
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Aurel meletakkan bawaannya di jok belakang kecuali bekal makan yang dia bawa untuk Rajev. Begitu Rajev menjalankan mobilnya Aurel membuka bekal dan dia berniat menyuapi Rajev sarapan.
“Aa!” perintah Aurel agar Rajev membuka mulutnya. Rajev tak menduga akan mendapat perlakuan manis seperti ini. Dia pun membuka mulutnya dengan suka cita.
Aurel membasuh mulut Rajev dengan tissue basah dan memberikan botol air putih. Selesai sudah, satu porsi mie goreng sea food ludes dimakan bayi besarnya.
“Terima kasih Love,” ucap Rajev, dia membelai pipi kekasihnya dengan tangan kirinya. Aurel menangkap jemari yang berada di pipinya dan mengecupnya. Rajev tak menyangka Aurel tak marah malah membawakannya satu porsi mie goreng sea food dan menyuapinya.
“Jangan memancingku!” tukas Rajev cepat.
“Ha ha ha, aku hanya mengecup jemarimu saja kamu marah dan menuduhku seperti itu,” Aurel terkekeh.
“Aku enggak marah dan aku enggak menuduh karena kamu memang memancingku, kamu bisa lihat di bawah. Ada yang terbangun dari tidur panjangnya,” kilah Rajev, karena memang si kecil miliknya mulai uget-uget bergerak bangun begitu jemarinya dikecupi Aurel.
Aurel menyandarkan kepalanya dilengan kiri Rajev, sedang telapak tangan kiri Rajev sekarang dipipi kiri Aurel, lalu berpindah ke kepala Aurel dan makin membenamkan kepala tunangannya ke arahnya. “Kamu tau, tadi aku takut kamu marah karena aku menolak sarapan,” curhat Rajev.
“Hobby banget sih menduga aku marah? Semalam di apartemen juga gitu kan? Apa kamu mau aku marah beneran lagi?” tanya Aurel serius. Dia mengingat kejadian semalam saat mereka di apartemen Rajev.
“Jangan dong, kamu tahu aku paling kalang kabut kalau kamu marah. Aku tak bisa mererima kalau kamu marah,” tolak Rajev.
‘Kamu memang tukang ngambeg, tapi aku suka. Kamu tanpa ngambeg itu ibarat gula tanpa rasa manis,’ Rajev mengatakan semua ini hanya dalam hatinya saja. Mana berani dia bilang kalau dia menyukai saat Aurel ngambeg?
“Awas … di depan kita masuk rest area,” Aurel mengingatkan Rajev agar tidak kebablasan.
“Nah, hampir aku lupa kita janjian di sana,” Rajev bersyukur Aurel mengingatkannya.
Mereka sampai lebih dulu dari rombongan Reza. “Mau kopi lagi?” tanya Aurel sambil menuang sedikit kopi ke cangkir.
“Berdua aja ya,” pinta Rajev.
“Love, aku … aku,” Rajev ragu melanjutkan kalimatnya, membuat Aurel bingung dan mengangkat wajahnya dari cangkir kopinya.
“Kenapa?” tanya Aurel bingung.
“Enggak jadi,” jawab Rajev.
“Katakan, atau aku marah bila Kakak diam!” perintah Aurel karena dia penasaran apa yang akan diucapkan oleh Rajev.
“Aku ingin kembali ******* bibirmu!” akhirnya Rajev mengatakan apa yang tadi hendak dia katakan.
“Bukankah semalam sudah?” Aurel menjawab, tapi dia mencium bibir Rajev selintas. Aurel memang selalu memanjakan pasangannya selama tidak menyimpang dari ketetapan.
“Sejak kita menetapkan tanggal pernikahan banyak perubahan yang terjadi pada diriku,” ucap Rajev lirih. Aurel menyerahkan cangkir kopi pada Rajev.
“Apa aja?” selidik Aurel.
“Kamu enggak marah bila aku berkata jujur?” tanya Rajev.
“Aku malah marah bila kamu tidak jujur. Aku paling benci kebohongan,” sahut Aurel.
“Aku malu mengakuinya, tapi itu memang terjadi, aku pun tidak tahu mengapa itu semua bisa terjadi,” Rajev bingung terhadap perubahan itu.
“Sejak kita menetapkan tanggal pernikahan, si kecil yang lama dormain mulai bangkit. Dia dulu enggak pernah peduli saat aku melihat sosok hampir nude, sampai aku berpikir apa aku sudah mengidap kelainan. Sekarang saat aku mendengar suara tawamu di telepon dia sudah bereaksi.” Rajev menarik napas panjang. Serasa berat bebannya.
“Aku senang kamu mau jujur. Langkah kita menuju halal sudah semakin dekat, aku minta ulet kecilmu bisa bersabar,” bujuk Aurel sambil sekilas mencium pipi Rajev. Dia melihat mobil Reza mendekati mobilnya dan dia pun segera keluar untuk menemui team nya.
“Maaf terlambat Bu,” sapa mbak Wina.
Rupanya ada sedikit gangguan. Saat menggendong anak Reza, rok Wina kena ompol, maka terpaksa dibilas sedikit lalu disetrika baru mereka berangkat menjemput Murti. Murti memang tidak ke rumah Reza karena rumahnya terlewati bila menuju TOL Jagorawi.
“Santai aja, kita mau langsung jalan atau kalian mau ngopi dulu?” tanya Aurel.
“Langsung saja Bu,” jawab Reza.
***
Kakek senang akan kedatangan mendadak cucunya. Memang Reza dan Aurel tidak mengabari sebelumnya kalau mereka akan datang. Kakek memutuskan tidak ada pengampunan sedikit pun untuk semua yang terlibat dalam masalah Binsar dan Yulia.
“Tekan keluarga Galih. Kakek merasa selama ini pasti di luaran mereka menyebarkan kalau Iskandar adalah besannya dan Radit adalah benar-benar menantunya.” Kakek berpesan walau hanya satu tahun mereka harus merasakan menginap dalam bui agar untuk ke depannya mereka tidak bertindak semaunya.
***
Rajev, Reza dan kakek meninggalkan Aurel, Murti dan Wina di rumah karena ketiganya pergi salat Jumat. Pembicaraan mengenai kasus yaang dibuat Yulia CS sudah selesai mereka bahas sebelum berangkat salat Jumat tadi.
Ketiga lelaki itu pergi ke masjid bersama beberapa lelaki pegawai kakek Sebayang.
“Kita masak yok, tadi saya bawa ayam dan ikan mentah dari Jakarta, takut di kulkas kakek kosong. Sayuran saat baru datang tadi saya sudah suruh pembantu kakek untuk membeli, juga bumbu yang saya butuhkan,” Aurel mengajak kedua pegawainya untuk membantu dirinya masak.
Di rumah ini kakek tinggal dengan sepasang suami istri cukup umur yang membantunya. Lalu ada sopir dan tenaga serabutan yang masih muda.
“Bik, nasi sudah dimasak?” tanya Aurel. Tadi dia meminta bibik untuk masak nasi. Kakek tidak suka nasi yang dimasak dengan majic jar. Nasi di rumah ini dimasak dengan dandang tinggi yang menggunakan kukusan bambu. Bukan dandang yang kukusan dari alumunium.
“Sudah Non, sudah di’angi’ ( dibalik-balik sambil ditipasi ), dan ada di termos nasi,” sahut si bibik.
“Bawang sudah dikupas semua? Oke saya masak ya.” Aurel ingin masak capcay kuah, ayam geprek dengan sambal ekstra pedas dan ikan tuna asam manis.
Wina membantu menggoreng ayam dan Murti bagian menyiangi sayuran untuk capcay. Bibik mengulek sambal dan Aurel bergerak cepat mengolah ikan tuna goreng tepung bumbu asam manis kesukaan Rajev.
Secepat kilat masak keroyokan siap terhidang ketika para lelaki pulang dari salat Jumat di masjid.
“Kami salat Dzuhur dulu ya Kek, habis itu kita makan siang bersama,” Aurel dan Wina pamit untuk salat dzuhur, sementara Murti sedang tidak salat karena sedang kedatangan tamu bulanan.
***
\=============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : SENJA_90, DENGAN JUDUL NOVEL PAINFULL LOVE ( Cinta Yang Menyakitkan ) YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta