BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAKAK MEMBUATNYA BERMIMPI DAN ITU AKU ENGGAK SUKA!



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Kalau gitu aku aja yang telepon kamu, aku kan pakai pulsa pasca bayar,” jawabku. Kasihan kalau dia besok harus bingung beli pulsa dulu.


“Ha ha haa … pulsaku juga pasca bayar koq Kak, jadi enggak masalah. Lagian kalau telepon malam kan enggak mahal,” jawabnya. Dia berhasil menggodaku.


Baru kali ini kudengar dia kembali dengan nada santainya seperti saat dia belum kembali dengan Radit dulu. Aurel yang ceria milikku sudah kembali. Aku cukup bahagia melihat perubahan sikapnya saat ini.


Kami ngobrol hingga dia minta berhenti karena sudah terdengar pengajian sebelum adzan subuh di Indonesia.


“Kak, sudah hampir subuh. Cukup dulu ya obrolan kita,” katanya.


“Owh ok, nanti habis subuh kamu langsung bobo ya, aku enggak mau kamu sakit,” pintaku.


“Ok boss, Kakak juga ya, jangan kurang tidur dan jangan sakit. Miss you Kak,” katanya dan sebelum aku membalas ungkapannya dia sudah memutus sambungan telepon kami.


Aku langsung mengirimi chat “Love you so much my sweet heart.”   Usiaku memang bukan remaja lagi. Tapi aku memang baru merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Jangan salahkan diriku yang ingin meneguk madu ini dengan lahap.


RAJEV END POV


Hari ini Aurel berangkat agak siang, dia tidak ke kantor, karena berniat ketemu Dennis dan teamnya pada jam sebelas agar begitu selesai mereka akan makan siang bersama. Dia sudah meminta Wina dan Reza menjemputnya di rumah, sehingga dia tidak perlu membawa mobil. Pagi tadi dia menyempatkan mengantar Aira ke sekolah. Duduk sebentar bersamanya diayunan sekolahnya dan mengantarnya masuk kelas.


“Mama habis ini kerja?” tanya putri kecilnya polos.


“Iya cantik, Mama kerja,” jawab Aurel lembut. Anak sekecil ini sudah merasakan kehilangan sosok ayahnya.


“Uppa bilang kalau Uppa sudah selesai kerja dia akan datang dan main dengan kakak dan ade Darrel,” Aira memberitahu Aurel suatu rahasia besar.


‘Rupanya itu yang dibisikan kak Rajev padanya saat dia menangis,’ terka Aurel dalam hatinya.


UPPA?


Kak Rajev menyebut dirinya uppa kepada Aira? Aurel kembali terngiang kata-kata Aira barusan.


Damn, ini masih jam 3.30 di Qatar. Kak Rajev belum bangun. Aku akan langsung meneleponnya saat dia mengucapkan selamat pagi padaku. Aurel kesal karena baru tau saat ini.


Dia mengemudikan mobilnya perlahan dan sengaja berhenti di pasar. Dia berbelanja aneka buah dan sayur segar juga ikan baru dia pulang. Wina sudah mengabari kalau dia on the way kerumahnya.


‘Good morning my love”,’chat Rajev, Aurel terima jam sembilan pagi WIB. Tanpa membuang waktu Aurel menghubungi Rajev.


“Mbak Yuni, tolong Darrel ditemani, saya telepon dulu sebentar,” pinta Aurel, dia sedang mengawasi Darrel main bola di halaman belakang rumah. Lelaki kecil itu tentu tak boleh lepas dari pengawasan.


Rajev tidak menyangka sapaan selamat paginya kali ini di balas dengan telepon oleh kekasih hatinya.


“Assalamu’alaykum my love, tumben kamu telepon,” sapa Rajev senang.


“Wa’alaykum salam. Kakak janjikan apa ke Aira?” tanya Aurel to the poin.


“Hei hei, kamu kenapa?” tanya Rajev, karena dia tidak tau alasan pagi ini dimarahi kekasih hatinya itu.


“Tadi Aira bilang uppa nya akan datang bila uppa sudah selesai kerja!” Aurel sengaja menggantung kalimatnya.


“Apa aku salah?” tanya Rajev santai.


“My love jangan marah. Aku enggak kasih dia harapan palsu. Bukankah minggu depan aku sudah berada di sisi kalian di Jakarta?” balas Rajev tenang.


“Tapi saat itu Kakak bilang kalau kemungkinan Kakak akan ditempatkan di Bontang atau Cilacap. Artinya kan enggak setiap saat ada di sisinya,” protes Aurel masih dengan nada marah.


“Setidaknya setiap hari Jum’at malam aku bisa di Jakarta dan kembali kerja hari Senin pagi kan?” Rajev mencoba menerangkan alasannya saat itu.


Aurel bisa menerima penjelasan yang Rajev berikan, dia pun langsung diam. “Kenapa diam? Masih marah?” tanya Rajev.


Pagi-pagi bukan sarapan oatmeal malah dapat omelan dari kekasih hatinya. Untung dia cinta mati sehingga tidak bikin dia bad mood, malah dia senang karena pagi-pagi bisa mendengar suara pujaannya itu.


Aurel masih terdiam, dia tidak tau harus bicara apa lagi pada pria yang mulai mengisi relung hatinya walau belum bisa menggantikan Radit itu. “Aku mendengar teriakan Darrel, apa kamu masih di rumah?” Rajev mencoba mencairkan suasana kaku karena miss understanding yang terjadi barusan.


“Iya, aku masih di rumah. Nanti jam sepuluh aku akan berangkat, sedang nunggu jemputan Reza dan Wina,” balas Aurel sambil memindahkan isi tas. Seperti biasa dia ganti warna tas sesuai warna baju yang dia kenakan.


“Ya sudah Kak, Kakak mau bersiap berangkat kerja kan?” Aurel hendak memutus sambungan teleponnya.


“Hari ini aku ke kantor imigrasi mengurus surat mutasi, lalu siang akan bertemu dengan dealer mobil untuk menjual mobilku,” jawab Rajev.


“Kamu sudah bersiap hendak berangkat?” tanya Rajev lagi.


“Iya, aku bersiap berangkat. Hari ini aku akan tanda tangan MOU,” jawab Aurel. “Aku tutup ya Kak, have a nice day.”


“Have a nice day too my love,” jawab Rajev. dengan cepat.dan diucapkan dengan penuh kelembutan.


‘Ahhhhhhhhh, aku lupa menanyakan mengapa dia menyebut dirinya uppa pada Aira. Namun kan tidak salah juga, karena dia membiasakan menjadi ayahnya Aira.’ Aurel menyesal belum sempat menanyakan panggilan uppa yang Rajev sematkan untuk dirinya pada anak-anak. Namun dibantahnya sendiri pikiran itu, nanti saja lah kalau dia berhadapan langsung saja.


***


Dennis Surya Pranata tidak menyangka Aurel yang dulu sangat dicintai Rangga menjelma menjadi perempuan tangguh nan dingin. Dia tidak menduga perempuan sederhana adik kelasnya di S2 menjadi sangat berbeda, berubah menjadi perempuan pengusaha besar tapi tetap sederhana, walau kecerdasannya sangat menonjol dari kata-katanya yang selalu tepat sasaran dan selalu bernas.


Dennis sadar mengapa Rangga tidak mampu mengejar perempuan itu, bukan karena sosok Radit yang memang levelnya jauh dari level dirinya dan Rangga. Namun sosok Aurel sendiri pun bukan hanya mendompleng nama besar Radit lalu meneruskannya. Di bawah kepemimpinan Aurel perusahaan memang makin bercahaya. Kalau hanya mendompleng nama besar Radit, tentu seiring berjalannya waktu perusahaan akan meredup setelah kematian Radit.


“Senang dapat bekerja sama denganmu Rel, semoga kita bisa selalu saling menguntungkan,” Dennis menjabat tangan Aurel setelah mereka masing-masing membubuhkan tanda tangan pada lembar MOU.


“Sama-sama Kak, semoga kerja sama ini berjalan baik,” jawab Aurel senang.


***


 ================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta