
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
“Tak ada yang bisa menerima Bang, rata-rata sedang defisit karena ini musim anak sekolah, jadi banyak yang meminjam dana. Mereka kehabisan dana,” lapornya pada Binsar.
“Bah, bagaimana bila rumah ini dibakar. Dengan apa pulak aku bayar upah mereka?” keluh Binsar dengan dialek tanah leluhurnya yang khas.
Sudah dua hari Binsar sibuk kasak kusuk mencari dana untuk membayar gaji para pekerja kebunnya. Tidak sengaja dibacanya selembar kertas yang ditempel di tiang listrik. Mengiklankan jual rumah.
‘Apa aku jual saja kebun dan rumah itu ya? Karena tidak mungkin hanya rumah saja yang di jual sebab rumahnya berada di tengah kebon sawit. Sehingga tak bisa di jual hanya rumahnya saja, karena semua hanya satu surat,’ Binsar langsung mempunyai ide menjual tanah warisan almarhum istrinya itu.
‘Dari pada aku dituntut, lalu rumah dibakar massa, tapi tetap harus bayar upah, ‘kan lebih baik dijual saja. Toh nanti aku akan tinggal di Jakarta sebagai pimpinan perusahaan yang sekarang dipegang Aurel,’ pikir Binsar dengan penuh percaya diri. Dia yakin perusahaan itu akan jatuh ketangannya. Saat ini hanya itu jalan yang bisa dia ambil.
Lalu Binsar pun mulai menawarkan surat tanahnya pada beberapa pengusaha sawit di sekitarnya. Namun sampai satu minggu belum ada peminat sama sekali. Waktu sepuluh hari yang disepakati dengan para pekerja tinggal tersisa tiga hari lagi. Binsar dan adiknya mulai bingung, saat seseorang menelepon nomor adik sepupu Binsar.
“Selamat siang, saya Yudha, kemaren teman saya bilang Bapak mau menjual kebun sawit?” tanya suara diujung sana.
“Iya benar” jawab Binsar, karena adiknya langsung memberikan ponselnya. Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di kebun sawit untuk melihat kondisi kebun serta kelengkapan surat-surat.
“Wah ini buah sudah diijon ya Pak?” tanya Yudha yang datang dengan penasehat hukumnya.
“Iya, kemarin saya sudah ijonkan” jawab Binsar lirih.
“Harusnya saya mengurangi harga penawaran saya karena buah sudah diijon. Buah berikut sudah tak bisa saya panen lagi. Namun sudahlah enggak apa-apa. Saya tetap diharga yang saya sebut tadi saja,” Yudha memberi kepastian tidak akan mengurangi harga tawarannya walau dia tahu buah sawitnya sudah diijonkan oleh Binsar.
“Harga Bapak terlalu jauh dari harga umum Pak,” balas Binsar lemah, dia sangat kepepet, namun sayang harga dari Yudha hanya setengah harga umum.
“Bapak ‘kan enggak bakal rugi karena tanah ini hanya tanah warisan. Bukan hasil kerja keras Bapak. Saya pamit dulu. Kalau Bapak bersedia, bisa menghubungi saya di nomor yang tadi saya gunakan,” dengan lugas Yudha mengatakan kalau Binsar tidak akan rugi. Dia pun berlalu dari kebun sawit tersebut.
“Gimana Bang, waktu tinggal lusa. Kalau pun dibayar lusa, kita bisa bahaya kalau saat kita pergi ke notaris rumah sudah dibakar duluan. Kita malah akan berurusan dengan pembeli, bila rumah sudah hangus. Jadi ya tinggal besok aja Abang bisa bergerak mencari pembeli lain,” adik sepupu Binsar menjabarkan bahwa mereka sudah sangat kepepet waktu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Binsar meminta adiknya menghubungi Yudha. Namun sejak sore nomor Yudha tidak aktiv. Binsar dan adiknya tambah senewen. Tidak ada jalan keluar lagi selain menerima tawaran Yudha. Namun nomor Yudha malah tak bisa di hubungi.
Akhirnya jam sepuluh malam Yudha berhasil dihubungi. Mereka janjian besok jam sembilan pagi bertemu di kantor notaris untuk melakukan transaksi jual beli. Binsar pun menyiapkan semua surat-surat rumah dan kebun serta bukti setoran pajak bangunan.
Karena sudah kepepet Binsar tak sadar pembeli cepat menyanggupi bertemu esok hari dinotaris. Padahal untuk membuat janji bertemu dengan notaris untuk melakukan transaksi kan tidak mudah. Harus sudah janjian terlebih dahulu. Lain hal bila ke notaris hanya sekedar bertanya-tanya. Any time bisa karena banyak staff yang akan menerima kehadiran kita.
Pagi ini Yudha dan pengacaranya sudah menunggu Binsar di kantor notaris. Mereka datang tepat waktu karena ingin urusannya segera selesai.
“Silakan dibaca datanya dulu dengan benar sebelum saya cetak surat jual belinya. Seorang pegawai notaris menyerahkan perjanjian jual beli dengan data rumah, tanah dan nama serta data Binsar tertulis dengan benar. Nama pembeli masih kosong hanya data NIK 9 nomor induk kependudukan ) serta alamatnya sudah tercantum disana.
Yudha dan Binsar sama-sama menyatakan data tersebut benar. Pegawai notaris segera ngeprint data tersebut pada kertas bersegel dan berlogo kantor notaris tersebut tentu saat ini dengan nama lengkap pembelinya.
Pembeli sengaja memberi Binsar uang cash untuk mempermudah Binsar segera membayarkan tebusan ijon dan upah para pekerjanya. Sebaliknya dari Binsar diserahkan surat tanah asli.
Setelah Binsar menerima uang pembayaran, notaris meminta Yudha memanggil pembeli kebun untuk tanda tangan. Binsar baru tau ternyata pembelinya bukan Yudha. Saat pintu di ketuk Binsar melihat siapa pembeli asli kebunnya. Dia kaget ketika yang masuk ruangan itu adalah Aurel dan mantan mertuanya, Ikhlas Sebayang.
“Selamat siang,” sapa Aurel santai.
“Siang bu Aurel. Silakan anda langsung tanda tangani surat jual belinya agar saya bisa segera membuat serifikat baru atas nama Ibu,” jawab notaris ramah.
***
Binsar sangat marah, tapi dia memang sudah kalah karena dia butuh uang untuk membayar upah para buruhnya. Dia tidak menyangka mertuanya bisa tahu kalau dia ingin menjual tanah pemberian mertuanya tersebut.
“Aku tak peduli harus menebus tanah yang kuberikan padamu. Yang penting tanah itu kembali pada yang berhak,” bisik mertuanya saat mereka akan keluar dari ruang notaris.
“Ingat, aku pernah bilang jangan pernah bermain denganku. Saat kau bermain, terima pembalasanku,” Ikhlas Sebayang mencibir mantan menantunya itu.
Tapi yang paling diingat adalah kata-kata tajam Aurel saat notaris meminta mereka berjabat tangan antara penjual dan pembeli.
“Paman tau, semut saja akan melawan kalau diinjak terus. Sekarang saatnya saya akan melawan. Saya akan membuat Paman merasakan sakit yang saya rasakan walau itu tak akan sebanding. Karena walau darahmu habis sekali pun, tak akan bisa membuat suamiku hidup kembali!”
Binsar tau tentang kecelakaan yang membuat Radit meninggal. Namun bukan dia penyebabnya. Memang anak buahnya sudah mengintai Radit selama dia di Bandung, tapi belum sampai eksekusi untuk menghabisi Radit, ternyata mobil Radit sudah lebih dulu tertabrak truk. Jadi menurut Binsar, kematian Radit bukan karena ulahnya.
***
\========================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE, MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL UNREQUITED LOVE YA
\================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta