGGILKU BHARTHAVE



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Mbak, kita berdua bersiap berangkat ke Jogja ya untuk lihat lokasi proyek kita yang baru. Jadwal pastinya nanti akan saya minta mbak Wina meng infokan pada mbak Murti tiga hari sebelum keberangkatan. Surat tugas dari HRD juga nanti ada, jadi jelas tugas Mbak adalah tugas kantor.” jelas Aurel. Selama ini Murti menemaninya adalah tugas pribadi walau tetap dicover gaji kantor.


“Nah disana saya ingin Mbak merangkap sebagai pengganti mbak Wina ya, karena mas Reza tidak bisa berangkat, istrinya mau melahirkan, jadi mbak Wina harus jaga gawang kalau di lapangan kita butuh data faktual dia bisa segera saya minta bantuan.”


“Seminggu ini tolong Mbak belajar dengan mbak Wina masalah proyek Jogja, sehingga Mbak enggak blank kalau saya minta sesuatu di sana!” Aurel berupaya menjelaskan tugas Murti selama pergi ke Jogja minggu depan.


“Siap bu,” jawab mbak Murti dengan pasti. Dimana pun dia ditugaskan dia akan bekerja semaksimal mungkin.


“Wah saya lupa mbak Wina, nanti hubungi lagi HRD, bilang selama satu minggu ini mbak Murti akan menemani saya di ruangan ini. Tidak usah bilang dia harus belajar sesuatu, bilang saja dia diminta menemani saya. Just it,” perintah Aurel.


“Baik bu,” Wina mengerti maksud perintah Aurel.


“Kalau begitu saya pulang duluan ya,” Aurel bersiap merapikan mejanya, menyimpan file di laci mejanya lalu menguncinya.


“Ayo kita pulang kak Aira,” ajak Aurel pada putri sulungnya.


“Yeeeeaaaay, kita jadi beli ice cream kan Uppa?” tanya Aira pada Rajev. Padahal yang mengajak pulang adalah mamanya.


“Of course princess,” jawab Rajev sambil tersenyum.


“Kak Aira pamit pada tante Wina dan tante Murti dulu,” perintah Aurel pada gadis kecilnya. Aira langsung mendatangi kedua pegawai mamanya dan memberi salim.


***


Banyak mata karyawan yang secara sembunyi-sembunyi memandang pada Aurel serta Rajev yang berjalan beriringan sambil menggandeng Aira serta Darrel dalam gendongan Rajev. Sejak saat ini semua yang melihat tahu bahwa Rajev akan menggantikan posisi Radit sebagai suami bu Aurel.


“Tadi kesini naik apa Kak?” tanya Aurel saat di lift tadi.


“Naik taksi,” jawab Rajev sambil mencium pipi Aurel.


“Kak!” protes Aurel.


“Aku kangen kamu,” kilah Rajev memberikan alasan, toh saat itu di lift hanya ada mereka.


“Ya, tapi sebelum ini tingkahmu enggak seperti ini,” protes Aurel.


“Karena saat ini kamu resmi kekasihku, dulu kamu hanya pujaanku,” balas Rajev.


“Apa bedanya?” Aurel malah bingung.


“Dulu kamu enggak membalas cintaku, hanya aku sendiri yang mencinta. Saat ini kamu kan sudah mengakui cinta padaku,” jelas Rajev dengan mengedipkan sebelah matanya. Aurel hanya tersenyum melihat tingkah konyol Rajev itu.


Aurel menyerahkan kunci mobil pada Rajev. Dia membukakan pintu belakang untuk Aira, ternyata Darrel meminta duduk di belakang juga. Aurel pun memberikan sussu formula dalam botol pada Darrel. Anak lelaki kecilnya itu sudah ngantuk.


“Mau makan ice cream dimana Kak?” tanya Aurel pada Rajev. Tapi panggilan KAK membuat Aira merasa dialah yang ditanya oleh mamanya karena Aurel lupa menggunakan bahasa Indonesia. Andai dengan bahasa Inggris tentu Aira tidak akan merasa kalimat mamanya ditujukan untuknya.


“Di mcD Ma, aku mau di sana,” jawab Aira. Dia sangat suka ice cream digerai berlogo badut itu.


“Kamu harus ubah panggilan untukku agar tidak tertukar,” Rajev memberi saran pada Aurel.


“Dengan panggilan apa? Kamu enggak pantas aku panggil mas, sebutan kakak dalam bahasa Jawa, juga enggak bisa kupanggil abang seperti Radit karena kamu bukan dari Medan,” Aurel bingung.


“Itu mcD Kak,” Aurel menunjuk lokasi yang ingin mereka tuju. Aurel mengarahkan Rajev untuk kesana. Lagi-lagi Aira yang merasa diajak bicara.


“Uppa kesitu, belok Uppa,” pinta Aira dengan semangat.


“Ya sayank, ini Uppa belok,” jawab Rajev terbata dalam bahasa Indonesia.


Rajev memarkir mobil lalu dia ke belakang untuk menggendong Darrel yang baru saja terlelap. Aurel menggandeng Aira dan memesan makanan tanpa ice cream lalu mereka duduk di meja yang sudah ada Rajev disana.


“Mama mana ice creamnya?” tanya Aira penasaran.


“Ice cream akan diantar kalau Kakak sudah habis makannya. Ini nomor untuk Kakak minta ice cream nanti,” jelas Aurel. Dia memang sudah membeli ice cream namun minta diantar 30 menit lagi.


“Enggak usah, Um’ma aja makan duluan,” jawab Rajev.


“Apakah um’ma adalah panggilan untuk ibu?” tanya Aurel, yang dijawab oleh Rajev dengan anggukan.


“Kamu bisa memanggilku bharthave” saran Rajev.


“Apa artinya?” tanya Aurel sambil mencuil ayam serta mencelupnya ke saos sambel lalu di ambilnya sedikit nasi dan disuapkan ke mulut Rajev.


Rajev tidak  menyangka akan perlakuan manis Aurel, dia sangat senang dan tanpa ragu apalagi malu dia makan dari suapan Aurel.


“Ha ha ha, Uppa kayak dede Darrel, disuapin mama,” ejek Aira.


“Uppa disuapin karena tangan Uppa kan lagi pangku dede Darrel,” Aurel menjawab ejekan Aira, dia tidak enak Rajev diejek anaknya.


“Hei, sejak tadi kamu hanya menyuapiku, kamu sendiri enggak makan?” tegur Rajev.


“Ini aku makan, aku kan makan kentang dan ayam, nasi hanya untukmu,” jawab Aurel. Karena dia dan Aira  tidak beli nasi. Aurel kembali menyuapi Rajev hingga selesai.


“Masih mau nambah?” tanya Aurel.


“Enough” jawab Rajev. Dia sudah cukup kenyang.


“Sop sedikit ya? Kamu belum makan serat kan?” cecar Aurel. Aurel memang selalu penuh perhatian terhadap asupan makanan yang dikonsumsi.


“Sudah, tadi pagi aku sudah minum juice mangga,” jawab Rajev.


“Habiskan sedikit lagi Kak, itu ice creammu sudah diantar,” Aurel memberi semangat pada Aira.


“Kamu tadi belum menjawab arti bharthave,” Aurel mengingatkan Rajev tentang pertanyaannya tadi.


“Artinya suami,” jawab Rajev.


“Ih, aku enggak mau panggil itu” tolak Aurel. “Apa sebutan kakak laki-laki?” tanya Aurel sambil menyuapi puding ke mulut Rajev.


“Dalam bahasa Malayalam disebut jesttan,” sahut Rajev.


“Baik, aku akan memanggilmu jesttan,” balas Aurel.


“Tapi aku lebih suka kau panggil bharthave, karena aku bukan kakak lelakimu,” protes Rajev.


“Sudah habis Kak,” tanya Aurel melihat Aira sudah menghabiskan ice creamnya. Dia kembali menyuapi Rajev puding hingga habis.


***


“Tadi aku dengar kamu mau berangkat ke Jogja?” tanya Rajev saat mereka sedang menuju pulang.


“Iya, mungkin berangkat sekitar 10 atau 14 hari lagi, tergantung kesiapan team pekerja,” jawab Aurel.


“Aku hari Senin depan di Cilacap, semoga kita bisa ketemu di Jogja ya,” harap Rajev.


“Kamu belum cerita, akhirnya kamu di tempatkan di mana?” tanya Aurel cemas.


 ====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL CINTA KECILNYA MAZ  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta