BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AMANAT AHMAD UNTUK BUDE KURNIA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku beruntung,” Dennis bergegas ke bandara. Dia dapat penerbangan terakhir ke Jakarta malam ini. Tak menunggu esok hari. Dia ingin menghibur perempuan yang sudah menjadi buah pikirnya sejak order proyek Jogja pertama dulu.


Beberapa kali dia melihat Wina mendampingi Aurel. Sejak Radit masih hidup. Saat itu dia belum terobsesi pada Wina, karena saat itu fokusnya masih pada Aurel. Hingga saat pernikahan Rajev dan Aurel lah semua rasa untuk Aurel gugur berganti menjadi rasa sayang terhadap adik saja.


Dan rasa cinta pada sosok perempuan beralih pada sosok Wina. Seorang perempuan yang saat ini sedang berduka. Dennis bukan bahagia karena batu sandungannya tiada, dia malah ikut sedih karena Wina berduka.


Belajar dari meninggalnya Radit dulu, batu sandungan mendapat Aurel tak langsung gugur dengan meninggalnya Radit. Malah berganti lebih besar karena anak-anak Radit memang hanya mencintai Rajev.


Jadi sekarang Dennis juga tak berharap Wina akan dia dapatkan. Dia hanya akan menjadi teman saat Wina terpuruk. Itu saja. Tak ingin berharap terlalu muluk agar bila jatuh tak terlalu sakit. Cukup dia sakit ketika kalah kedua kali mendapatkan Aurel saja.


Tengah malam Dennis sampai di hotel terdekat dengan rumah Wina. Dia tak ingin langsung ke rumah duka. Tak mungkin juga tas pakaiannya dia bawa-bawa ke rumah Wina kan? Dia berupaya tidur.


‘Aku harus pasang alarm dengan tiga waktu berbeda dan ponsel harus aku jauhkan dari jangkauan, agar begitu bunyi tidak otomatis aku matikan,’ batin Dennis. Walau sebagai muslim dia biasa salat Subuh, tapi bila kelelahan dia juga sering terlambat bangun. Itu sebabnya dia tak mau spekulasi.


Dia charge ponselnya. Juga power banknya agar besok aman. Lalu Dennis segera tidur.


***


“Kalian berangkat jam berapa?” tanya Kakek yang sejak semalam telah tiba di rumah Aurel.


“Kami dari pagi Kek, karena kan menemani Wina. Kakek mendekati keberangkatan jenazah dari rumah saja biar tidak terlalu cape. Ibu juga,” sahut Aurel.


“Rencananya jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman jam sebelas,” lanjut Aurel. Mereka sedang sarapan. Dan habis ini Aurel akan berangkat.


“Iya, jam sembilanan lah kami berangkat,” jawab ibu Tarida.


“Dari pemakaman kami langsung pulang saja ya Rel,” Kakek memberitahu Aurel.


“Iya Kek. Kakek dan ibu langsung pulang aja. Rel akan menemani Wina dulu,” sahut Aurel.


***


“Sing sabar yo Nduk,” Kurnia yang sejak semalam menemani Wina mengajak Wina bangkit meninggalkan pemakaman Ahmad.


“Insya Allah Wina akan sabar Bude. Maafkan kesalahan mas Ahmad ya Bude,” sahut Wina. Dia lalu teringat telepon terakhir Ahmad berkaitan dengan surat untuk budenya.


“Bude. Kemarin siang saat jam makan. Mas Ahmad telepon Wina. Dia bilang kalau dia pulang telat, Wina harus kasihin surat yang dia bikin buat bude. Wina enggak tahu kalau itu telepon mas Ahmad yang terakhir. Tapi sejak kemarin Wina belum cek surat itu. Karena saat sampai rumah, rumah kan sudah dikosongin. Nanti sampai rumah ingetin amanat itu ya Bude. Karena itu amanat terakhir mas Ahmad untuk Wina,” Wina bangkin dipapah kakak kandung mertua lelakinya.


“Owalah. Surat opo tho Win?” tanya bude. Kurnia sadar walau dia datang sejak semalam, tapi Wina lupa pesan itu karena sedang berduka.


Wina tidak satu mobil dengan keluarga Ahmad yaitu Sukri bapaknya Ahmad, Nurul ibunya Ahmad dan Krismi adiknya Ahmad. Sejak berangkat dia dalam ambulans dan sekarang dia dalam mobil Yon dengan bude Kurnia dan Murti.


***


“Mbak,  aku tahu Mbak sulit makan, tapi harus dipaksa. Ayok makan dulu barenag yang lain,” Murti membujuk Wina untuk makan siang setelah mereka kembali dari pemakaman.


Namanya ada orang meninggal semua barang dikeluarkan. Jadi meja kecil itu juga sudah keluar dari ruang tamu.


“Ono opo Win?” tanya Sukri ayah mertuanya.


“Sebelum meninggal mas Ahmad telepon Wina, dia bilang ada surat untuk bude Kurnia di laci meja kecil di ruang tamu Yah,” sahut Wina.


Saat itu yang ada di rumah hanya kerabat dekat Ahmad dan Wina, Aurel dan Rajev, Murti dan Yon. Reza karena sejak pulang kantor kemarin tidak pulang maka selesai pemakaman dia langsung Aurel suruh pulang.


“Ini Bude,” Wina menemukan surat dalam amplop coklat cukup besar yang cukup tebal. Dia serahkan amplop yang jelas tertera tulisan Ahmad berbunyi KAGEM BUDE KURNIA ( untuk bude Kurnia ).


Kurnia membawa amplop itu masuk. Dia duduk karpet yaang memang masih digelar dan bersandar didinding. Sebelah kanannya duduk Krismi adik Ahmad, dan sebelah kirinya Nurul adik iparnya.


Wina sengaja menjauh, tak ingin kehadirannya mengganggu keluarga Ahmad yangs edang berkumpul.


Pelan Kurnia membuka benang yang melilit bulatan sebagai penutup amplop. Isi ampop ada dua lembar tulisan tangan Ahmad dan amplop putih panjang tertutup.


“Assalamu’alaykum bude cantikku.”


“Kalau Bude baca surat ini, aku pasti sudah enggak bisa ditemui. Surat ini aku bikin tanggal … ( ternyata satu minggu yang lalu ). Aku tahu aku wajib nulis surat ini untuk melindungi istriku dari siapa pun.”


“Bude, sejak aku bujang aku tahu aku sakit, tapi aku enggak berani periksa. Andai sejak dulu aku periksa, tentu Wina tak akan tersiksa oleh tekanan dari ibu.”


“Saat Wina memaksaku periksa kesuburan, aku baru berani periksa kesehatanku. Aku periksa tanpa sepengetahuan Wina.”


“Hasilnya aku pontiff kena kanker prostat stadium akhir.”


“Bude, aku mau tinggalin pesan buat Bude, karena aku taahu hanya bude yang ibu takuti. Kalau aku tidak ninggalin pesan ke bude, aku yakin Wina akan kembali ditekan ibu.”


“Aku sudah bikin surat kuasa di notaris kalau rumah dan mobil hak penuh Wina. Tolong bude awasi agar Wina tidak diganggu. Aku belum pernah membahagiakan Wina. Aku enggak ingin sepeninggalku dia kembali tersiksa.”


“Bude. Aku juga berpesan pada Wina, kalau dia hanya boleh berkabung selama 40 hari sejak aku pergi. Dan di hari ke 100 aku mau dia sudah ada pendamping hidup. Jadi kalau Wina melakukan pesanku, aku minta bude jadi tamengnya kalau yang dia lakukan bukan karena dia genit, tapi karena itu amanatku.”


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta