BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
WHY CAN'T WE BE GOOD FRIENDS LIKE BEFORE?



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 Dua hari lalu aku baru tahu kalau lusa Aira akan berulang tahun yang ke lima. Seharusnya besok aku sudah harus kembali ke Qatar. Maka aku reschedulle jadwal kepulanganku. Ku undur tiga hari agar bisa hadir di ulang tahun Aira yang kelima.


Tadi pagi sehabis sarapan aku sengaja mencari kado untuk Aira. Ternyata aku dibuat pusing karena sama sekali ta tahu barang apa yang bagus untuk anak perempuan usia lima tahun.


Dress?


Boneka?


Sepatu?


Mainan lain?


Buku cerita?


Alat gambar?


‘Aaah … apa yang harus aku beli?’


Sore ini aku sengaja datang ke rumah almarhum Radit. Sosok berkharisma yang dengan mudah menerimaku menjadi sahabatnya. Almarhum Radit tak pernah sekali pun membenciku atau mencurigaiku ingin mendekati istrinya. Padahal dia tahu saat Aurel masih gadis aku sangat memuja dan mencintai istrinya itu.


Sudah aku katakan sejak pertama bertemu dengan Radit, kalau aku tak akan pernah mengganggu istrinya. Aku pernah sangat sakit dikhianati, maka aku tak ingin membuat orang lain sakit karena pengkhianatan yang aku buat.


Satpam depan rumah sudah mengenalku, sehingga aku diperbolehkan masuk. Kulihat Aira sedang terkekeh dengan Vino dan Darrel. Aku sudah mengenal Vino, sahabat Radit sejak kecil yang rumahnya hanya dua rumah dari rumah Radit. Beberapa kali kami bertemu saat Radit masih hidup.


“Assalamu’alaykum cantik” aku langsung menyapa Aira. Gadis kecil yang sedang berulang tahun.


“Wa’alaykum salam om Rajev,” Aira langsung memelukku, dia tak menerima uluran tanganku. Kukecup pipi dan kening putri kecil Radit dan kuberikan hadiahku untuknya. Hadiah yang untuk memutuskan membelinya, membuat kepalaku pusing seperti dipukuli oleh palu.


“Rajev, when did you arrive in Indonesia?” tanya ibu Radit sambil menghampiriku dan dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sosok perempuan yang tegar, karena dia kuat bertahan mendapat musibah beruntun dengan meninggalnya suami lalu anak tunggalnya.


“Sudah sepuluh hari Mom, besok saya kembali ke Qatar” jawabku dengan bahasa Indonesia yang memang sedang aku pelajari, karena aku sudah memutuskan akan tinggal di Indonesia ketika nanti Aurel menerima lamaranku. Dulu Aurel pernah bilang akan memikirkan lamaranku bila aku berketetapan tinggal di negeri ini. Indonesia.


“Wah kamu mulai bisa berbahasa Indonesia” bu Tarida sedikit kaget.


“Saya belajar sedikit-sedikit” balasku.


Sejak kedatanganku , Aurel berupaya tidak dekat, apalagi menyapaku. Aku mencari celah bagaimana aku bisa bicara dengannya. Kulihat dia sedang memberi makan Darrel. Kalau aku dekati, dia tak mungkin menghindar tanpa mengangkat Darrel yang sedang duduk dikursi tinggi khusus anak balita belajar makan.


 “Anak hebat, ayo satu lagi ya,” Aurel terus mengajak Darrel bicara.


“Hallo jagoan, sedang makan?” tanyaku, aku sengaja duduk di sebelah Aurel.


Aku perhatikan wajahnya langsung berubah tak suka. Aku tidak mengerti mengapa dia menjadi begitu membenciku setelah kematian suaminya. Bukan aku kan yang membuat Radit meninggal? Lalu salahku dimana?


“Have I done anything wrong to you? Why can't we be good friends like before? (Apa aku pernah berbuat salah padamu? Mengapa kita ga bisa akrab seperti dulu?)” bisikku. Aku penasaran apa penyebab dia begitu menghindariku.


“Kamu mau ini?” tanya Aurel padaku di meja makan, dia menawarkan ikan goreng saat aku ikut makan malam dengan keluarganya yang masih ada di rumah itu.


“Boleh” balasku dan dia mengambilkan sepotong ikan untukku.


“Ibu sayurnya lagi?”  Aurel menawarkan ibu mertuanya semangkok sayur, aku tidak tau nama sayurnya tapi aku suka rasanya.


Aku harus bicara dengan Aurel sebelum kepulanganku ke Qatar. Ini harus aku tuntaskan malam ini karena berkaitan dengan pekerjaanku. Kalau aku sekedar mendekatinya tentu dia akan terus menghindar. Aku harus minta izin terbuka agar Aurel mau tidak mau bisa berbicara denganku.


“Ibu, saya minta izin ingin bicara berdua dengan Aurel sebelum saya pulang kembali ke Qatar,” kuberanikan diri untuk minta izin pada ibu mertuanya. Sosok yang sangat dihormati oleh Aurel.


END RAJEV POV


***


Aurel melihat ke kamar kedua anaknya, dia sengaja mengulur waktu. Entah mengapa dia tidak bisa bersikap seperti dulu lagi pada Rajev, seperti ketika Radit masih hidup atau bahkan seperti ketika mereka menjalin ‘kasih’.


Saat masih ada Radit, Aurel malah bisa bertukar cerita dengan Rajev, dan Radit pun mengetahuinya. Lalu setelah Rajev dan Radit bertemu, Rajev lebih sering chat dengan Radit, tapi Aurel tidak sungkan seperti saat ini. Aurel merasa mulai sungkan bicara atau chat dengan Rajev sejak Radit meninggal.


Akhirnya Aurel terpaksa keluar kamar, dia kasihan bila Rajev harus sampai larut malam menunggunya. “Mbak bikinkan kopi satu dan teh tawar panas satu ya,” pinta Aurel pada mbak Yuni. Sudah cukup asupan karbo bagi Aurel hari ini. Maka dia hanya meminta teh tawar tanpa gula.


Lalu Aurel keluar kamar dan menemui Rajev yang sedang berbincang dengan ibu. Mirna dan suaminya sudah istirahat karena besok pagi mereka akan ke rumah kakek di  Cisarua dengan ibu dan Aira.


“Sudah tidur semua?” tanya ibu Tarida. Dia menanyakan cucu-cucunya yang barusan Aurel tengok di kamar.


“Sudah Bu, pakaian Aira juga sudah saya siapkan, besok Ibu tinggal bawa aja,” jawab Aurel. Memang besok Aira akan ikut dengan bu Tarida dan Mirna ke Cisarua.


“Kalau begitu Ibu istirahat ya,” beritahu ibu pada Aira.


“Dan kamu Rajev, selamat jalan ya besok pagi. Kabarkan Ibu bila kamu sudah sampai di Qatar,” pesan ibu Tarida dengan ramah. Dia memang selalu seperti itu. Penuh perhatian pada siapa pun.


“It's late at night, what do you want to talk about ( Ini sudah larut, kamu mau bicara apa )?” tanya Aurel to the poin, walau dia tadi mendengar Rajev sudah belajar bahasa Indonesia tapi Aurel yakin kemampuan Rajev masih terbatas, sehingga lebih enak berbahasa Inggris agar memperkecil kesalah pahaman.


“Kamu belum menjawab, mengapa kamu menghindariku? Apa aku membuat kesalahan padamu?” desak Rajev karena masih penasaran akan sikap Aurel yang berubah padanya.


“Kamu enggak bersalah dan saya tidak menghindarimu koq,” balas Aurel serba salah. Sejak Rajev bertanya, Aurel berupaya mencari jawaban mengapa dia berbuat begitu pada Rajev.


Akhirnya dia sadar, dia sengaja membangun benteng tinggi-tinggi karena statusnya saat ini adalah janda! Dia tidak ingin mendapat image buruk dengan gelar barunya itu.


\========================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta