BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
ADEK YANG BIKIN ABANG PUNYA PIKIRAN JELEK



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\===============================================================================


“Abang cinta mati kekamu, enggak pengen kamu sakit, lebih-lebih kamu kemaren seharian nangis sampai mata bengkak. Masih ditambah kamu merasa bersalah Aira sakit karena kamu enggak urus dia kemaren sore.” Radit lanjur menerangkan alasan tindakannya semalam.


“Jangan begitu lagi ya. Abang enggak pernah sampe hopeless seperti melihat kelakuanmu kemaren. Tadi sepulang dari rumah ayahmu Abang langsung telepon ibu, tanya kamu sudah ada belum di rumah sakit. Kalau ibu jawab kamu belum datang, Abang serius pengen tabrakin aja mobil Abang. Percuma Abang hidup tapi kamu enggak mau ketemu Abang,” cerita Radit tentang keputus asaannya saat Aurel menjauh darinya.


“Ih, jangan pernah mikir gitu lagi, Adek enggak suka,” kesal Aurel saat mendengar niat buruk suaminya.


“Adek yang bikin Abang punya pikiran jelek,” jawab Radit sambil kembali memeluk istrinya.


“Bang, tadi ayah kasih tau, golongan darahmu enggak sama ama Aira. Apa itu enggak akan jadi kendala saat kita mau adopsi Aira?” tanya Aurel penuh ketakutan.


“Ya enggalah, ‘kan orang tua adopsi pada umumnya memang enggak punya kekerabatan dengan anak yang akan di adopsinya, jadi enggak perlu takut soal itu,” hibur Radit.


“Tadi Adek minta ke ibu, agar Abang dan Aira test DNA,” Aurel memberitahu permintaannya pada ibu mertuanya.


Flash back on


“Ini darahnya” pak Iskandar menyerahkan kantong darah yang dibalut dengan pembungkus khusus pada istrinya “Kurangnya gimana ya Bu?”“Barusan Ibu minta anak-anak di poli untuk mencarikan segera, sudah dapat enam orang pendonor. Sekarang mereka sedang melakukan pemeriksaan, nanti sisa darah malah akan berguna bagi yang membutuhkannya,” jawab bu Tarida sambil menunggu telepon yang dia hubungi tersambung.


“Kamu ke ruang rawat ya, ini darah sudah ada dan langsung pasang pada Aira,” perintahnya pada orang yang menerima telepon darinya.


“Kenapa enggak minta Abang Bu?” tanya Aurel heran.


“Darah Abang dan Aira enggak sama!” jawab bu Tarida pelan. Aurel hendak bertanya lagi namun keburu petugas yang di hubungi bu Tarida datang.


Sesudah petugas itu pergi Aurel kembali bertanya karena dia penasaran “Koq bisa darah abang enggak sama dengan Aira?”


“Karena Aira memang bukan anak kandung Radit!” jawab pak Iskandar. “Abang pernah tanya ke Ayah saat dia Ayah beritahu fakta-fakta kejadian pembuatan photo-photo yang di gunakan Yulia untuk menjebaknya. Abang bilang kalau dia saat itu sedang tidur, bagaimana dia bisa meletakan benih di rahim Yulia?”


“Ibu juga pernah tanya ke Ayah, selama ini Radit enggak pernah nginep dim anapun. Koq bisa ada photo-photo itu, ternyata photo dibuat siang di kantor Radit,” lanjut pak Iskandar.


“Apa Aurel bisa meminta hal khusus ke Ibu?” tanya Aurel. Dia pikir apa yang akan di mintanya akan dibutuhkan suatu saat. Entah kapan. Tapi feelingnya mengatakan seperti itu.


“Kamu mau minta apa?” tanya bu Tarida lembut. Dia yakin menantunya tak akan penah minta yang memberatkan dirinya.


“Bisa enggak besok saat Aira ambil darah buat cek rutin, sekalian test DNA dengan abang. Aurel enggak tau kenapa, tapi Aurel punya feeling suatu saat bukti itu Aurel butuhkan,”  kata Aurek dengan pasti.


Bu Tarida mendekati brankar, dan melihat jalannya tetesan darah, saat itulah Radit masuk sehingga Radit mengira saat itu transfusi baru saja di pasang oleh ibunya sendiri.


Flash back off


“Mau ‘kan test DNA?” tanya Aurel manja pada suaminya.“Enggak perlu kamu merajuk seperti itu, pasti Abang mau koq,” jawab Radit sambil langsung berlari ke arah brankar karena di lihatnya Aira terbangun.


“Sssttttt … jangan nangis, ada Papap disini,” katanya sambil mengusap-usap lengan anaknya. Namun Aira terus merengek dan meminta di gendong Aurel.


“Anak Mama pintar enggak nangis dong,” hibur Aurel sambil mengangkat anaknya untuk di pangkunya, dia duduk di brankar agar infusan dan selang transfusi tak terganggu.


“Digendong Mama, tapi Aira maem sedikit ya?” bujuk Aurel pada putri kecilnya yang terlihat sangat lemah.


“Pap, tolong bubur Aira dekatkan kesini, dia belum mau makan sejak pagi tadi.” Aurel meminta kerja sama Radit demi anak mereka.


“Ayo kita maem dulu biar cepat sembuh,” bujuk Aurel, dia menyodorkan setengah sendok kecil bubur ke depan mulut Aira yang menggelengkan kepala.


“Lihat pesawatnya terbang, nguiiiing … nguiiing.” Aurel menerbangkan sendok kecilnya bolak balik,


“Ayo pesawat masuk hangar dulu aaaaaaaaaaaaa ….” perintahnya agar Aira membuka mulutnya.


Tanpa sadar Aira pun membuka mulutnya, suapan pertama sukses.


Radit mengambilkan mainan Aira yang tadi di bawa ayahnya dari rumah, di berikan satu boneka bebek dari karet yang bisa berbunyi. “Wek … wek … wek … wek..,” goda Radit, Aurel memang tidak langsung menyuapi lagi, sengaja di beri jeda agar Aira tidak merasa harus makan.


“Wah bebeknya minta maem ya, nanti ya bebek, ini untuk Aira dulu maemnya,”  bujuk Aurel sambil kembali menyorongkan sendok ke mulut Aira.


Tidak kerasa kerja sama papap dan mama berhasil membuat Aira makan setengah mangkok bubur yang disediakan pihak rumah sakit.


“Pintar ya anak Mama dan Papap, udah maem banyaaaak,” puji Aurel saat Aira sudah menolak makan lagi dengan menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.


“Hahahahaaa, enggak perlu di tutup gitu mulutmu,” Radit tertawa, dan mengelap tangan mungil anaknya dengan tissue basah karena tangan itu kena sisa bubur. Dia juga mengelap mulut putrinya agar tidak bau amis.


“Tolong ambilkan wash lap dan air hangat aja Pap, biar di basuh sekalian badannya dan ganti baju aja, kan dari pagi dia belum dibasuh,” pinta Aurel sambil membuka baju putri kecilnya.


Saat Aurel membasuh badan putri mereka, Radit menyiapkan baju ganti serta minyak telon dan bedak Aira. Mereka berbagi tugas tanpa perlu diminta.


“Wah Aira sedang basuh ya, kalau sudah sini ikut Opung ya, biar Papap dan Mama makan dulu.” bu Tarida yang baru masuk ruangan langsung hendak mengambil alih Aira, dia melihat anak dan menantunya sudah akur lagi.


Sebenarnya mereka sejak tadi sudah kembali, saat Aurel sedang cerita soal test DNA. Namun mereka urung masuk karena tidak ingin mengganggu kebersamaan anak dan menantunya. Bu Tarida mengajak suaminya duduk santai di teras ruang rawat inap tersebut.


“Abang beli makan aja ya, Adek tunggu sini aja,” pinta Aurel pada suaminya.


“Enggak ah, kita makan berdua aja. Di kantin depan aja enggak jauh koq,” kata Radit, dia tahu istrinya tidak enak bila meninggalkan Aira terlalu lama, Radit tahu pasti Aurel merasa merepotkan mertuanya bila kelamaan keluar.