BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AWAL KEHIDUPAN KELAM DIDU!



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


Tak berapa lama Aurel mendengar notifikasi chat BBMnya, dibacanya pesan Rajev ‘Mengapa kau tak cerita kalau Aira diculik? Aku bersyukur dia sudah kembali dengan selamat.’


Aurel seperti biasa tidak menjawab pesan Rajev. Dan seperti biasa pula Aurel bertanya-tanya, siapa informan Rajev? Mengapa sekarang Rajev bertindak seperti suami bayangan? Semua hal lelaki itu harus tahu?


***


Tiga hari dari kasus penculikan Aira, Aurel akan berangkat kerja ketika Reza menghubunginya melalui telepon genggamnya. Dia masuk kemobilnya dan menerima telepon dari Reza.


“Assalamu’alaykum mas Reza, saya baru mau berangkat,” Aurel mengangkat sambungan telepon dari Reza. Dia takut Reza menunggunya di kantor.


“Wa’alaykum salam Bu, ini saya menuju rumah Ibu. Kita ditunggu di polsek Cinangka Bu, karena pak Didu sudah tertangkap,” jawab Reza cepat. Dia tak ingin mereka berselisih jalan.


“Siapa yang menemani kita?” Aurel tetap tidak akan pergi bila hanya berdua dengan Reza saja. Masih ada Radit saja dia tak mau orang menduga salah. Terlebih saat ini dia berpredikat janda. Tentu rumors buruk akan cepat tersebar.


“Mbak Murti bu,” jawab Reza. Reza sudah hafal, bu Aurel tidak mau pergi hanya berdua dengan lelaki mana pun.


“Baik saya tunggu kalian di rumah,” jawab Aurel. Dia lalu keluar mobil dan kembali masuk ke rumah. Dia langsung menghubungi seseorang.


Di kantor polisi Aurel hanya bisa terperangah karena dia tahu latar belakang pak Didu berobah adalah sejak pak Didu menikah siri dengan gadis yang ditemuinya di warung saat makan siang dekat proyeknya.


FLASH BACK ON


Saat itu gadis yang bernama Latifah, sedang makan siang dengan temannya ketika pak Didu datang ke warung, tanpa sengaja perempuan itu menumpahkan tehnya pada celana pak Didu. Akhirnya mereka berkenalan.


Sorenya saat akan minum kopi di warung, Didu bertemu lagi dengan perempuan itu, sekarang perempuan itu sendirian, karena temannya tidak datang. Padahal perempuan itu bilang dia bukan orang daerah situ, dia datang kesitu karena janjian dengan temannya yang akan mencarikan tempat kost.


”Sore Om, ketemu lagi nih,” sapa Latifah pada Didu yang baru saja masuk warung kopi langganannya.


“Lho kamu masih disini?” tanya Didu ramah.


“Saya baru datang koq Om, janjian dengan kak Lily, dia mau bantu cari kost-kosan daerah sini,” jawab Latifah. Lily adalah panggilan Ifa ( Latifah ) untuk Yulia.


Akhirnya mereka ngobrol basa basi sambil menunggu teman Ifa, panggilan akrab Latifah. “Wah gimana ini, ponsel kak Lily dari tadi enggak bisa dihubungi,” keluh Ifa.


Hari sudah gelap. Dia tak tau harus menginap dimana karena daerah sana tidak ada penginapan atau hotel.


Didu yang memang sangat baik pada siapa pun jadi kasihan terhadap seorang wanita lugu yang terdampar disana sendirian. Sedang gadis itu datang jauh dari Cirebon.


“Kalau mau kamu malam ini tidur di rumahku aja, besok pagi-pagi kamu saya bantu carikan kost-kostan,” saran Didu tanpa pikir panjang. Niatnya hanya tulus membantu.


Akhirnya mereka sampai di kontrakan Didu. Kontrakannya hanya rumah kecil satu kamar, karena Didu memang hanya butuh tempat untuk tidur dekat proyeknya. Dia selalu mencari kontrakan sederhana agar banyak uang yang bisa dia berikan untuk istri dan 2 anak mereka di desa.


“Saya bikinkan teh dulu ya, nanti saya ambil pakaian ganti saya serta bantal dikamar. Biar saya malam ini tidur di luar kamu bisa tidur di kamar saya,” Didu mempersilakan Ifa masuk rumahnya.


Didu meletakkan dua gelas teh lalu masuk kamarnya mengambil sarung, sajadah serta baju untuk dia ganti saat ini dan baju kerja besok serta bantal dan selimut, lalu semua itu dia bawa keluar. Didu bergegas mandi karena kamar mandi hanya satu di dekat dapur.


Didu menyalakan TV kecil di ruang tamu rumahnya lalu dia menyesap teh hangat buatannya. Didu mulai merasakan badannya sedikit panas, padahal dia baru saja mandi. Dia berupaya focus pada tayangan televisi tapi rasa panas sangat menyiksanya.


Pada saat itu dia melihat Ifa keluar dari kamar mandi mengenakan handuk menutup rambut basahnya. Leher jenjangnya terlihat sangat menggodanya. Didu berupaya menepis rasa ingin mencumbu Ifa, dia palingkan wajahnya kembali pada layar TV. Ifa duduk di kursi panjang di depannya sambil meminum tehnya tanpa rasa bersalah.


“Fa” desis Didu pelan. Dia semakin tak mengerti mengapa tubuhnya seperti ini.


“Kenapa Om?” tanya Ifa dengan senyum manisnya.


Didu berpindah kursi, tanpa ragu dia memeluk Ifa. Dan mendekatkan bibirnya pada bibir Ifa yang tersenyum sangat manis. Gadis itu tak menolak ketika lelaki yang baru dia kenal tadi pagi memagut bibirnya.


“Fa … ” Didu tak bosan ******* bibir Ifa yang membalas lumatannya dengan mahir. Tangan Ifa mengelus jagoan Didu yang mengeras.


Diberi perlakuan seperti itu Didu makin lupa segalanya.


“Ahhhhh Fa ….” Didu merasakan jemari Ifa meremas jagoannya dari luar sarungnya. Didu membuat banyak kiss mark di leher putih Ifa yang tak menolak serangannya.


“Om ...” Ifa melenguh saat mulut Didu bermain dipuncak dadanya, lidah Didu yang menikmati es cream didadanya membuat Ifa menggelinjang dan memegang erat kepala Didu agar mengulum puncak gunungnya, jangan dijilati.


“Berhenti ya Om, jangan diteruskan. Cukup,” tolak Ifa saat nafsu Didu sudah diujung tanduk. Mulutnya bicara meminta berhenti, tapi tubuh dan tangannya sendiri tidak menyiratkan itu. Bahkan tangan Ifa sudah masuk kedalam celana Didu.


“Enggak bisa Fa, aku belum pelepasan,” balas Didu. Dia memegang bagian bawah Ifa yang masih berbalut celana tapi sudah terasa basah. Didu merasakan hangat dibagian vital Ifa.


“Tapi aku takut Om, aku belum pernah,” balas Ifa, walau dia pun ingin merasakan lebih.


Didu tetap menyerang bibir Ifa, sambil tangannya masuk ke dalam celana Ifa. Akhirnya Didu menurunkan celana Ifa, lalu dia berjongkok di depan Ifa yang duduk di sofa, dengan mahir lidahnya bermain disana.


“Om … ommmmmmmmmmm … ,” lenguh Ifa pasrah. Dia sudah tak bisa untuk minta berhenti.


“Iya sayang, Om disini,” balas Didu sambil dia membuka ****** ******** dan ikatan sarungnya langsung di tarik.


Karena kesulitan berperang di kursi maka Didu menggendong Ifa kekamarnya.  Di terobosnya pertahanan Ifa yang sudah sangat basah dengan pelan-pelan.


Saat itu Ifa kehilangan virginitasnya dan Didu kehilangan kesetiaan pada istri dan anak-anaknya tercinta. Itu awal kehidupan kelam Didu!


“Om sakitttttttttt,” rengek Ifa namun tetap menikmati permainan Didu. Ifa memang masih virgin walau bukan tidak pernah pacaran. Hanya saat pacaran Ifa tidak sampai kebobolan.


\=======================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta