
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku akan tanya Fidhya bila dia sudah bisa aku ajak bicara Pa,” janji Jayoti. Perempuan ini yakin Fidya sedang sangat marah dengan kelakuan keponakan kandungnya yang telah berselingkuh dengan suaminya itu, sehingga kemungkinan sulit diajak bicara.
***
Pagi ini Rajev berangkat ke Qatar, dia merasa ada yang hilang dari hidupnya. Dia sudah kehilangan cahaya dihatinya. Dia sudah kehilangan semangat hidupnya.
Dan pagi ini Aurel yang mengantar Aira sekolah. Aurel sengaja mendatangi guru kelas Aira dan mengatakan sejak hari Senin depan Aira akan izin satu minggu, karena akan dia bawa liburan. Kemarin Aurel sudah membuatkan Aira dan Darrel passport yang akan selesai besok. Aurel belum tahu akan membawa kedua anaknya kemana, tapi setidaknya dia sudah prepare, bila ia ingin keluar negeri anak-anaknya sudah mempunyai passport.
Hari ke empat Rajev berada di Qatar, besok dia akan kembali ke Jakarta, dia sudah sangat merindu Aurel dan kedua anaknya.
Saat ini di Jakarta Aurel sedang berada di rumah sakit tempat ibu bekerja. Dia menunggu pasien ibu Tarida habis baru dia masuk.
“Assalamu’alaykum Bu” sapa Aurel ketika memasuki ruang kerja ibunya.
“Wa’alaykum salam Rel. Tumben kamu kesini” jawab ibu sambil melepas snellinya serta menggantung di dinding.
“Mampir aja Bu, habis dari toko kue milik Ibu lalu akan ke toko yang lainnya,” jawab Aurel sambil meletakkan satu kotak kecil kue kesukaan ibunya.
“Kamu masih sempat aja pegang empat toko kue padahal di perusahaan sudah sibuk. Belum lagi harus urus anak-anak,” bu Tarida menyatakan kekaguman pada sosok menantunya yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu.
“Ya karena itu Aurel mau bilang, besok Aurel mau liburan bawa anak-anak bu,” Aurel membuka pembicaraan tentang liburannya.
“Kamu mau kemana? Ama siapa dan berapa lama?” tanya bu Tarida kaget atas rencana dadakan yang putrinya kemukakan itu.
“Aku belum tau mau kemana dan berapa lama, yang pasti aku cuma mau pergi bertiga dengan anak-anak aja Bu. Enggak bawa mbak Nah dan mbak Yuni,” jawab Aurel dengan mantab tanpa keraguan.
“Kalian enggak mau tinggalin Ibu kan?” cecar bu Tarida curiga.
“Ha ha haaaaaa … Opung ni curigaan,” kekeh Aurel. Dia memang hanya ingin menyepi sementara saja. Bukan mau kabur.
“Enggaklah Bu, Aurel hanya ingin menepi bertiga aja,” jawab Aurel.
“Aurel jalan lagi ya Bu, mau keliling ke tiga toko lainnya,” Aurel pun mencium ibu mertuanya lalu keluar dari ruangan itu.
Sepanjang jalan Aurel berpikir, dia akan kemana ya dengan anak-anak? Bali, Bandung? Jogja? Ausie? Singapore atau Thailand?
“Assalamu’alaykum Bu,” sapa Aurel lembut.
“Wa’alaykum salam, dengan siapa ya?” tanya ibu yang dihubungi Aurel.
“Ini Aurel bu, lima tahun lalu pernah kost disini,” Aurel mencoba mengingatkan ibu kostnya mengenai jati dirinya.
“Astaga Aurel yang dari Jakarta? Apa khabar Nak?” sapa ibu kost ramah.
“Baik bu. Aurel mau tanya apa ibu punya referensi kamar kost yang untuk keluarga? Satu kamar enggak apa-apa tapi ada ruang tamu dan dapur,” tanya Aurel.
“Wah kamar depan sekarang seperti itu semua Nak, satu kamar besar dengan kamar mandi dalam. Ada ruang tamu dan ruang keluarga serta dapur kecil. Biasa untuk pasangan suami istri,” jelas si ibu kost mengenai kondisi kost-kosan yang saat ini dimilikinya. Berbeda dengan kondisi saat lima tahun lalu Aurel kost disana.
“Ada yang kosong Bu? Yang pakai peralatan dapur? Besok Aurel mau ke Jogja bawa anak-anak. Kami satu minggu lah disana. Enggak apa-apa kalau harus bayar sewa untuk satu bulan,” pinta Aurel penuh harap.
“Saat ini masih ada dua kamar seperti itu yang kosong Nak. Akan Ibu siapkan untukmu besok. Soal sewa enggak usah seperti itu dengan ibu,” jawab perempuan Sunda yang sejak menikah lalu menetap di Jogja.
Setelah mendapat kepastian mendapat kamar yang dikehendakinya Aurel langsung memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok pagi bersama kedua buah hatinya.
Aurel bertekad tak terlalu banyak membawa baju ganti karena di rumah kost tersedia laundry. Tidak seperti ketika dia menetap disana lima tahun lalu.
***
Rajev membuka pintu apartemennya dan memasukkan kopernya. Dia segera mandi agar lebih segar, lalu dia membuka kopernya untuk mengambil oleh-oleh yang dia belikan untuk ayah, Bagas, ibu serta Aurel dan kedua anaknya.
Dijalankannya mobilnya menuju rumah bu Tarida. Biasanya sore begini kedatangannya akan disambut pekik kedua anaknya. Dilihatnya mobil Aurel sudah ada di rumah, mengapa kedua buah hatinya tak menyambutnya? Apa mereka ada dihalaman belakang?
“Assalamu’alaykum,” sapa Rajev sopan. Dia tak sabar bertemu dengan kedua buah hatinya.
“Wa’alaykum salam,” jawab mbak Yuni yang sedang menyapu ruang keluarga.
“Anak-anak kemana Mbak?” tanya Rajev penasaran.
“Kakak dan dede tadi pagi di bawa Ibu liburan,” jawab mbak Yuni. Yang dia maksud ibu adalah Aurel. Karena bila menyebut bu Tarida dia akan sebutkan opung.
“Liburan kemana dan sama siapa?” tanya Rajev lagi. Sungguh dia tak percaya Aurel bertindak penuh perhitungan seperti ini.
“Ibu enggak bilang mau kemana, bahkan opung juga enggak dikasih tau tujuan liburannya. Ibu juga enggak kasih tau berapa lama. Tapi pak Ujang sempat tanya ke sopir taxi, kalau ibu pesan buat tujuan ke bandara,” jelas mbak Yuni.
Memang tadi saat berangkat Aurel bahkan tak mau diantar oleh sopir di rumahnya. Dia sudah memesan taksi dengan ponselnya.
Rajev duduk dengan lemas, semarah itukah kamu love? Apa tak ada celah untukku minta maaf? Rajev benar-benar terpuruk. Andai tak malu mau rasanya dia menangis saat itu. Dia teringat semua ini diawali karena ulah Aashita, dia makin dendam pada perempuan itu.
Rajev ingat ketika dia baru sampai di Qatar, Gulika menyampaikan Fidhya ingin bertemu dengannya, tapi dengan tegas Rajev menyampaikan tak ingin bertemu dengan perempuan kalau hanya berdua, karena dia takut ada orang melihat lalu salah lagi di mata Aurel.
Rajev benar-benar tak ingin ada masalah baru. Dia tak ingin orang melihatnya duduk dengan perempuan lalu membuat foto dan melaporkannya pada Aurel. Persoalan yang diakibatkan Aashita saat ini saja berujung kehancuran hidupnya.
“Aku sudah ada di Jakarta, kalau mau bertemu denganku bisa, tapi harus dengan orang laki-laki. Aku tak ingin ada salah paham lagi,” Rajev bicara di telepon dalam bahasa Malayalam dengan tegas.
“Ok, aku akan kesana malam ini jam delapan sesuai dengan permintaannya,” jawab Rajev lagi.
\=========================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta