BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SADAR



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=============================================================================


Setiap mereka hanya berdua Aurel memang selalu bercerita apa pun pada suaminya. Dia juga selalu menyatakan cintanya. Dia selalu memberitahu Radit kalau Aira mengirim cium untuk Papapnya. Aurel pernah mendengar, walau tak sadar, pasien koma bisa mendengar suara disekitarnya. Itu sebabnya dia selalu bercerita apa pun untuk suaminya.


Sejak Aurel bersikeras menunggu Radit full day,  ibu Tarida memindahkan Radit ke ruang khusus yang bed pasiennya bisa untuk berdua sehingga setiap malam Aurel bisa tidur memeluk suaminya. Bukan tidur dengan bed terpisah.


“Mama harap di pemeriksaan Dede berikut Papap bisa ikut dengar ya detak jantung Dede. Cepet bangun dong Pap,” bisik Aurel. Dia kecup pipi suaminya lalu dia pun ikut berbaring untuk istirahat. Dipegangnya jemari Radit dan seperti biasa dia geser-geser di perutnya, setiap malam dia selalu menggeser jemari Radit langsung diperutnya tanpa terhalang baju. Dia menginginkan baby dan ayahnya selalu berinteraksi sejak dalam kandungan.


“Paaaaaap!” pekik Aurel tercekat merasakan jemari  Radit bergerak mengelus sendiri saat Aurel letakkan diperutnya. Padahal saat itu Aurel belum menggeser tangan Radit.


Aurel memandangi wajah Radit dengan seksama, di lihatnya Radit mulai membuka matanya perlahan.


“Alhamdulillaaaaaah” ucapnya lirih lalu dia langsung menekan bell untuk memanggil petugas jaga.


Aurel mencium tangan suaminya sambil terisak dan mengucap hamdalah berulang-ulang. Penantian panjangnya 40 hari sejak Radit koma di rumah sakit berakhir manis, suaminya tersadar dari tidur panjangnya.


“Mam, haus,” desah Radit lirih setelah dokter dan para perawat meninggalkan ruangan untuk memeriksa keadaan Radit pasca koma.


Aurel segera menyiapkan air putih hangat untuk Radit dan memberikan sedotan agar Radit mudah meminumnya. Dia buat photo saat Radit sedang minum lalu dia kirim photo tersebut pada ibu Tarida, Bagas, Mirna dan Vino. Dia pun meminta agar ibu mengabari kakek tentang kondisi terkini Radit.


Tanpa menunggu lama semua langsung menghubungi Aurel. Mereka ingin tahu kondisi Radit. Tapi semua telepon langsung di reject oleh Aurel. Dan dia langsung mengirim pesan tak bisa menerima telepon karena akan mengurusi Radit yang butuh makan.


“Mau makan?” tanya Aurel. Sudah terlalu malam, tentu dia harus cari bubur di cafetaria bila Radit ingin makan. Aurel berpikir tentu suaminya lapar setelah 40 hari perutnya tidak  pernah terisi.


“Ada apa?” tanya Radit bertanya apa yang bisa dia makan.


“Regal celup teh ya? Perut Papap lama kosong, enggak boleh kaget di isi makanan keras. Sedang hari gini enggak mungkin minta bubur saring ke dapur rumah sakit,” jelas Aurel dengan sabar dan lembut


Radit mengangguk “Papap lama enggak sadar? Tadi dokter bilang gitu. Berapa lama?” tanya Radit saat melihat Aurel sedang membuat teh madu dan mencampurnya dengan empat keping marie di piring.


‘Ini yang aku takutkan, aku sendirian menghadapi Radit yang baru sadar dan dia akan bertanya tentang dirinya dan juga ayah.’ Aurel tentu berpikir panjang apa jawaban yang akan dia berikan agar Radit tidak shock mendengar fakta tentang ayahnya.


“Cukup lama, Papap terlalu nyenyak bobonya,” goda Aurel.


“Ayo buka mulutnya, sedikit dulu aja ya, ini Adek bikinin empat keping aja buat perkenalan. Perut Papap udah kosong empat puluh hari.”


Radit terhenyak, ternyata dia koma selama empat puluh hari “Selama ini Mama sendirian disini?” tanya Radit.


“Berdua,” jawab Aurel sambil senyum manis.


“Berdua? Dengan siapa?” tanya Radit sambil mencari siapa yang biasanya menemani Aurel menjaganya.


Aurel memegang jemari Radit dan membawanya ke perutnya “Mama jaga Papap berdua Dedek.”


“Dedek? … Serius?” tanya Radit sambil mengusap perut istrinya.


Aurel hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.


“Harusnya enggak boleh begitu. Kamu harus jaga kesehatanmu di rumah, istirahat yang bener. Bukan malah nemani Papap di sini,” desah Radit. Dia sedih saat istrinya hamil dia malah sakit sehingga istrinya kepaksa berkorban untuknya.


“Jangan mulai posesive, Dedek enggak rewel, dia senang selalu nempel Papap. Disini juga Mama tiap hari enggak cape dan tidur selalu berdua Papap. Bukan tidur di sofa atau tempat tidur penunggu. Kalau Mama di rumah malah stress enggak tau perkembangan Abang tiap saat dan enggak bobo meluk Abang,” sahut Aurel. Dia sudah harus mulai menerima sifat posesif suaminya lagi.


“Minum habiskan tehnya lalu minum obat yang barusan diantar suster ya,” pinta Aurel untuk menghentikan marahnya Radit..


Sesudah semua selesai Aurel mematikan lampu ruangan dan membiarkan satu lampu diujung saja yang menyala, dia pun berbaring di sisi suaminya. Dikecupi pipi suaminya dengan lembut.


“Mam, Ayah dimakamkan dimana?” tanya Radit pelan. Ada getir luka disuaranya.


“Papap tau ayah meninggal?” tanya Aurel, padahal sejak tadi dia menghindar cerita karena tidak  tahu harus jawab apa bila Radit menanyakan kondisi ayahnya.


“Ayah pamit sebelum pergi dan Papap masih bisa menuntunnya baca syahadat,” jawab Radit lirih. Dia sangat ingat kalimat terakhir ayahnya. Yang memberi mandat menjaga ibunya, Aurel dan Aira dengan sepenuh hati. Seperti yang selama ini ayahnya lakukan.


“Ya udah sekarang Papap tidur ya, biar besok fresh,” bujuk Aurel sambil memeluk erat suaminya.


“Papap pengen cium Dedek,” pinta Radit dengan sangat.


“Aduuuuh, gimana caranya?” tanya Aurel bingung mendengar kemauan suaminya.


“Mama duduk sini dekat kepala Papap, biar Papap cium Dedek,” air mata Radit bergulir. Dia sedih mengetahui kehadiran anaknya saat dia tak sadar.


Aurel pun beringsut mendekati kepala suaminya, disibakannya kaos atasan baby doll nya dan celana baby dollnya agak diturunkan agar suaminya bisa leluasa mencium perutnya.


“Assalamu’alaykum Dedek, ini Papap. Maaf ya baru menyapamu, sehat terus ya Nak,” Radit menangis sejadi-jadinya sambil menciumi perut Aurel dan mengusapnya juga. Dia tak menyangka menerima anugrah besar saat sedih kehilangan ayahnya.


Aurel ikut menangis dan mengelus rambut suaminya yang terlihat mulai gondrong. “Udah jangan sedih gitu. Kasihan Dedek kalau dengar Papapnya sedih,” hibur Aurel


“Besok Dedek bisa dengerin Papap ngaji ya, biar enggak bosen, selama ini cuma dengar Mama ngaji buat Dedek.” tukas Aurel. Dia pun juga sedih melihat suaminya lemah seperti ini. Tapi berupaya tetap tegar.


“Ya, Papap akan selalu ngaji buat Dedek,” balas Radit, dia menarik tengkuk istrinya agar mendekat pada dirinya.


Aurel mengerti keinginan Radit, dia beringsut menjauh agar bisa berbaring disisi suaminya kemudian baru mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Dikecupnya bibir suaminya dengan lembut, “Sekarang bobo ya, biar Papap cepat pulih.”


“Papap habis tidur lama, masa suruh tidur lagi? Kita ceritaan dulu ya,” rengek Radit pada Aurel.