
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Semua urusan pembayaran buruh sudah selesai dilakukan Binsar. Dia juga menjual semua isi rumahnya dengan harga miring karena tidak mungkin dia bawa ke Jakarta. Saat ini dia bersiap dengan empat koper besar barang-barang dan bajunya yang akan dia bawa ke Jakarta.
Binsar memberi adik sepupunya uang upah sekaligus uang tanda terima kasih karena telah menjadi orang kepercayaannya selama ini.
Sejak tadi dia gelisah karena nomor ponsel istrinya tidak bisa dihubungi. Padahal semalam mereka masih ngobrol dan Binsar sudah mengabarkan Yulia kalau dia akan menetap di Jakarta. Dia juga bilang pada istrinya mereka akan mencari rumah yang agak besar karena dia ingin Yulia segera hamil anaknya.
Yulia tentu senang mendengar Binsar akan menetap di Jakarta. Mereka mengobrol hingga larut, sehingga Binsar berpikir mungkin istrinya masih tidur dan ponselnya lowbat sehingga perempuan itu tidak tau kalau ponselnya off.
Binsar baru tiba di bandara Jakarta. Dia sudah selesai mengambil empat kopernya yang sudah dia urus pembayaran over weightnya saat di bandara Medan. Sekarang dia menuju tempat menunggu taksi saat seseorang menepuk pundaknya.
“Pak Binsar silakan ikut kami. Anda ditangkap, ini surat tugas kami dan surat penangkapan anda,” kata seorang berpakaian preman yang tadi menepuk pundaknya.
Seorang berpakaian polisi mengurus empat koper milik Binsar dan meletakkan di mobil bak polisi sedang dua orang berpakaian preman berjalan mepet disisi Binsar lalu memasukkan pria itu kemobil polisi dengan kedua orang itu duduk mengapitnya.
Binsar tak percaya, dia akan mengalami hal ini. Saat dia sudah melepas semua miliknya di Medan. Dia malah tertangkap di Jakarta.
***
Bingung kenapa Aurel dan kakek bisa menjadi pembeli tanah kebun sawit Binsar? Kita FLASH BACK saat Wina keluar ruangan sesudah membuatkan teh madu permintaan kakek Ikhlas dikantor Aurel beberapa waktu lalu ya.
“Rel, Kakek curiga, dalang semua ini adalah amang borumu, yaitu Binsar. Kakek berencana menghabisinya sebelum menjebloskannya ke penjara,” kakek langsung to the poin pada pokok permasalahan.
“Apa yang akan Kakek lakukan?” tanya Aurel. Aurel bahkan lupa bertanya bagaimana bisa kakek mencurigai amang borunya? Dia langsung menanyakan apa tindakan yang akan diambil kakek. Memang pola pikir Aurel sangat beda dengan wanita kebanyakan.
Lalu kakek menjabarkan rencananya. “Kita buat dia terjepit dulu, biar Reza berangkat duluan. Nanti kamu datang saat tanda tangan notaris saja,” kakek menutup penjelasannya pada Aurel lalu memanggil Reza lewat ponselnya.
Memang nanti kebun itu akan dibeli atas nama Aurel maka tadi kakek bilang nanti Aurel datang pas didepan notaris saja. Mau beli atas nama Darrel, jagoan kecil belum bisa tanda tangan. Dan semua urusan hartanya masih dibawah firma hukum yang kakek tetapkan. Maka saat ini hanya nama Aurel yang akan kakek gunakan sebagai pemilik kebun itu.
Reza yang sudah ditelepon kakek segera menuju ruangan Aurel, setelah di persilakan masuk maka Reza pun mulai ikut duduk untuk membahas proyek rahasia mereka.
“Kapan kamu siap berangkat?” tanya kakek Ikhlas meminta kepastian.
“Setelah semua tekanan jarak jauh berhasil saya atur jendral,” jawab Reza, dia tidak sadar menyebut kakek dengan panggilan yang hanya orang tertentu yang tahu. Reza terlalu ceroboh. Dia tak ingat disana ada Aurel.
“Jendral?” tanya Aurel lirih. Aurel bertekad akan menanyakan rahasia kakek pada ibu.
“Kira-kira berapa hari?” tanya kakek, dia pun tidak sadar kalau Reza telah salah sebut. Konsentrasi kakek sedang pada buruannya. Mantan menantunya sendiri.
“Panen raya sawit baru akan dimulai minggu depan, maka saat ini adalah saat yang tepat menutup pintu semua pengepul disana, agar tidak menerima hasil panen milik Binsar,” jelas Reza.
“Namun tentu kita harus membayar kompensasi kerugian para pengepul karena tidak mendapat barang. Dan yang terpenting kita harus melegalkan CV, untuk menerima muntahan panen kebun Binsar,” jelas Reza secara detil.
“CV baru yang sudah aku masukkan datanya, belum diproses kah?” tanya kakek lagi.
“Sudah Pak, CV DS ( Darrel Setya ) sesuai yang Bapak minta,” balas Reza. Lelaki ini memang paling sigap bila bekerja.
“Karena memang nanti semua adalah miliknya,” jawab kakek santai. Dia mempersiapkan Darrel sebagai pewaris tunggal usahanya.
“Lalu kapan kamu berangkat Za?” tanya kakek pada orang kepercayaannya.
“Sepuluh sampai lima belas hari lagi Pak. Setelah semua hasil panen kita beli. Juga kita ijon semua buah muda dalam kebun agar dia tak bisa bergerak. Sehabis itu disana saya akan membuat dia sangat kekurangan uang sehingga terpaksa menjual seluruh kebunnya dengan harga sangat murah,” jelas Reza menjelaskan rencana selanjutnya.
Itu kilas balik atau flash back mengapa Aurel bisa siap di kantor notaris untuk tanda tangan surat jual beli tanah kebun sawit yang awalnya memang milik kakek Ikhlas Sebayang lalu dia wariskan pada anak sulungnya almarhumah Sairoh, istri pertama Binsar.
***
Sudah seminggu Aurel kembali dari kota Medan. Selama di kota Medan, Aurel dibawa kakek untuk berkenalan dengan saudara kakek disana. Artinya Aurel diperkenalkan pada keluarga besar Sebayang.
Aurel juga sempat berkenalan saudara ibu Tarida serta opungnya Radit yaitu orang tua bu Tarida. Bu Tarida adalah keluarga Sulaiman. Selain itu Aurel juga diajak kebeberapa daerah wisata oleh para sepupu Radit, karena tidak mungkin kakek menemaninya. Kakek sudah terlalu tua bila harus menemani Aurel jalan-jalan.
“Ah Ibu jadi kangen rumah Ibu di Medan,” keluh bu Tarida saat melihat photo-photo Aurel selama di tanah leluhur ibu dan ayah mertuanya.
“Ayo Bu. Kapan-kapan kita atur waktu berlibur kesana bawa anak-anak agar mereka tahu tanah leluhur Papapnya,” jawab Aurel antusias.
‘Kamu memang sangat baik sayang, kamu selalu memikirkan orang lain diatas kepentinganmu sendiri.’
Tak habis-habis Tarida bersyukur melihat perilaku menantunya itu. Walau kehilangan anak, dia masih bisa bersyukur ada Aurel yang mengisi kekosongan posisi anak di hatinya. Walau tidak mungkin 100% tergantikan, tapi setidaknya ruang itu tak kosong.
“Ibu akan ambil cuti pas Aira libur ya, jadi kita bisa pulang ke Medan,” bu Tarida membalas rencana Aurel dengan juga tak kalah antusias.
Saat sedang bercerita seru tentang Medan, ada notifikasi chat di ponsel Aurel. ‘Bagaimana urusanmu di Medan? Sehat selalu ya,’ chat Rajev saat ini.
Aurel tahu saat ini Rajev baru bangun untuk salat subuh di Qatar. Aurel hanya membacanya dan seperti biasa dia tidak membalas chat tersebut.
Aurel makin penasaran, siapa informan Rajev sebenarnya? Ah dia lupa soal “jendral” yang ingin dia ketahui, walau di Medan dia sedikit mendapat info siapa kakek Ikhlas sesungguhnya.
\==========================================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE, MAMPIR KE JUDUL CERITA MILIK YANKTIE YANG LAIN YA. JUDULNYA WANT TO MARRY YOU
\====================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta