
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\==================================================================
“Sekarang ayok kita pulang, ingat kau harus hati-hati terhadap siapa pun di kantormu karena Ayah yakin amang borumu akan menyerangmu lagi karena kemaren dia rugi besar akibat kebunnya habis kena hama. Itu karena dia malas mengantisipasi datangnya hama dan pelit mengeluarkan uang pencegahan membeli anti hama,” pak Iskandar mengajak anaknya pulang.
“Kalau saat itu aku pingsan atau tidur saat photo itu dibuat, bagaimana aku bisa menghamili perempuan ular itu?” tanya Radit saat mereka di dalam lift.
“Ayah yakin Aira bukan darahmu,” jawab pak Iskandar enteng.
***
Radit dan Ayahnya beriringan pulang, mereka masuk rumah hampir bersamaan dengan bu Tarida. Namun belum terlihat mobil Aurel di area parkiran rumah besar itu. Dan telepon dari Radit juga masih tak ditanggapi oleh Aurel.
Sejak sore Aurel sudah berada di rumah ayahnya, dia beralasan mencari buku resepnya untuk dia buat di toko kue nya. Sampai sore semua chat Radit tidak dibacanya dan semua telepon tidak diangkatnya, agar tidak berisik memang dia mengatur dering teleponnya menjadi senyap.
“Kamu koq belum pulang Rel, ini sudah maghrib lho,” tegur ayahnya.
“Iya Yah, sebentar lagi,” jawab Aurel sambil pura-pura sibuk dengan aneka buku resepnya,
‘Kamu di mana sayang?’ batin Radit, dia sedih karena tak pernah Aurel ngambeg seperti ini, mereka tidak pernah beda pendapat hingga membuat Aurel bertindak seperti ini.
“Aurel mana Bang, enggak pernah kan dia seperti ini?” tanya bu Tarida karena tak melihat menantunya ikut makan malam bersama-sama.
“Itu yang bikin Abang dari tadi enggak habis pikir Bu. Aurel ga pernah ngambeg. Sebesar apa pun beda pendapat antara kami,” jawab Radit
“Namun gara-gara titisan ular datang tadi pagi, Aurel langsung enggak mau bicara dengan Abang, dan semua chat Abang enggak dibacanya,” keluh Radit sedih.
“Kita makan dulu, kalau sampai kita selesai makan Aurel belum pulang, biar Ayah yang akan bicara dengannya agar dia tenang. Ayah yakin Aurel bukan marah dengan kita, tapi dia enggak siap berpisah dengan Aira,” pak Iskandar meredam kekhawatiran istri dan anaknya.
Sejak maghrib Aurel sudah keluar dari rumah ayahnya, dia tidak ingin ayahnya curiga, namun dia tetap tak langsung pulang, dia masih tidak berani ngebayangin bila Aira harus di ambil dari asuhannya. Dalam mobil dia terus terisak. Matanya sudah bengkak sejak siang tadi. Saat ini dia sedang duduk termenung disudut toko buku Gramedia, lalu dia keluar dan duduk di food court, dia memesan segelas hot milk chocolate.
Saat sedang menyesap seteguk hot milk chocolate, teleponnya berdering dan terlihat pemanggil adalah nomor ayah mertuanya. Aurel tak mungkin berani menolak panggilan itu, maka dengan malas dia menerima panggilan tersebut.
“Kamu dimana Nak?” tanya ayah mertuanya lembut setelah mereka berbalas salam.
“Di toko buku Yah,” jawab Aurel jujur.
“Enggak usah Yah, nanti Aurel pulang koq,” balas Aurel.
“Kita harus bicara, nanti temui Ayah ya begitu kamu sampai rumah. Sekarang Ayah tutup teleponnya,” perintah pak Iskandar namun tidak mendesak menantunya agar segera sampai rumah. Ini kehebatan pak Iskandar. Dia menekan orang tapi yang ditekan tak merasa tersakiti. Mungkin karena dia terbiasa menekan para pelaku kejahatan yang ditanganinya.
Radit yang mendengar percakapan ayah dengan istrinya bingung. Aurel marah atau kecewakah pada dirinya sehingga sama sekali tak mau bicara dengannya. Bukankah perihal kedatangan Yulia bukan dia yang atur?
Jam sembilan malam mobil Aurel baru memasuki carport rumah mertuanya. “Aurel taruh tas dan ke toilet dulu Yah, nanti Aurel kesini,” sebelum ditegur Aurel langsung pamit hendak ke kamarnya dulu. Radit membuntuti istrinya dalam diam. Ditunggunya istrinya selesai mandi.
“Kamu kenapa love? Kenapa telepon Abang enggak diangkat dan semua chat Abang enggak dibaca? Abang salah apa ama Adek?” tanyanya lembut sambil memeluk istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
“Maaf, aku udah ditunggu ayah di bawah,” balas Aurel sambil berupaya melepaskan pelukan hangat suaminya. Sejujurnya dia nyaman dipeluk Radit, dia merasakan perlindungan. Tapi dia takut bila Radit tak bisa mempertahankan hak asuh Aira, sehingga membuat dia harus berpisah dengan anaknya tersebut.
“Dengar dulu Mam, kamu harus jawab dulu pertanyaan Papap baru kita bicara dibawah. Jangan kamu memutuskan sesuatu hanya berdasarkan pikiranmu aja. Kalau Papap salah tolong maafkan, tapi please kasih tau apa salah Papap sehingga Papap enggak akan buat hal itu lagi dikemudian hari,” pinta Radit sedih.
“Papap enggak pernah salah. Ayok kita ke bawah, enggak enak ayah kelamaan nungguin,” balas Aurel, dia enggan membahas apa pun dengan Radit.
“Kalau Papap enggak salah, kenapa mata Mama sampai bengkak begitu?” tajam Radit memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat terluka.
“Please love, jangan seperti ini. Bicara dengan Papap,” rengek Radit.
“Dari tadi kita sedang bicara ‘kan? Ayok kita keluar sekarang atau selamanya aku enggak akan bicara denganmu,” ancam Aurel.
Radit diam mendengar ancaman istrinya, dia melepaskan pelukannya serta membiarkan Aurel keluar kamar sendiri tanpa dia temani. Dia sangat marah terhadap penyebab istrinya bertindak seperti itu.
Bukan marah pada Aurel, karena baginya tindakan Aurel adalah akibat dari tekanan yang Aurel terima. Radit tak pernah bisa marah pada belahan jiwanya itu.
Bila membunuh bukan tindak kriminal, ingin dia segera membunuh Yulia saat ini juga. Yulia sudah dua kali membuat Aurel terluka. Saat yang pertama Aurel memang tak dilihat sampai bengkak matanya, karena sejak dikantin dia tak pernah bisa bertemu lagi dengan peri kecilnya. Tapi dari masalah Aurel ganti nomor ponsel, itu bisa dilihat betapa terlukanya peermpuan itu.
Dan sekarang adalah luka kedua yang Yulia berikan pada Aurel. Radit sangat geram.
Bu Tarida bingung melihat dari kejauhan Aurel turun sendirian tanpa Radit dan dilihatnya mata bengkak menantunya. Dia berbisik pada suaminya “Yah lihat, mata menantu kita sampai bengkak begitu.”
Pak Iskandar hanya mengangguk karena Aurel sudah dekat dengan mereka. “Mana Abang?” tanya pak Iskandar pada Aurel.
“Di kamar mandi Yah,” balas Aurel lirih.
“Ayah boleh tau kenapa matamu bengkak dan kamu sampai telat pulang?” dengan lembut namun tegas pak Iskandar bertanya pada Aurel.
“Aurel enggak sanggup kalau harus berpisah dengan Aira Yah. Biar dia bukan lahir dari rahim Aurel, tapi dia anak Aurel,” Aurel kembali terisak menjawab pertanyaan ayah mertuanya.
“Mengapa kamu berpikir begitu? Kalau enggak mau pisah dengan Aira, kenapa malah pulang malam sehingga enggak bisa nemani dia mandi sore dan makan malam serta menimangnya hingga tidur malam ini?” pancing pak Iskandar.