BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
INIKAH CALON IMAM KU?



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\====================================================================


Jam 00 baru Aurel selesai bersalam-salaman dengan para peserta yang dia kenal dan panitia acara. Radit masih setia disisinya tanpa beranjak sedikit pun sejak awal acara. “Sudah selesai dek?” tanyanya ringan.


“Abang kenapa dari tadi nungguin Adek, ‘kan Abang bisa aja kekelompok Abang atau balik tidur duluan?” jawab Aurel tanpa rasa bersalah.


“Kamu lupa apa pura-pura lupa?” selidik Radit. Pemuda keturunan Medan ini sangat lembut. Tak pernah marah bila tidak terlalu kelewatan. Di senat semua anggotanya tahu soal itu.


“Apa?” … Aurel berpikir sejenak.


“Astagfirullaaaaaah, Adek lupa, Abang nunggu jawaban Adek?” tanya Aurel penuh sesal, dia duduk disudut lobby losmen tempat para peserta jambore menginap.


Dilepasnya sarung tangan lalu ditaruh di meja, dia beranjak mengambil dua gelas kopi. Satu kopi hitam dan satu kopi dengan creamer serta beberapa sachet gula.


“Mau pakai berapa sachet?” tanyanya sambil memandang Radit yang juga menatap tajam padanya.


“Dua,” jawab Radit datar, dia cemas karena terkesan Aurel sengaja menunda-nunda menjawab. Radit menduga penundaan ini karena Aurel tak enak untuk menolaknya dan lebih memilih laki-laki India itu.


Aurel menuangkan dua sachet gula dan mengaduknya pelan lalu mendorong cangkir kopi hingga kedepan Radit. Lalu dia melanjutkan menuang gula untuk coffee creamer nya. “Abang kenapa tegang gitu?” tanya Aurel sambil mengambil tangan Radit untuk dia genggam.


“Adek boleh tanya, maksud Abang minta Adek kembali menjalin hubungan tu buat apa?” tanya Aurel, dia merasakan jemari Radit dingin.


“Usia kita enggak remaja lagi Dek, saat Abang selesai S1 aja Abang udah minta kita tunangan. Karena Abang serius ingin menikahimu. Saat itu kamu yang  enggak mau tunangan. Kalau enggak ada tragedi ulah Yulia kita kan akan nikah selesai kamu wisuda. Jadi jelas, saat ini Abang minta kembali berhubungan untuk langsung nikah, soal S2 mu kan cuma nunggu tiga semester, itu tetap bisa kita atasi karena jarak Jogja - Jakarta kan engga jauh!” tegas Radit.


“Abang bilang, soal S2 mu ‘kan cuma nunggu tiga semester, itu tetap bisa kita atasi karena jarak Jogja - Jakarta kan enggak jauh, seakan yakin aku mau langsung Abang nikahi” Aurel bicara pelan sambil tersenyum kecil.


“Apa aku salah? Kamu milih dia?” Radit berkata pelan penuh keraguan.


Aurel diam, dia memang awalnya  ragu akan memilih Rajev atau Radit, namun sejak kemarin dia sudah menetapkan pilihan. Sekarang dia kembali bingung ditodong untuk segera menikah dengan Radit tanpa menunggu S2 nya selesai.


“Kamu milih dia?” tanya Radit lagi. Aurel menatap tajam pria yang dia cintai, dia sangat suka ketegasan Radit. Radit adalah cinta pertamanya dan satu-satunya lelaki yang dia cintai. Karena untuk Rajev dia hanya merasa nyaman, tak pernah ada rasa kangen seperti pada sosok yang dia cinta di depannya ini,.


Tak ada rasa cemburu walau Rajev sering cerita tentang teman-teman wanitanya atau bahkan Rajev cerita dia sedang party dengan teman-temannya. Aurel tidak pernah merasa ketakutan apakah saat itu Rajev akan tertarik dengan teman wanitanya di sana.


Radit menggenggam erat tangan tinker bellnya, dia menunggu jawaban Aurel, apa pun dia akan terima.


“Adek mau ndampingi Abang, dengan syarat enggak ada perempuan lain sebagai istri Abang!” jawab Aurel pasti sambil menatap Radit penuh cinta.


“Selama ini hati Abang enggak pernah mendua Dek, walau emang pernah ada satu nama berstatus istri, tapi demi Allah walau halal sekali pun, Abang enggak pernah nyentuh dia,” jelas Radit memastikan kalau cintanya selama ini tidak pernah berubah. Jangankan menyentuh. Ngobrol saja tak pernah.


“Abang enggak pernah tidur ama dia?” cecar Aurel tak percaya.


“Abang juga enggak tau soal kejadian bisa ada Aira. Tapi kalau secara sadar, sesudah nikah pun Abang enggak sentuh dia. Dia melahirkan pun Abang enggak nemani. Seminggu sebelum HPL dia Abang suruh kembali ke rumah orang tuanya dengan taksi yang Abang panggilkan. Abang beralasan kalau dia melahirkan siang enggak ada yang menemani atau antar dia ke rumah sakit,” Radit menceritakan hubungannya dengan Yulia.


“Tiga hari kemudian dia melahirkan di rumah sakit tempat ibu kerja. Dan Abang enggak nungguin. Abang datang sehari kemudian untuk memberikan uang kompensasi,” jelas Radit.


Radit bahagia cinta pertama dan satu-satunya sudah kembali, dia mengucap syukur dan berjanji tak akan lagi ada yang boleh memisahkan cinta mereka hingga akhir hayatnya.


Selanjutnya mereka langsung bicara serius tentang kelanjutan hubungan mereka.


“Abang besok pulang jam berapa?” tanya Aurel.


“Pesawat jam satu siang , jam sebelas dari sini kalau ikut jadwal team,” jawab Radit sambil menciumi jemari Aurel yang ada dalam genggamannya. Tak dia sangka, kegiatan yang awalnya malas dia ikuti malah membuat cintanya dengan Aurel kembali bertaut.


“Adek duluan, Adek berangkat jam delapan pagi sehabis sarapan karena kami mau ke Batu dulu sebelum kembali ke Jogja.”


“Ok, sekarang kamu istirahat ya” Radit menyuruh calon istrinya untuk kembali ke kamar.


***


Radit kembali ke Jakarta dengan hati penuh cinta. Tentu saja ibu sangat bahagia mendengar khabar bila cinta Radit dan Aurel kembali terajut. Dan yang menjadi kejutan adalah mereka akan menikah dua bulan lagi saat Aurel pulang ke Jakarta bersamaan libur semesternya. Ibu sangat antusias lalu menghubungi Aurel, untuk membahas persiapan baju dan lain-lain.


“Ukuran baju nanti aku kirim ke Ibu aja ya. Kalau model kebaya akad dan resepsi terserah Ibu dan Abang aja, aku manut,” Aurel tidak mau ribet, dia tahu ibu pasti akan memilihkan yang terbaik untuknya.


Hari ini Radit datang ke Jogja, mereka berniat untuk bikin photo prewedding di Jogja, team photographer dari Jakarta yang sudah disewa oleh Radit malah sudah di Jogja sejak dua hari lalu untuk memastikan lokasi pemotretan. Aurel dan Radit berharap undangan sudah bisa mereka sebar 3tiga minggu sebelum pernikahan.


‘Aku tidak menyangka, sebentar lagi tinker bell ku akan halal untukku,’ batin Radit saat memeluk Aurel dalam sesi photo siang ini.


‘Inikah calon imam ku?’ batin Aurel saat memandangi Radit. Mantan ketua senat yang banyak digandrungi mahasiswa satu kampusnya dahulu.


Radit hanya bisa tiga hari di Jogja, satu hari khusus untuk pemotretan dan dua hari untuk berjalan-jalan dengan calon istrinya serta mengambil souvenir pernikahan yang sudah di pesan oleh Aurel untuk Radit  bawa ke Jakarta


***