BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
TEMUAN BARU PAK ISKANDAR



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\================================================================


FLASH BACK ON


Yulia baru saja selesai melahirkan, papanya pulang untuk mengambil baju gantinya karena siang tadi mereka berangkat ke rumah sakit tanpa membawa apa pun. Dia hanya berdua dengan mamanya saat kedua mertuanya masuk mengunjunginya sambil membawa bingkisan buah.Setelah tanya basa basi proses masuk rumah sakit hingga melahirkan, pak Iskandar langsung bertanya pada Yulia tentang perjanjian pranikah poin nomor 4.


“Saya datang hanya mengingatkan bahwa anak saya akan menceraikan kamu setelah anak kamu lahir. Saya mau tanya, untuk perjanjian pranikah poin 4 kamu akan ambil jalur yang mana, merawat bayimu atau menyerahkan hak asuh itu ke tangan saya?” tanya pak Iskandar.


Tanpa pikir panjang dan minta pendapat mamanya, Yulia langsung menjawab “Saya akan menyerahkan hak asuh itu pada bapak.”


“Saya beri kamu waktu 24 jam agar kamu bisa berpikir tenang dan membuat keputusan yang tepat. Besok saya akan datang lagi,” pak Iskandar lalu meninggalkan ruangan itu.


Esoknya pak  Iskandar datang sendiri tanpa ditemani istrinya. Dari istrinya, pak Iskandar sudah mendengar kalau Yulia sama sekali tidak mau memegang bayinya dan tak mau saat diminta memberikan colostrumnya (ASI yang pertama keluar).


“Apa jawabanmu?” tanya pak  Iskandar, saat itu ada papa dan mama Yulia diruangan itu.


“Saya tetap akan menyerahkan bayi itu pada Bapak,” jawab Yulia tegas tanpa ragu sedikit pun.


“Baca perjanjian serah terima hak asuh ini, bila kamu setuju besok pagi anak saya akan menyerahkan uangnya,” pak Iskandar memberikan selembar kertas yang sudah bermaterai. Isi surat itu tentu saja nama dan alamat lengkap Yulia berikut NIK nya yang menyatakan memberi hak asuh bayi perempuan yang baru dilahirkannya pada nama dan alamat lengkap pak Iskandar sebagai pihak kedua dan dibawah tertera nama saksi yaitu mama dan papa Yulia.


Tanpa ragu Yulia langsung menanda tangani surat penyerahan hak asuh tersebut, di lanjutkan tanda tangan pak Iskandar sebagai pihak kedua lalu mama dan papa Yulia sebagai saksi.


“Besok anak saya akan memberikan uang cash pada kamu, namun kamu harus menandatangani kwitansi sebelum uang itu kamu terima, karena saya tak ingin dituduh memaksa anda.” pak Iskandar tegas menggaris bawahi kata tak ingin dituduh memaksa Yulia.


“Baik” jawab Yulia ringan tanpa beban. Dia sangat senang esok akan mendapat uang sebesar 150 juta rupiah.


“Saya merekam semua pembicaraan kita sejak kemarin. Jadi saya mempunyai bukti kuat kalau kamu menyerahkan bayi itu tanpa paksaan,” pak  Iskandar seperti biasa langsung keluar ruangan itu sambil membawa map penyerahan hak asuh bayi Aira.


“Jadi kamu dan Aurel enggak perlu takut Aira akan pindah tangan. Dengan surat perjanjian serah terima hak asuh serta kwitansi dan rekaman dua tahun lalu, besok kamu bisa urus adopsi Aira dari tangan ayah ketanganmu dan Aurel,” jelas pak Iskandar pada anaknya.


“Tapi Ayah memanggilmu bukan karena ada kasus Yulia datang ke rumah. Ayah memanggilmu karena team Ayah menemukan sedikit titik terang tentang awal jebakan Yulia padamu,” cetus pak Iskandar.


“Maksud Ayah apa? Kenapa sudah lama baru ada titik terang?” tentu saja Radit kaget akan info terbaru dari ayahnya.


“Apa kau ingat amang boru pernah datang ke kantormu sekitar tiga tahun lalu?” selidik ayah Radit.


“Aku lupa, tapi pernah pagi-pagi datang, lalu enggak lama aku tidur dan bangun sudah sore, amang boru sudah pulang karena kelamaan nunggu aku bangun kata sekretarisku yang lama Yah,” jelas Radit.


Pak  Iskandar mengambil amplop coklat dari meja kerjanya dan diperlihatkannya photo-photo yang diberikan Yulia pada Radit saat meminta pertanggung jawabannya dulu. “Perhatikan baik-baik, dimana photo itu dibuat!” perintah pak Iskandar pada putra tunggalnya itu.


Namun Radit tidak menemukan petunjuk apa pun, atau mungkin dia malas memperhatikan photo itu karena mengingatkan kisah pahitnya saat melihat Aurel terluka di kantin.


“Abang enggak lihat petunjuk apa pun Yah,” katanya menyerah.


“Photo itu dibuat disofa ruang kerjamu!” tukas pak Iskandar.


“Ayah menduga amang borumu datang ke kantormu lalu kalian minum kopi atau teh yang dibawakan oleh OB. Enggak lama kamu tidur dan photo-photo itu di buat di sana. Setelah selesai photo kamu kembali dipakaikan baju lengkap dan didudukkan kembali ke kursimu dan kamu tidur di kursi hingga sore,” jelas pak Iskandar tenang


“Apa motivasi amang boru melakukan itu?” tanya Radit bingung. Dia cukup kaget mendengar perkiraan ayahnya.


“Sudah empat tahun amang boru minta agar kakekmu membagi waris perusahaan untuknya. Namun kakek dan ayah Mirna tidak setuju. Ayah Mirna tidak meminta bagian untuk istrinya, dia hanya berharap bila dia tiada ketiga anaknya diperhatikan oleh kita, itu pun dia tidak meminta hitam atas putih,” jelas pak Iskandar lagi.


“Sebenarnya kakek sudah membagi dua kebun kelapa sawit di Sibolga untuk amang boru dan pamanmu ayah Mirna. Jatah ayah Mirna dia jual dengan setengah harga pada amang boru dengan alasan dia tidak bisa menangani kebun sawit itu. Jual beli itu pun di ketahui kakek serta mama Mirna,” jelas ayah Radit.


“Perusahaan adalah jatah ayah sebagai anak laki-laki kakek. Namun ayah memang enggak minat. Maka sejak kamu SMP ayah sudah bilang yang akan memimpin perusahaan menggantikan kakek adalah kamu. Namun rupanya amang boru enggak puas, dia ingin menggoyangmu dengan memasukkan orang-orangnya melalui Yulia ketika dia jadi istrimu,” pak Iskandar menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


“Itu sebabnya ayah enggak mengakui Yulia sebagai menantu dengan membolehkannya memposting tentang pernikahan kalian. Ayah juga enggak membolehkan dia memegang surat nikah atau surat cerai karena takut dia mengcopynya. Dan ayah menyuruhmu menekannya enggak datang ke kantor agar dia enggak bisa mencari data yang diinginkan oleh amang boru,” Radit baru tahu info ini. Selama ini dia tak taahu kalau Yulia ingin mengacak-acak kantornya karena bekerja sama dengan amang borunya.


“Papanya Yulia pernah meminta ayah untuk mempekerjakan keponakannya di kantormu walau hanya sebagai office boy karena dia bilang keponakannya sangat butuh kerja. Namun saat ayah mau masukkan ke cleaning service kantor ayah atau ke rumah sakit ibu dia enggak terima, maunya di kantormu. Kan makin mencurigakan,” kembali pak Iskandar menarik nafas mengingat kejadian itu.


“Maka sejak kamu menikah ayah mewanti-wanti ibu agar enggak usah kasihan sedikit pun pada Yulia. Kau tahukan ibumu orang yang paling cepat iba pada orang. Apa lagi pada perempuan yang telah resmi jadi mantunya. Tentu saja ibumu pasti akan membantu apa pun yang diminta Yulia, maka dengan terpaksa ayah beritahu kalau ayah curiga pada Yulia.”