
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku kuat koq, belum terlalu larut juga,” Rajev mematikan daya laptopnya dan disimpan di lemari ruang rawat. Dia mengambil baju-baju kotornya dan dimasukkan ke dalam ranselnya.
“Jaga dia untukku ya, aku akan mengabari bila sudah sampai di apartemen,” Rajev bergegas keluar ruangan.
“Kakak sudah sampai”, Bagas membaca chat dari Rajev, dua puluh menit setelah calon kakak iparnya itu meninggalkan rumah sakit.
“Jangan ngebut Kak, dan santai aja beres-beresnya, malah bahaya kalau Kakak ngebut,” Bagas mengingatkan Rajev agar santai saja.
Rajev mengambil baju santai empat pasang dan satu pasang pakaian kantor sebagai prepare bila harus berangkat ke kantornya. Rajev juga mengambil file pekerjaan yang kemarin lupa dia bawa ke rumah sakit. Besok staffnya biar antar berkas dari kantor dan dia menyerahkan berkas dari rumahnya.
Rajev menaruh baju kotor di tempat yang tersedia di ruang belakang. Rajev mempekerjakan seorang tenaga bersih-bersih yang datang dua kali dalam satu minggu untuk mencuci setrika juga menyapu dan mengepel apartemennya. Setelah semua beres lalu dia kembali ke rumah sakit. Sehingga dia tak pusing dengan urusan baju bersih dan kebersihan apartemennya.
Bagas baru akan memejamkan matanya saat Rajev masuk ke ruangan pelan-pelan. “Aman Gas?” tanya Rajev berbisik.
“Aman Kak,” balas Bagas, sekarang dia tenang karena bila mbaknya bangun Rajev sudah ada di sini.
Rajev meletakkan semua barang yang baru saja dia ambil di lemari. Dia mencuci tangan dan wajahnya lalu bergegas ingin tidur, tapi dilihatnya cairan infus ibu sudah hampir habis. Dia menekan bel untuk memanggil perawat jaga.
“Iya Pak?” tanya perawat saat masuk ke ruangan rawat dokter Tarida.
“Ini Sus, cairan infusnya hampir habis,” jawab Rajev terbata dengan bahasa Indonesia
“Baik, saya akan tambahkan Pak,” perawat itu segera keluar ruangan untuk mengambil cairan infus yang baru. Dia masuk kembali sambil membawa alat tensi serta pengukur suhu juga kartu pasien atas nama bu Tarida.
Setelah perawat keluar dan menutup pintu, Rajev mematikan lampu ruangan, hanya menyisakan satu lampu yang dekat kamar mandi saja. Dia pun naik ke bed dimana Aurel tidur.
Rajev tak ingin Aurel mencarinya ketika terbangun nanti. Dengan perlahan Rajev berbaring disisi Aurel, dia sengaja tidak menggunakan selimut, cukup memeluk Aurel dia tidur dalam kehangatan.
***
Hari ke empat sejak bu Tarida pingsan di ruang prakteknya. Sejak kemarin Aurel sudah mulai menjaga sendirian, karena Bagas sibuk kuliah dan Rajev diancamnya untuk berangkat kerja serta mengantar Aira sekolah.
Rajev boleh datang ke rumah sakit setelah sepulang kantor dia menemani anak-anak bermain dan mengawasi Aira hingga perempuan kecil itu selesai membuat pekerjaan rumah.
Aurel tak ingin anak-anak kehilangan opung, mama dan uppanya dalam waktu bersamaan. Itu sebabnya Rajev harus selalu bersama mereka pagi dan sore hari.
Tiap pagi dan malam Aurel juga menyempatkan ngobrol dengan anak-anaknya melalui sambungan telepon agar mereka tidak merasa kehilangan.
Saat Aurel sedang terkantuk membaca berkas pekerjaannya dia melihat jemari bu Tarida bergerak sangat pelan. Namun dia yakin jemari itu bergerak.
“Ibu,” panggilnya lembut. Lalu dia segera memencet bell memanggil petugas medis yang berjaga.
“Ada yang bisa saya bantu Bu?” sapa perawat yang bergegas masuk ruangan itu.
“Saya melihat jemari ibu bergerak Suster,” Aurel memberitahu apa yang dilihatnya pada perawat yang masuk ke ruangan itu.
Suster tersebut segera menekan bell kembali sambil dia menelepon dokter yang yang menangani bu Tarida.
Aurel mengirim pesan pada Vino, Mirna, Bagas, ayah Wicak dan tentu Rajev tentang perkembangan bu Tarida.
'Alhamdulillah, semoga makin baik perkembangannya ya say, aku belum bisa ke sana. Kamu jaga kesehatan ya,' balas Mirna pada Aurel. Mirna sangat bersyukur mempunyai sepupu ipar seperti Aurel. Yang tetap mencintai dan berbakti pada mertuanya walau suaminya sudah meninggal.
'Aku akan datang sepulang kerja,' balas Vino. Bagi Vino sosok bu Tarida bukan hanya sekedar tetangga, tapi sudah seperti ibu kedua baginya.
'Alhamdulillah. Apa aku boleh ke sana sekarang?' pinta Rajev.
Dan Bagas belum menjawab karena belum membaca pesan dari Aurel
“Semoga semakin baik ya Bu. Ini saya monitor, semua mulai meningkat. Semoga sebentar lagi dokter Tarida terbangun. Masa kritisnya sudah berlalu,” demikian keterangan dokter syaraf yang baru saja memeriksa bu Tarida.
Rajev masuk ruang rawat bu Tarida bersamaan dengan dokter jantung yang akan memeriksa pasiennya. Disimpannya tas kerjanya, lalu dia menemani Aurel menunggu dokter selesai memeriksa.
“Assalamu’alaykum Bu,” sapa dokter jantung, karena saat itu dilihatnya bu Tarida mengerjapkan matanya.
“Ibu,” suara lirih Aurel tercekat ditenggorokannya melihat ibu mulai membuka matanya. Aurel menutup mulutnya agar tidak berteriak karena bahagia. Dia memeluk Rajev untuk menyembunyikan tangisnya didada Rajev.
Rajev memeluk Aurel erat sambil mengecupi puncak kepala Aurel. Dia tahu perempuan itu sedang melepaskan beban yang menghimpit pundaknya. “Jangan perlihatkan air matamu walau itu air mata bahagia. Tersenyumlah agar ibu juga merasa bahagia,” bisik Rajev pada Aurel yang dijawab anggukan.
***
Aurel sedang menyuapi ibu bubur yang didapat dari rumah sakit sebagai menu makan malam. Ibu masih sulit bicara, dan suaranya pun sangat lirih hampir tak terdengar. Tangannya masih belum bisa banyak bergerak sehingga memang butuh seseorang untuk membantunya. Malam ini ibu makan cukup banyak, setengah porsi yang diberikan rumah sakit berhasil ditelannya. Aurel segera membantu ibu untuk minum obat.
“Ganti,” ibu meminta agar diapersnya diganti karena sudah penuh.
“Kak, jangan dibuka ya, ibu mau ganti diapers,” Aurel memperingatkan Rajev agar tidak membuka tirai. Dia dengan telaten membuka diapers lama, memasukkannya dalam kresek. Lalu Aurel mengambil tissue basah, di lap dulu badan ibu dengan tissue basah baru dipakaikan kembali diapers pengganti.
Aurel membuka tirai kembali agar ibu bisa leluasa melihat seluruh ruangan. Ibu memandangi Rajev lalu menitikan air mata.
***
Tak terasa dua minggu sudah bu Tarida berbaring di rumah sakit. Sejauh ini perkembangan sudah sangat baik, beliau sudah bisa bicara dan bergerak walau terbatas. Bagian kiri anggota tubuhnya memang ada sedikit gangguan sehingga tidak dapat normal seperti dulu, tapi selintas semua normal. Aurel masih setia 24 jam standby di rumah sakit, seperti saat Radit sakit.
Bila Aurel ingin bertemu dengan anak-anak maka Bagas atau bik Siti dan bik Eneng yang menemani ibu di ruang rawat. Aurel akan keluar. Kadang dengan Rajev bila anak-anak datang di week end. Rajev menemani Aurel setiap pulang kerja hingga pagi hari.
\==============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta