BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SURAT UNTUK WINA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Aku tak ingin Wina lama terpuruk dan aku enggak mau Wina dibully orang.”


“Titip salam hormat untuk pakde Gembong dan mohon maaf atas semua kesalahan Ahmad. Sekali lagi titip Wina ya Bude.”


Kurnia menangis membaca surat Ahmad tersebut. Dia melipatnya baik-baik. Lalu dia buka amplop putih yang ternyata berisi copy surat notaris bahwa rumah dan mobil yang memang sudah atas nama Wina tak boleh ada yang mengganggu gugat bila dia meninggal.


Dalam amplop putih  juga ada copy hasil pemeriksaan kesehatan Ahmad yang selama ini dia sembunyikan.


“Ini amanat Ahmad untukku. Siapa yang ngutak ngutik Wina akan berhadapan denganku dan suamiku,” bude Kurnia menyerahkan surat Ahmad pada suaminya. Dia tahu Ahmad takut meninggalkan Wina bila dia tak membuat surat seperti itu karena bisa saja Nurul meminta rumah dan mobil dijual lalu hasilnya dibagi dua. Kurnia lalu ke belakang meninggalkan adik dan adik iparnya.


Nurul dan Krismi yang tadi membaca selintas surat Ahmad hanya terdiam. Sedang Sukri tak tahu apa maksud kakak perempuannya. Dia mau melihat isi surat Ahmad yang dipegang kakak iparnya tentu tidak berani.


***


Tiga hari sudah Ahmad meninggal. Tatanan perabot sudah kembali seperti semula. Wina tinggal dirumah ini bersama tantenya. Saudara sepupu ibunya yang juga tinggal sendiri karena suaminya sudah meninggal sedang anak serta menantu dan cucunya tinggal di Sumatera.


Semua saudara menyarankan sementara bulek Ratmi menemani Wina karena tak enak pandangan masyarakat saat ada tamu yang datang menemui Wina.


Hari ini Wina berniat mulai bersih- bersih barang Ahmad agar ingatannya pada mendiang suaminya bisa sedikit berkurang. Dia ingin mulai dari meja tulis di kamar mereka yang biasa mereka gunakan gantian bila harus lembur mengerjakan tugas kantor di rumah.


Wina membuka laci, disana terlihat amplop coklat besar, tidak sama dengan yang dia berikan untuk bude Kurnia. Yang untuk bude Wina ukuran amplop separo folio. Yang untuknya amplop besar seukuran folio. Tulisan besar di amplop adalah UNTUK WINA ISTRIKU TERCINTA.


Wina kaget, baru tahu ada surat dari Ahmad, karena suaminya tak memberitahu tentang surat ini. Hanya surat untuk bude Kurnia yang Ahmad beritahu padanya.


“Assalamu’ alaykum sayankku. Maaf kalau Mas meninggalkanmu. Tapi ini memang sudah garis yang harus kita lalui.” Wina langsung menangis membaca kalimat awal surat almarhum suaminya.


“Mas tahu, setelah ibu enggak ada, hanya Mas yang kamu punya. Tapi Mas juga harus tinggalin kamu. Untuk itu Mas wanti-wanti padamu, lakukan amanat Mas, karena Mas enggak mau kamu sendirian.”


“Mas sangat mencintaimu. Dan kalau kamu juga mencintai Mas, please lakukan semua ini. Pertama Mas minta masa berkabungmu cukup 40 hari saja. Selebihnya kamu harus bangkit.”


“Kedua, kalau kamu cinta pada Mas, kamu enggak boleh hidup sendirian sesudah 100 hari kepergian Mas. Saat itu kamu harus membuka hatimu untuk pendamping baru, agar Mas bisa tenang meninggalkanmu. Please lakukan hal ini untuk Mas. Buka hatimu untuk pendamping baru.”


“Hanya itu pesan Mas. I love you so much kupu-kupu kecilnya Mas. Kamu ingat kan panggilan kupu-kupu kecil?”


“Mas sudah buat surat mandat di notaris bahwa rumah dan mobil mutlak milikmu. Bila kamu jual karena ingin menghilangkan kenangan kita, kamu tak perlu membaginya dengan siapa pun.”


“Semua hak sebagai janda juga sudah Mas urus di kantor. Semua barang Mas di kantor sudah Mas bawa pulang semua. Kamu enggak perlu repot akan hal itu."


“Sekali lagi Mas tak ingin kamu terlalu lama sendiri, ingat itu. Kalau kamu cinta sama Mas, lakukan yang Mas minta."


“I love you Wina. I love you more than anything. Suamimu tercinta. Ahmad,”


‘Pantas kamu sengaja selalu bikin foto kita berdua selama di Lampung. Dan kamu sepanjang hari selalu mengatakan kamu mencintaiku. Ternyata kamu sudah tahu jadwal keberangkatanmu Mas,’ pikir Wina.


‘Amanat pertamamu aku akan coba, hanya boleh berkabung maksimal 40 hari. Tapi amanat keduamu rasanya berat Mas. Bukan aku tak mencintaimu. Tapi apa pandangan orang bila sebagai janda aku langsung menjalin hubungan baru dengan orang lain?’ Wina tak ingin dipandang janda genit.


***


“Lho Win, ngapain kamu udah masuk kerja?” Aurel menegur Wina yang sudah berada dikantor. Ahmad baru meninggal delapan hari.


“Saya bengong Bu kalau di rumah. Saya bisa stress sendirian. Kadang enggak sadar nunggu telepon atau pesan dari mas Ahmad. Kadang saya lupa ingin menghubunginya lebih dulu. Jadi lebih baik saya ke kantor. Walau mungkin belum bisa full konsentrasi. Tapi setidaknya saya tidak sendirian,” sahut Wina jujur.


“Saya ngerti. Karena waktu Radit meninggal saya juga seperti itu. Walau ada anak-anak, tapi sepertinya semua sudut, semua benda mengingatkan kita pada dia. Maka memang sebaiknya pindah rumah agar tidak terlalu sedih ingat dia. Karena kakek kan juga seperti itu. Dulu ayah saya juga gitu. Kami pindah rumah walau hanya bergeser tiga rumah dari rumah lama. Tapi setidaknya suasananya beda,” sahut Aurel.


Aurel langsung masuk ke ruangannya. Yon dan Murti sedang ke Majalengka sejak dua hari lalu. Hari ini Reza bilang Dennis akan datang makan siang dengan Reza dan Reza mengundang Aurel ikut bergabung dengannya.


“Eh lupa, Win, mas Reza bilang siang ini diundang makan siang dengan mas Dennis. Kamu bisa ikut enggak? Saya sih pengennya enggak keluar makan, tapi di kantor kita aja. Coba hubungi mas Reza deh,” Aurel dengan team memang seperti itu. Dia tak akan menyebut Pak untuk Reza dan Dennis.


“Baik Bu,” sahut Wina cepat.


***


“Wah, coba kamu langsung hubungi pak Dennis. Mau enggak dia kalau kita ubah lokasi makannya. Saya takutnya dia sudah booking rumah makan,” sahut Reza. Tadi sebelum menyuruh Wina menghubungi Dennis, Reza juga menegur mengapa Wina sudah masuk kerja saat masih berkabung.


“Baik Pak,” sahut Wina cepat


Dan seperti Aurel dan Reza, Dennis juga bertanya mengapa Wina sudah langsung masuk kerja. Setelah Wina memberi alasan, baru Dennis mengerti.


“Coba kamu tanya bu Aurel, kalau saya ajak ke Abuba steak dia masih ngotot buat makan dikantor enggak,” sahut Dennis. Dennis berharap Wina juga ikut makan dengannya dan Aurel.


“Kenapa enggak Bapak aja yang tanya langsung ke bu Aurel?” tanya Wina.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta