
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
=============================================================================
“Ya, tapi kalau Mama ketiduran jangan marah ya,” balas Aurel yang memang sudah ngantuk. Padahal saat Radit belum sadar Aurel sulit tidur. Sekarang setelah Radit sadar dia sangat mengantuk. Mungkin karena bebannya sudah mulai berkurang.
“Selama ini Mama serius enggak pernah ninggalin Papap? Ini rumah sakit ibu kan?” tanya Radit. Dia ingin tahu apa yang terjadi selama dia tak sadarkan diri. Yang dimaksud rumah sakit ibu tentunya rumah sakit dimana bu Tarida bekerja.
“iya, ini rumah sakit ibu. Awalnya Papap dirawat di RS PMI Bogor yang dekat lokasi kecelakaan,” lalu Aurel menceritakan mulai saat ibu menerima telepon dari rumah sakit hingga pemindahan Radit ke rumah sakit ini. Aurel juga cerita pernah meninggalkan Radit satu kali ketika menghadiri pemakaman ayah.
“Lalu bagaimana Aira? Bagaimana dengan toko kue mu?” tanya Radit sambil terus mengusap-usap pipi istrinya. Radit tahu Aurel tidak pernah bisa jauh dari Aira putri kecil mereka.
“Aira kesini satu minggu sekali, ketemu Mama di lobby saat Bagas jaga Papap. Semua toko kue dua kali seminggu staff tiap cabang laporan kesini. Tentu bergantian biar enggak penuh ruangan ini.” lapor Aurel.
“Pegawai toko kue datang juga selalu bawa cemilan sehat untuk Dedek, jadi Mama tetap sehat walau enggak keluar ruangan Papap,” Aurel tak ingin Radit mengira dia kekurangan sesuatu selama menjaga Radit ketika suaminy tak sadarkan diri.
“Dan Reza sekretaris Papap tiap dua hari sekali laporan ke sini,” jelas Aurel. Dia menceritakan semua yang Radit ingin ketahui.
“Oh iya? Kantorku juga kamu yang handle?” Radit sungguh tidak percaya semua bisa di handle istrinya. Dari jarak jauh pula. Suatu prestasi yang luar biasa untuk seorang perempuan yang tak pernah tahu garis besar pekerjaannya.
“Kakek memintaku untuk jadi pengganti sementara. Kakek buat mandat tertulis resmi langsung didaftarkan pada notaris. Kakek juga yang ngajarin semuanya via telpon atau kalau kakek kesini buat nengok Papap,” papar Aurel.
Seharusnya Radit ingat, istrinya adalah mahasiswi cerdas yang bahkan kuliah pun dapat beasiswa. Sehingga tak sulit learning by doing mengenai job desk yang harus dia kerjakan.
“Maafin Papap ya, bikin bebanmu jadi sangat berat,” keluh Radit sedih.
“Udah ah, jangan sedih gitu. Enggak ada yang perlu dimaafin karena Papap enggak salah,” jawab Aurel sambil sedikit menaikan wajahnya agar bisa mencium kening suaminya.
“Adek enggak mau dengar lagi Abang minta maaf karena kejadian ini dan Adek enggak pengen liat Abang nangis lagi. Adek cinta ama Abang.” Aurel kembali menyatakan rasa cintanya pada Radit.
“Makasih love, kamu memang segalanya buatku. Kamu kejoraku,” bisik Radit dan dia kembali mencium puncak kepala istrinya. Tanpa sadar dia kembali terlelap. Rupanya obat yang diminumnya berpengaruh terhadap tubuhnya sehingga cepat mengundang rasa kantuknya.
***
Semalam ketika Aurel mengabarkan Radit sudah sadar mereka baru saja istirahat sehabis mengadakan pengajian empat puluh harinya Iskandar Sebayang ayah Radit. Sehingga kakek dan ibu sepakat berangkat ke rumah sakit sehabis mereka salat subuh.
Saat ibu dan kakek datang Radit sedang membaca Al Qur’an untuk calon bayinya, dia membaca lirih sambil memegang perut Aurel. Melihat itu ibu menangis, teringat ketika dia hamil Radit dulu, suaminya juga rajin membaca Al Qur’an untuk calon bayi mereka.
“Assalamu’alaykum,” sapa kakek Ikhlas saat dia memasuki ruang rawat Radit.
“Wa’alaykum salam,” jawab Aurel lalu dia bergegas turun dari tempat tidur dan menghampiri kakek mertuanya untuk memberi salim. Aurel mencium hormat tangan kakeknya Radit tersebut. Aurel juga menyalami ibu serta menerima bungkusan yang ibu bawa setiap harinya.
Di rumah sakit ini penjaga pasien VVIP setiap malam diberi pilihan menu yang di inginkan untuk mereka pesan. Misal menu sarapan hari ini ditawarkan roti selai, bubur kacang ijo atau nasi goreng. Penunggu pasien bisa memilih salah satu dari menu tersebut.
Jatah makan pasien tentu berbeda, sesuai menu diet dari ahli gizi rumah sakit. Makanan tambahan penunggu tidak berlaku untuk makan siang dan makan malam penunggu. Hanya untuk sarapan saja.
Ibu Tarida tiap hari membawakan Aurel makanan. Baik untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Dia tahu tentu bumil ingin makan terus, tapi sulit keluar. Menantunya ini sama sekali tak mau keluar ruang rawat anaknya. Dan bu Tarida tahu kalau urusan cemilan menantunya selalu dibawakan oleh pegawainya dari toko kue.
Hari ini ibu juga membawakan bubur sumsum untuk sarapan Radit dan Aurel.
Ibu Tarida menangis saat memeluk Radit. Mereka merasa sangat kehilangan sosok suami dan ayah kesayangan mereka berdua. Kakek dan Aurel sengaja menepi di sofa agar tak mengganggu dua insan yang sedang melepas beban kehilangan sosok yang mereka cintai.
Setelah puas bertangisan ibu mulai bertanya bagaimana kejadiannya hingga mobil Radit bisa terjungkal menabrak pembatas jalan.
Sebenarnya sejak semalam Aurel juga ingin bertanya hal itu. Namun dia takut bila pertanyaannya akan membuat Radit kembali terpuruk. Dia tidak akan sanggup menghadapinya bila itu terjadi semalam saat mereka hanya berdua.
FLASH BACK ON
“Dit, koq ada bunyi enggak enak ya ama mesin mobil kamu,” tegur ayah saat mereka baru saja masuk TOL Jagorawi.“Masa sih Yah?” tanya Radit karena dia tidak begitu memperhatikan bunyi yang dimaksud ayahnya.
“Ya sudah, kita menepi aja Dit, Ayah koq jadi enggak enak ya. Tadi di rumah kakek ada yang kutak kutik mobilmu enggak ya?” jawab ayah Radit, mengajak putraanya untuk menepi guna melihat kondisi mobil mereka.
“Siap, sekarang kita di kanan jadi harus ambil jalur kiri dulu ya Yah,” balas Radit. Dia mencoba ambil jalur kiri dan melihat kebelakang lewat spionnya.
“Yah, rem enggak berfungsi,” keluh Radit mulai panik.
“Kurangi kecepatan aja dan perlahan ambil kiri. Ayah yakin ada yang sabotase mobilmu. Besok kamu harus langsung cek kebengkel Dit,” perintah ayah masih mencoba tenang.
Saat jalan dikiri kosong Radit segera berupaya menepikan mobilnya. Namun ternyata arah stir pun terganggu sehingga sulit Radit arahkan ke kiri. Dengan sekuat tenaga Radit berupa mengarahkan kemudi ke arah kiri dan mencoba menabrakan pembatas jalan agar mobil bisa berhenti secara perlahan.
Ternyata benturan yang dialami lumayan keras dan mobil terguling keluar ke rerumputan di pinggir tol dan berhenti ketika menabrak pohon bintaro.